Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Ziswaf / Kemenag: Penghimpunan Ziswaf Harus Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Plt Sekretaris Jendral Kementrian Agama RI saat memberikan penghargaan Baznas Award Kategori Kepala Daerah
Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, penghimpunan Ziswaf harus bisa mendorong peningkatan kesejahteraan, ekonomi, dan memajukan kehidupan masyarakat di segala aspeknya.

Sharianews.com, Jakarta. Majunya lembaga pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) di Indonesia sekarang ini selain tak lepas dari dorongan regulasi pemerintah, juga lantaran meningkatnya kesadaran masyarakat.

Hal itu diakui Plt Sekretaris Jendral Kementrian Agama Republik Indonesia, M. Nur Kholis Setiawan. Menurutnya, di samping regulasi, yang paling penting, saat ini kesadaran masyarakat mengenai Ziswaf telah meningkat pesat dan ikut mendorong lembaga pengelolanya lebih maju.  

“Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga Ziswaf harus bisa ditingkatkan secara maksimal ke depannya,” papar Nur Kholis dalam sambutannya yang mewakili Kementerian Agama pada Malam Anugerah ‘Baznas Award 2018’, Jumat malam (7/8/2018).

Ia berharap, baik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), sebagai badan pengelola Ziswaf pemerintah, dan lembaga amil zakat lainnya bisa terus meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga Ziswaf dengan penataan yang lebih profesional.

Empat Cara Bangun Kepercayaan Publik

Usaha membangun kepercayaan publik itu, katanya, bisa dengan beragam cara. Pertama, pendistribusian hasil penghimpunan Ziswaf dilakukan secara merata dan tanpa tebang pilih. Kedua, dengan membangun sistem yang berbeda dengan pola korporasi.

“Sebagai lembaga sosial-keagamaan dan penghimpun Ziswaf, penghimpunan dana zakat bukan untuk lembaga penggelolanya itu sendiri. Tapi diberikan kepada orang yang berhak dan membutuhkan bantuan tanpa pilih kasih, yang tetapkan dalam standar syariah,” terangnya.

Ketiga, lembaga zakat juga harus bisa membaur dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat, dengan mematuhi standar syariah dan regulasi pemerintah dalam menjalankan pengelolaannya.

“Untuk itu, lembaga pengelola zakat harus berhati-hati dalam menjaga amanah yang diembannya,” jelasnya.

Keempat, untuk bisa membangun dan menjaga kepercayaan publik, baik Baznas, Kementerian Agama, dan lembaga Ziswaf lainnya perlu bersinergi untuk mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat bagaimana pentingnya zakat, infak, sedekah dan wakaf dalam mengentaskan persoalan sosial, ekonomi, dan kemiskinan.

“Kesejahteraan masyarakat datang bukan secara tiba-tiba, tapi melalui upaya yang serius. Di antaranya melalui pengelolaan dan pengembangan lembaga Ziswaf. Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, penghimpunan Ziswaf harus bisa mendorong peningkatan di segala aspek kehidupan, termasuk kesehatan,” tambahnya.

Meski akumulasi Ziswaf secara nasional terus meningkat, tapi hal itu belum sesuai dengan besaran potensinya. Oleh karenanya, Kementerian Agama berharap di masa mendatang penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan wakaf bisa lebih optimal.

Namun demikian, Nur Kholis mengatakan, Kementerian Agama mengapresiasi upaya keras dan kinerja positif yang selama ini dilakukan berbagai lembaga pengelola zakat. Dalam setiap tahunnya, berbagai lembaga pengelola zakat memperlihatkan tren pertumbuhan dalam penghimpunan dan persebaran Ziswaf.

“Kementerian Agama juga berharap pemerintah daerah bisa memberikan dukungan infrastruktur, baik berupa regulasi dan pendanaan operasional supaya pengumpulan Ziswaf terus meningkat,” imbuhnya.

Tanggung Jawab Sosial

Dengan pengelolaan dan pendistribusian Ziswaf secara tepat dan profesional, Nur Kholis menuturkan, hal ini merupakan cerminan misi Islam yang dapat mendorong atmosfir positif di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Cerminan Islam itu sendiri bisa dilihat dengan meningkatnya perlindungan hak kemanusiaan, kesejahteraan sosial, ekonomi, dan memajukan kehidupan masyarakat,” tegasnya, mengutip kata-kata dari pejuang kemerdekaan dan tokoh pemikir Islam, Mohammad Natsir.

Oleh karenanya, persebaran distribusi Ziswaf oleh berbagai lembaga pengelolanya harus dilandaskan pada tanggungjawab sosial yang diembannya. Yakni, didasari atas kebutuhan dan persoalan yang sedang dialami umat Islam dan masyarakat umumnya, termasuk masalah bencana alam. (*)

Reporter: Emha S Ashor. Editor: Achmad Rifki