Sharianews | Kenapa Milih Bank Syariah?
Kamis, 18 Oktober 2018 / 08 Ṣafar 1440

Kenapa Milih Bank Syariah?

Rabu, 3 Oktober 2018 14:10
Kenapa Milih Bank Syariah?
FOTO | Dok. istimewa

Para Ulama Dewan telah mengatur Fatwa, prosedur, dan cara kerjanya. Karena itu, Bank Syariah jelas bukan sekadar Istilah. Hati-hati, sebab jika istilah diganti atau berbeda, maka skema, risiko, hingga hukumnya akan serasi sejalan sesuai istilah yang dipergunakan.

Sharianews.com, Jakarta. Ada kaidah fikih populer yang saya temukan di Kitab Ta’lim al Muta’allim Thariiq at Ta’allum yakni sesuatu yang tiada sempurna sebuah kewajiban tanpa sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib (maa laa yatimmu al waajib illaa bihi fahuwa waajib).

Contoh nyata penerapan kaidah ini misalnya, kita hidup dalam rangka beribadah. Beribadah harus hidup, harus sehat. Agar sehat, maka kita harus makan. Instrumen sangat urgen dan penting bagi kita dalam rangka mengantar kita bisa makan, hidup dan melakukan ibadah dengan baik adalah uang.Oleh sebab itu, keberadaan uang menjadi wajib.

Kemudian saya bikin rumus bahwa ketika kita masih butuh untuk menggunakan uang, maka keberadaan bank yang sesuai syariah, menjadi wajib ada. Ketika kita tidak lagi butuh uang, maka keberadaan Bank yang sesuai Syariah, menjadi sangat penting untuk tidak ada. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa saat ini, keberadaan Bank Syariah menjadi wajib ada, selama kita masih mau menggunakan uang dan segala transaksinya.

Bank Syariah di Indonesia sudah ada sejak 1992. Keberadaannya masih kalah cepat dibandingkan di Mesir yang sudah ada Bank Syariah sejak 1963, Islamic Development Bank Sejak 1970-an, dan Bank Syariah di Malaysia ada sejak tahun 1980-an.

Tiap negara memiliki cara masing-masing dalam menjalankan Bank Syariah. Pangsa pasar Bank Syariah di setiap negara juga berbeda-beda. Pangsa pasar Bank Syariah di Malaysia ada pada kisaran 20 persen, di Indonesia baru mencapai 5 persen. Iran cukup fenomenal karena hanya mau menjalankan perbankan Syariah saja.

Jika saat ini sudah ada Bank Syariah di Indonesia, kita semestinya bersyukur, meski pangsa pasarnya baru 5 persen. Tak elok jika dinamika Bank Syariah ini disepelekan, bahkan diharam-haramkan.

Padahal Ulama Dewan sudah mengatur Fatwa-nya, sudah melakukan validasi atas prosedur dan kontraknya, dan sudah melakukan pengawasan atas pelaksanaannya, dengan segala dinamikanya. Jika mampu, mari terlibat aktif positif konstruktif dalam pengembangan Bank Syariah.

Jangan sepelekan istilah

Pangsa pasar Bank Syariah di Indonesia baru 5 persen. Salah satu cara kampanye Ayo Ke Bank Syariah adalah dengan mengungkapkan kepada publik atas kelebihan Bank Syariah dan alasan logis bahwa Bank Syariah layak pilih. Berikut ini ada beberapa alasan kenapa memilih Bank Syariah.

Pertama, Bank Syariah berani ganti istilah.Sebenarnya bukan ganti istilah, namun menggunakan istilah yang berbeda dengan Bank Konvensional. Jika istilah diganti atau berbeda, maka skema, risiko, sampai hukumnya akan serasi sejalan sesuai istilah yang dipergunakan. Skema dan logika bisnis serta operasionalnya pun menyesuaikan, di semua lini, legal formal dalam naungan NKRI.

Jangan sepelekan istilah. Beda titik koma, bisa beda makna, apalagi beda istilah. Nama kita diganti sebutan buruk pun pasti gak mau. Yang Allah ajarkan pertama kepada Adam as ketika jadi khalifah di bumi adalah istilah. Alquran Hadits juga terdiri dari istilah-istilah. Jangan sepelekan istilah.

Kedua, Bank Syariah berani dagang, karena memang sungguh-sungguh wajib dagang jika mau ambil profit. Bank Syariah harus dagang secara legal formal, dibela oleh Alquran Hadits melalui Ushul Fiqh dalam Fatwa DSN MUI. Peraturannya tercantum lugas dalam UU NKRI, PBI, SEBI, POJK, SEOJK, PAPSI, PSAK, SOP, Juklak, Juknis, Akad dan regulasi terkait lainnya. Bank Syariah berani menggunakan istilah dagang, skema dagang, risiko dagang, hukum dagang.

Ketiga, Bank Syariah berani janji secara legal formal untuk tidak membiayai bisnis miras, bisnis babi, bisnis judi, bisnis zat haram, bisnis riba, bisnis pesta riba dan bisnis transaksi haram lainnya. Semua itu dijalankan secara sistemik legal formal. Hal ini memastikan aliran dana nasabah tetap bermanfaat, tidak sia-sia tiada guna.

Keempat, Bank Syariah berani logis, berani menggunakan skema transaksi yang logis. Jika mau ambil untung ya pake dagang. Jika akadnya nonprofit, Bank Syariah nggak akan berani mensyaratkan ada kelebihan pengembalian. Logika lain yang bisa ditemukan adalah ketika uang dipergunakan untuk bisnis, maka sejak awal tidak akan mungkin bisa dipastikan hasilnya, harus menunggu sampai dagangnya menghasilkan sesuatu. Hal ini berbeda dengan Bank Konvensional, ketika nasabah menabung, maka langsung dipastikan hasilnya berupa % bunga x pokok simpanan. Hal ini menyalahi logika dan kodrat bisnis.

Kelima, Bank Syariah berani taat Bahasa Indonesia. Oleh karena transaksinya dagang, maka Bank Syariah juga pake istilah dagang menurut Bahasa Indonesia. Logika dagangnya juga menyesuaikan dengan logika istilah Bahasa Indonesia.

Misalnya, istilah murah atau mahal disebutkan hanya untuk transaksi jual beli yang memang ada harga. Bank Syariah nggak mau nyebut murah mahal pada transaksi selain jual beli. Contoh lain, kalau menggunakan akad pinjaman juga nggak mau mensyaratkan kelebihan dalam pengembalian. Bank Syariah terbukti patuh, konsisten dengan definisi dan tata Bahasa Indonesia sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI].

Keenam, Bank Syariah dibela oleh Alquran Hadits melalui Logika Ushul Fiqh dalam Fatwa DSN MUI. Fatwa DSN MUI pun sudah dipositivisasi secara legal formal oleh NKRI, level Undang-undang, Peraturan Bank Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan lainnya. Ada satu hal penting yang harus kita cermati bersama bahwa kita tidak bisa mewawancarai Allah, kita tidak bisa mewawancarai Rasulullah, kita tidak bisa mewawancarai Imam Mujtahid terdahulu yang sudah wafat.

Oleh sebab itu, pantas saja Allah memaksa manusia beriman untuk taat Ulil Amri (Ulama dan Umara). Ketika terjadi perselisihan, maka dikembalikan lagi kepada Alquran dan Hadits yang jelas harus ditafsirkan terlebih dulu oleh Ulil Amri. Hal yang bisa kita lakukan dalam memaknai Alquran Hadits adalah dengan menggunakan metode Ushul Fiqh menurut Fatwa Jama’i (berjamaah) yang merupakan representasi dari Ulil Amri, bukan sekedar Maqalah Munfarid (perkataan sendirian).

Demikian alasan kita memilih Bank Syariah. Semakin kita sosialisasikan logika ini, semakin banyak masyarakat yang sepemahaman dengan Dalil dan Logika yang melandasi Bank Syariah.

Akhirnya, ada kaidah fikih, sesuatu yang tidak bisa disempurnalengkapkan semuanya, ya janganlah ditinggalkan semua (maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluh). Jika dirasa bahwa Bank Syariah ini belum sempurna, jangan malah ditinggalkan sambil pesta Riba di Bank Riba. Ingat bahwa keberadaan Bank Syariah itu wajib ada, jika masih ingin menggunakan uang.Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin


KOMENTAR

Login untuk komentar