Rabu, 3 Maret 2021
20 Rajab 1442 H
Home / Ekbis / KNEKS Terbtikan Buku Titik Kritis Halal
Foto dok. Pexels
Daftar Referensi Bahan-Bahan yang Memiliki Titik Kritis Halal dan Substitusi Bahan Non-Halal

Sharianews.com, Jakarta – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) meluncurkan buku “Daftar Referensi Bahan-Bahan yang Memiliki Titik Kritis Halal dan Substitusi Bahan Non-Halal", Rabu (20/01).

Buku itu terbit atas kerja sama KNEKS dengan penerima penghargaan King Faisal International Prize 2018, Irwandi Jaswir dan sejumlah tim peneliti lainnya, Elvina A. Rahayu, Nancy Dewi Yuliana dan Anna Priangani Roswiem.

Buku ini memuat hasil riset bahan baku dalam industri pangan, kosmetik, obat-obatan dan bahan gunaan lainnya yang memiliki titik kritis halal, serta potensi pengembangan substitusi bahan nonhalal dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Penyusunan buku ini merupakan langkah nyata KNEKS sebagai satu instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia melalui penguatan rantai nilai halal.

Direktur Eksekutif KNEKS Ventje Rahardjo berharap buku ini bisa dijadikan rujukan bagi pelaku industri dalam melahirkan inovasi-inovasi baru terkait bahan baku melalui hasil riset oleh akademisi dan peneliti.

“Selain itu, untuk pelaku usaha dan masyarakat awam pun dapat menggunakan buku ini sebagai salah satu sumber informasi dalam memahami titik kritis halal pada bahan dan memilih alternatif bahan pengganti, sehingga bisa mempermudah proses produksi halal dan sertifikasi halal,” jelasnya.

Ilmuwan dan ahli bioteknologi Irwandi Jaswir menerangkan, buku ini berisikan daftar potensi bahan-bahan baku lokal Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk proses produksi halal dalam negeri dan menghasilkan produk bernilai tambah. Sehingga, Indonesia secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus membuka peluang ekonomi baru untuk masyarakat.

Tiga isu utama yang menjadi fokus pembahasan dalam buku ini. Pertama terkait bahan baku. Kedua, prihal processing yaitu termasuk penggunaan bahan tambah atau additives, packaging, storage, distribusi, dan aspek operasional lainnya. Ketiga, Authentication atau cara menganalisa titik kritis halal. Ketiganya saling terkait dalam jaminan produk halal dan memerlukan riset-riset dan inovasi berkelanjutan untuk realisasi pemenuhan kebutuhan industri.

“Buku ini bisa digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, akademisi, peneliti, kementerian/Lembaga, pelaku industri, perusahaan swasta, untuk semakin memahami industri halal dan mengawali inisiatif-inisiatif baru berdasarkan peran dan kompetensi masing-masing dalam menghidupkan ekosistem industri halal di Indonesia,” ungkap Irwandi.

Inisiatif tersebut dapat berbentuk program halal awareness, penguatan halal supply chain oleh UMKM, pembangunan infrastruktur, dan fasilitas penunjang kegiatan industri halal lainnya.

Direktur Industri Halal KNEKS, Afdhal Aliasar, menambahkan KNEKS akan menggunakan buku ini sebagai materi dalam merealisasikan Program Nasional Pembinaan Menuju UMKM Bersertifikasi Halal yang akan disinergikan dengan seluruh kementerian/lembaga terkait.

“Dalam program tersebut, pelaku usaha akan didorong untuk lebih memahami titik kritis halal dalam bahan baku, proses produksi, dan mendapatkan akses terhadap bahan substitusi nonhalal yang diperlukan,” ujar Afdhal.

Kedepannya bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan, KNEKS akan terus memperkuat Gerakan Indonesia memproduksi bahan baku halal yang lebih banyak lagi di Indonesia.

Rep. Aldiansyah Nurrahman

Tags: