Jumat, 22 Januari 2021
09 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Global / Keuangan Syariah Berkembang di Afrika
-
Gelombang ekonomi syariah mulai terasa di kawasan Afrika

Gelombang ekonomi syariah mulai terasa di kawasan Afrika

Sharianews.com, Jakarta - I SEE AFRICA, pusat konten informasi terakurat, informatif, dan relevan yang menangkap tren di Afrika, melaporkan bahwa di tengah pesatnya ekonomi Tiongkok di kawasan Afrika, ternyata ada gelombang wacana, pertemuan, dan pameran produk untuk melayani komunitas muslim yang sedang tumbuh di Afrika.

Pemerintah Afrika bahkan telah melihat potensi keuangan melalui menyediakan produk yang sesuai dengan syariah untuk prospek keuangan yang lebih inklusif bagi warganya.

Perluasan produk untuk  menarik konsumen Muslim oleh negara-negara Afrika ini sejalan dengan pembelian global yang menargetkan kelas menengah Muslim yang makmur.

Perputaran bisnis di sektor  menengah muslim Afrika ini diperkirakan bisa mencapai  U$ 5 triliun pada tahun 2020, sebagaimana dilaporkan oleh Pew Research. Ini jelas dapat semakin mendorong dunia  industri untuk  memperluas produk dan layanan ekonomi halal di Afrika.

Laporan Malaysia International Islamic Financial Centre (MIFC) menyebutkan, kepentingan negara-negara Afrika di sektor keuangan Islam meluas sepanjang tahun 2013.

Sejak saat itu, negara-negara seperti Nigeria, Senegal,  Pantai Gading (Côte d'Ivoir), dan Togo telah menerbitkan obligas Islam (sukuk) dan layanan keuangan lainnya bagi konsumen Muslim. Ada lebih dari 50 lembaga keuangan yang menawarkan keuangan berbasis syariah di Afrika.

Dengan demikian, kebangkitan keuangan yang inklusif di Afrika dapat dilihat dari kebijakan pemerintah dalam memenuhi permintaan sekitar 250 juta Muslim Afrika, dan usahanya dalam menemukan solusi alternatif untuk konsumen Afrika yang tidak memiliki rekening bank.

Aset keuangan Islam diperkirakan bernilai U$ 3,2 triliun pada tahun 2020. Saat ini bank-bank Afrika seperti Bank Nasional Mesir, Bank Fin di Nigeria, FNB dan bank Absa di Afrika Selatan telah menyiapkan 'jendela' Islam yang menawarkan prouk yang sesuai syariah.

Kenya berencana untuk menjadi pusat keuangan Islam di benua itu. Negara ini memimpin dengan jumlah lembaga-lembaga keuangan yang melayani basis klien Muslim mereka. Kenya saat ini memiliki tiga bank syariah yaitu bank First Community, bank Teluk Afrika dan baru-baru ini bank Islam Dubai yang dimiliki oleh Uni Emirat Arab.

Negara-negara yang telah mengikuti kebijakan dalam memperluas legislasi untuk penyediaan produk yang sesuai dengan Syariah adalah Gambia, Maroko yang juga telah mendirikan lembaga keuangan Islam.

Dalam hal ini sektor keuangan Afrika tidak lagi hanya menawarkan produk yang dirancang untuk konsumen Muslim mereka, namun juga melihat lembaga keuangan dan para investor yang membuka lembaga-lembaga yang patuh syariah. Tidak hanya melayani konsumen Muslim global, tetapi juga memperluas penawaran keuangan untuk konsumen non-muslim.

Sektor swasta juga bergerak ke ruang yang memperluas lanskap keuangan syariah di Afrika. Investor Uganda Haruna Sebaggala contohnya,  yang berencana untuk mendirikan Lembaga Islam yang disebut Midsoc.

Sementara bank Sterling PIC di Nigeria berencana untuk mendapatkan lisensi perbankan yang akan memungkinkan lembaga itu mengembangkan bank tanpa bunga yang mandiri di negara tersebut.

Peluang bagi negara muslim lain

Sementara  produk keuangan Islam di Afrika masih dalam tahap awal distribusi dan ketersediaan untuk membuka peluang bagi organisasi dari UAE berinvestasi di benua tersebut, para investor Muslim Afrika mengatakan,  telah memilih menginvestasikan uang mereka dalam proyek-proyek di luar negeri seperti real estate Dubai, sebagai langkah awal adaptasi  terhadap sistem keuangan Islam.

Pengadopsian lembaga keuangan yang menyediakan opsi investasi seperti sukuk, memberikan lebih banyak pilihan investasi untuk Muslim Afrika. Negara-negara seperti Kenya telah melokalisasi penawaran keuangan mereka yang sesuai syariah.

Pemerintah Kenya juga telah merestrukturisasi peraturan perbankan yang memungkinkan sektor sukuk negara pertama dalam anggaran 2017/18. Dengan begitu, nantinya negara dapat menerbitkan obligasi keuangan syariah dengan mengubah karakter pada mata uangnya.

Adapun Afrika Selatan saat ini sedang mengerjakan sukuk berbasis mata uang lokal yang akan menjadi patokan bagi perusahaan setempat untuk berinvestasi di pasar.

***

Pasar keuangan Kenya juga ingin mengembangkan opsi investasi 'jendela Islam'. Perserikatan pensiun (pension trust) bentukan negaranya (the Local Authorities Provident Fund) LAPFUND menerima lisensi dari otoritas keuntungan pensiun untuk menyediakan skema yang sesuai dengan Syariah yang diberi nama LAPFUND AMAL pada tahun 2018.

Ada banyak peluang dalam pengembangan penawaran keuangan digital berbasis syariah, terutama di kawasan Afrika karena negara-negara berusaha memasuki ruang wisata Muslim.

Dubai secara Internasional adalah salah satu negara yang bekerja memimpin kampanye menuju fintech di sektor keuangan Islam. Fintech Hive di pusat keuangan internasional mereka DIFC telah menetapkan jalur untuk tujuan negara itu demi menjadi pusat global bagi Fintech Islam.

Pusat kegiatan ini menyediakan platform yang membawa perusahaan keuangan dan perusahaan teknologi bersama-sama untuk mengeksplorasi kemungkinan dalam sektor ini melalui proyek kolaborasi dan inovatif.

Negara-negara di Afrika Timur bekerja sejalan dengan UEA dengan memeriksa prospek fintechnya yang sesuai dengan Syariah. Ekonomi Islam Afrika Timur di tahun 2018, puncak tema utama KTT memandang Fintech menjadi penggerak ekonomi Islam di Afrika Timur sebagai inklusi keuangan di wilayah tersebut.

Ernst & Young (EY), sebuah firma jasa audit yang tersebar di 150 negara, memperkirakan bahwa munculnya fintech Islam di Afrika dapat menarik 150 juta konsumen baru pada tahun 2021.

Sementara operator seluler Kenya Safaricom telah menetapkan kakinya di ruang fintech Islam. Perusahaan telah bermitra dengan bank Islamic Gulf Afrika dengan rencana untuk meluncurkan M-Syariah yang merupakan layanan perbankan seluler berbasis syariah melalui M-Pesa.

Karena Kenya bertujuan menjadi pusat keuangan Islam di Afrika, pemerintah serta lembaga keuangan di negara ini perlu menyalurkan lebih banyak fokus ke potensi di sektor fintech. Bisnis secara global memperhatikan potensi pertumbuhan digitalisasi industri keuangan Islam sebagaimana dicatat oleh bank Dubai Islamic ADIB, yang mengalihkan fokusnya ke sektor fintech.

Ini mengakibatkan perusahaan bekerja sama dengan IBM untuk membuat studio digital. Ruang ini akan menyaksikan pembuatan proyek inovatif di seluruh sektor perbankan seperti mobile banking dan aplikasi di platform cloud bluemix IBM.

Negara-negara Afrika yang bertujuan memimpin dan membangun produk-produk fintech Islam yang dipengaruhi secara global dan lokal perlu mencari ruang-ruang yang memungkinkan eksplorasi dan kolaborasi untuk sektor ini.

Menurut dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta Ace Hasan Syadzily, efek ekonomi Tiongkok yang terus mengembangkan pengaruhnya juga di kawasan itu bersifat relatif, bisa menghambat dan tidak terhadap ekonomi syariah. 

“Itu tergantung dari kemampuan penggerak ekonomi Islam sendiri, mampu atau tidak melakukan persaingan dengan Tiongkok. Itu aja.”

Sementara itu, menurut Ace, harus ada langkah-langkah yang dilakukan oleh para ekonom Islam di sana untuk menghadapa ekspansi ekonomi Tiongkok, di antaranya adalah menentukan upaya yang sistematis untuk mensosialisasikan kepada masyarakat di wilayah itu mengenai apa itu ekonomi Islam, sebab pengetahuan dunia tentang ekonomi syariah masih terbatas.

Sebagaimana diketahui, Tiongkok telah mengembangkan bisnis dan investasinya di Nigeria, Angola, Zambia, dan Afrika Selatan. Perdagangan bilateral China-Afrika Selatan tahun 2008 naik tajam menjadi 106,8 miliar dollar AS dari 10,6 miliar dollar AS pada 2000 atau tumbuh lebih dari 30 persen per tahun.*

 

Sumber:

http://iseeafrica.co.za/2018/05/04/islamic-economy/

Reporter : Emha S.  Asror

Editor : Ahmad Kholil 

Tags: