Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Global / Kian Agresifnya Digitalisasi Keuangan Syariah
FOTO | Dok. istimewa
Dengan iming-iming kemudahan, kecepatan, minim biaya serta keamanan tingkat tinggi, teknologi digital terus mengembangkan diri di sektor pembiayaan keuangan syariah.

Sharianews.com, Jakarta.Tampaknya, kehadiran teknologi digital di hampir segala sisi keuangan syariah tak bisa dibendung lagi. Dengan iming-iming kemudahan, kecepatan, minim biaya serta keamanan tingkat tinggi menjadikan teknologi digital sebagai elemen penting dalam perkembangan dan pengembangan ekonomi Islam secara lebih luas ke depannya.

Terbaru, belum usai menuntut pengoperasian pada sektor perbankan syariah, kini sukuk atau obligasi Islam mulai diinklusi oleh teknologi digital. Makin agresifnya ekspansi elektronik di tengah-tengah kehidupan masyarakat muslim ini, membuat perusahaan pembiayaan mikro syariah Blossom Finance Indonesia berusaha merencanakan penjualan sukuk digital berbasis blockchain dalam waktu dekat.   

Menurut agenda mereka, sambil berupaya keras menarik sejumlah besar investor kecil, investasi sukuk saat ini masih diperuntukkan mendanai proyek-proyek keuangan mikro di negara mayoritas muslim, serta untuk membiayai cetak biru pengelolaan lingkungan terkait pembuangan limbah dan perluasan rumah sakit.

Pada bagian lain, Kepala Strategi Blossom Finance Indonesia Khalid Howladar mengungkapkan, walapun nantinya kesepakatan besaran nilai obligasi Islam yang dijual terbilang kecil, tetapi dengan dukungan teknologi blockchain perusahaannya menjamin pengeluaran untuk dana transaksi surat hutang syariah juga terhitung lebih ringan.

Di samping itu, sukuk melalui firma yang berkantor pusat di Amerika serikat (AS) ini juga akan menggunakan struktur pembagian laba yang merata di antara kedua belah pihak dan membawa tingkat keuntungan kurang lebih mencapai 10 persen.

Kredit tanpa bunga lewat bank digital

Dalam elaborasi mekanisme teknologi di area keuangan syariah, Blossom Finance Indonesia tidak sendirian. Bahkan, pengaplikasian elektronik khusus pada unit perbankan Islam telah lebih dulu diperluas. Sebagai contoh, Al Baraka Banking Group sudah menyediakan layanan perbankan digital (digital banking) di Jerman.

Tidak hanya menawarkan simplifikasi karena berbagai aktivitas transaksi tak perlu kembali mendatangi kantor cabang atau pun melakukan kontak fisik yang cukup menyita waktu, pengembangan inovasi oleh perbankan yang pengoperasiannya dimulai sejak 1985 ini juga menyodorkan fasilitas ‘insha’ atau pijaman bebas bunga.

General Manager Albaraka Bank, cabang Turki Meliksah Utku menuturkan, dengan memilih Jerman sebagai tempat pijakan awal dan ingin menjadikannya sebagai pusat keuangan Islam di Eropa, layanan syariah berupa digital banking miliknya akan menjadi strategi utama untuk menembus pasar ‘Benua Biru’ itu, termasuk meladeni kebutuhan finansial sekitar 20 juta Muslim yang tinggal di daerah tersebut.

Gagal di Jerman, sukses di Inggris

Sebenarnya, jika menilik tahun-tahun sebelumnya, usaha dan pada lokasi yang sama juga pernah dilakukan oleh firma pemberi pinjaman asal Turki, Kuveyt Turk, melalui pendirian perbankan Islam pada tahun 2015 di Jerman. Untuk pertama kalinya ‘Negerinya Hitler’ ini memiliki bank syariah.

Namun, target untuk menguasai Eropa dan menempatkan Jerman sebagai pintu masuk utamanya tidak pernah didapat. Sebaliknya, keuangan Islam dianggap lambat dan gagal untuk mendapatkan pijakan di daratan Eropa. Pasar yang terfragmentasi dan kurangnya peraturan khusus industri keuangan syariah di Jerman dinilai jadi kendala besarnya.

Seperti dinukil dari Reuters, kegagalan yang diupayakan oleh perusahaan Kuveyt Turk itu malah menguatkan posisi Inggris yang telah lebih dulu menjadi ‘jantung’ keuangan Islam Eropa, dan Luksemburg serta Irlandia yang masing-masing juga sudah dipandang sebagai ‘tuan rumah’ untuk sukuk dan pembiayaan investasi syariah.

Oleh karenanya, supaya tidak mengalami hal serupa dan dapat membawa Jerman kembali menyaingi Inggris, Al Baraka Banking Group yang telah beroperasi di Timur Tengah, Asia, dan Afrika ini tengah berupaya menggerakkan jangkauan layanan perbankan syariah lebih luas di hilir, dengan melayani nasabah melalui penyediaan seperti pembayaran dan transfer uang secara daring di hulu. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Ahmad Kholil