Minggu, 12 Juli 2020
22 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Ziswaf / Kemiskinan Pangan Berpotensi pada Penyakit Kronis
Daerah rentan rawan pangan ditentukan melalui tiga aspek meliputi ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan.

Sharianews.com, Jakarta ~ Indonesia sebagai negara agraris dan beriklim tropis sangat membantu produksi komoditas pangan. Namun, dari catatan Kementerian Pertanian (Kementan), terdapat 88 kabupaten atau kota di Indonesia rentan rawan pangan.

Daerah rentan rawan pangan ditentukan melalui tiga aspek meliputi ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Tiga aspek tersebut dapat berdampak pada kehidupan wilayah rawan pangan, ketersediaan pangan yang kurang, sehingga menyebabkan kurangnya asupan gizi.

Peneliti IDEAS, Fajri Azhari mengatakan, IDEAS pada Februari ini sudah melakukan penelitian terkait dengan ketimpangan masyarakat miskin dengan konsumsi pangan. Masyarakat miskin menghadapi harga pangan yang mahal. Strategi yang ditempuh keluarga miskin yakni dengan beralih untuk mengonsumsi pangan yang murah dan bisa diawetkan.

“Kelompok satu persen termiskin secara rata-rata mengkonsumsi 74.4 kg beras per kapita per tahun, lebih banyak dari kelompok satu persen terkaya yang hanya 60,89 kg beras per kapita per tahun,” tutur Fajri, dalam Diskusi publik Kerawanan Pangan dan Tantangan Stunting Anak Negeri yang diselenggarakan Dompet Dhuafa di Jakarta, Jumat (28/2).

Tingkat konsumsi yang sangat rendah, kemiskinan pangan dapat membawa pada penyakit kronis dan kematian dini. Penyakit kronis memberi beban ekonomi yang berat dari biaya pengobatan dan hilangnya waktu produktif, dan mendorong si miskin lebih dalam ke lembah kemiskinan. Keluarga berpendapatan rendah dengan jumlah anggota keluarga lebih banyak, memiliki peluang lebih besar mengalami kemiskinan pangan.

Direktur Utama Dompet Dhuafa, Imam Rulyawan mengatakan, pencegahan kerawanan pangan dan stunting yang terjadi pada anak negeri, telah menggerakan Dompet Dhuafa dengan berbagai program pertanian dan kesehatan.

Misalnya dengan mengembangkan program pertanian sehat terpadu hingga mengimplementasikan program Jaringan Kesehatan Ibu dan Anak (JKIA) dan Saving Next Generation Institute (SNGI) yang berbasis pemberdayaan kader dan komunitas masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan kematian ibu dan anak, juga program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang mendorong perilaku bersih dan sehat di lingkungan sekitar dengan sumberdaya yang ada.

“Program tersebut, dilakukan bersama dengan komponen masyarakat, pemerintah daerah, dinas terkait dan mitra lain yang bekerja sama secara terintegrasi di lapangan,” pungkas Imam. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo