Selasa, 23 Juli 2019
21 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Fokus / Keuangan Syariah dapat Mengadaptasi Teknologi Blockchain
FOTO | Dok. istimewa
Penerapan teknologi dapat membantu mengotomatiskan proses administrasi dan bagian pendukung lainnya (back office), sehingga membuat lembaga keuangan Islam lebih menguntungkan dan dapat bersaing.

Sharianews.com, Jakarta ~ Penelitian oleh Salaam Gateway 2018 menyebutkan, blockchain dan teknologi lainnya sebenarnya dapat memainkan peran perubahan dalam membantu keuangan Islam lebih mudah diakses oleh khalayak yang lebih luas.

Sebab, secara historis keuangan Islam membutuhkan proses penataan transaksi dan verifikasi, yang sebelumnya telah menghabiskan biaya lebih tinggi. Teknologi blockchain memungkinkan penggunaan 'kontrak pintar' atau digitalisasi yang secara otomatis dapat memaksakan implementasi ketentuan kontrak, yang secara substansial bisa mengurangi besaran biaya yang harus dikeluarkan.

Selain itu, penerapan teknologi dapat membantu mengotomatiskan proses administrasi dan bagian pendukung lainnya (back office), sehingga membuat lembaga keuangan Islam lebih menguntungkan dan dapat bersaing.

Dengan seperangkat fitur digital yang lebih luas, teknologi blockchain memungkinkan industri keuangan bisa meningkatkan kenyamanan pengguna, mencakup penerimaan pembayaran dengan kripto, serta memungkinkan proses pembayaran tanpa kontak fisik (contactless).

Teknologi blockchain diyakini dapat membuat keuangan Islam lebih kompetitif  lagi, dan dapat memosisikan diri di garis terdepan industri keuangan yang lebih luas. Dengan manajemen risiko syariah yang diterapkan, aset keuangan Islam berhasil memperoleh besaran senilai 15 triliun dolar AS pada tahun 2016.

Dalam perkembangan terakhir, keuangan Islam telah secara jelas menggunakan teknologi blockchain dan cryptocurrency. Hal ini dapat dilihat antara lain dalam keterlibatan Islamic Development Bank (IsDB), yang telah memulai menggunakannya dalam pengembangan industri perbankan, bekerjasama dengan dua perusahaan teknologi untuk mengeksplorasi bagaimana membuat transaksi lebih cepat dan lebih dapat diandalkan.

IsDB juga telah melakukan aktivitas penyaluran wakaf melalui teknologi digital blockchain. Dengan data digital yang terintegrasi (distributed ledger technology/DLT), Finterra yang berbasis di Singapura menciptakan 'kontrak pintar' untuk menfasilitasi dan memberi kemudahan dalam penerimaan wakaf berbasis teknologi digigal. Selain itu, FinTech Blossom Finance, dan masjid-masjid di Inggris menerima pembayaran zakat lewat kripto.

Peta jalan wujudkan peluang

Peta jalan untuk mewujudkan peluang penggunaan teknologi blockchain dalam industri keuangan syariah, antara lain dapat dilakukan dengan melibatkan upaya bersama di antara lembaga keuangan Islam terkemuka untuk langsung berinvestasi dalam teknologi baru, serta berkolaborasi dengan perusahaan baru yang inovatif.

Hal ini dimungkinkan karena, lembaga keuangan Islam telah banyak belajar dari mitra-mitra mereka dalam membangun tim kreatif internal, terutama perbankan investasi terkemuka seperti JP Morgan dan Goldman Sachs, yang telah mengambil langkah besar dengan menanamkan modalnya di perusahaan berkembang dan mengotomatisakan manajemen alur kerjanya

Beberapa bank telah mengeksplorasi peta jalan digital. Institusi yang sedang berkembang seperti Waqfe, saat ini merupakan mitra yang kuat, terutama bagi dunia pebankan di wilayah MENA untuk membangun konektivitas digital dengan pelanggan.

Ada ekosistem yang tengah berkembang lebih luas lagi di perusahaan rintisan FinTech syariah, terutama perusahaan advisor-robo seperti Wahed Invest, dan keuangan mikro, seperti Ethis Ventures dan Blossom Finance, yang merupakan mitra yang menjanjikan untuk lembaga keuangan Islam.(*)

Reporter: Emha S Asror Editor: Ahmad Kholil