Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Artikel / Kembali kepada Alquran dan Sunnah
FOTO I Dok. NU.org
Mari sejenak kita renungkan khithab (titah Allah) tertinggi dalam urusan ketaatan, yakni Alquran Surat An Nisa ayat 59.

Sharianews.com, Diskusi perkara Islam, sering kali diwarnai dengan jargon "Kembali kepada Alquran dan Sunnah". Jargon ini, semakin viral. Sepertinya positif, tetapi ternyata menggembosi penerapan Syariat Islam dan logika berpikirnya Umat Islam.

Mari sejenak kita renungkan khithab (titah Allah) tertinggi dalam urusan ketaatan, yakni Alquran Surat An Nisa ayat 59.

يايها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولى الامر منكم فان تنازعتم في شيء فردوه الى الله والرسول

Wahai orang-orang yang punya iman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasulullah dan Ulil Amri di antara kalian. Tatkala kalian berselisih pendapat dalam sesuatu urusan, maka kembalilah (murtadlah) kepada Allah dan Rasulullah.

Urutan ketaatan adalah kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri. Allah dan Rasulullah tidak bisa diwawancara, sehingga tinggal perintah taat kepada Ulil Amri. Ibnu Abbas menafsirkan Ulil Amri adalah Ulama dan Umara. Tentu saja, Ulama Dewan dan Umara Dewan, bukan Ulama Dewean (sendirian) dan bukan pula Umara Dewean.

Ayat tersebut juga merumuskan bahwa ketika terjadi perselisihan atas sesuatu, maka kembalilah kepada Allah dan Rasulullah. Kembali kepada Allah dan Rasulullah itu artinya adalah kembali kepada Alquran dan Sunnah.

Lagi-lagi, Allah tidak bisa diwawancara, Rasulullah tidak bisa diwawancara, Alquran tidak bisa diwawancara, Hadis tidak bisa diwawancara. Oleh sebab itu, rumusnya tetap sama kembali kepada Alquran dan Sunnah berarti kembali taat kepada Ulil Amri. Ulama Dewan dan Umara Dewan, bukan yang Dewean.

Ulama Dewean sebenarnya tidak masalah jika pendapatnya serasi dengan Ulama Dewan dan Umara Dewan. Jika Ulama Dewan ingin berbeda pendapat dengan Ulama Dewan dan Umara Dewan, maka silahkan Ulama Dewean ini melakukan audiensi, jika mampu, atau diam. Ulama Dewean ini bisa menegaskan kepada publik agar merujuk kepada Ulama Dewan, meski ia berbeda pendapat dengan Fatwa Ulama Dewan dan Ketentuan Umara Dewan. 

Ada kaidah fikih yang menguatkan ayat Alquran di atas, yakni

حكم الحاكم الزام ويرفع الخلاف

Hukumnya hakim (Ulil Amri) adalah mengikat dan menghilangkan khilaf.

Kaidah tersebut menegaskan bahwa jika terjadi perselisihan, kembalilah kepada Ulil Amri yang menjadi representasi Allah dan Rasulullah di muka bumi ini. Ulil Amri jelas bisa salah. Ulama Dewan jelas bisa salah, apalagi Ulama Dewean, apalagi Akal Dewean.

Satu lagi, ada kesalahpahaman dalam memaknai kembali kepada Alquran Hadis ternyata dimaknai sangat mentah yakni menggali sendiri kandungan ajaran Islam dari teks Alquran Hadits tanpa ilmu Ushul Fiqh.

Ini sebenarnya sangat berbahaya karena malah kampanye mengartikan dan menafsirkan sendiri langsung dari teks Alquran Hadis dengan tanpa ilmu fikih. Padahal, andai ilmu fikih ini tidak ada, maka orang sholat bisa seenaknya sendiri karena dalam Alquran Hadis tidak ada aturan rukun salat secara tartib atau urut-urut. Ini malah kacau.

Belum lagi urusan Muamalah. Bisa-bisa orang hidup harus menggunakan transportasi onta, kuda dan keledai, tidak boleh menggunakan mobil, tidak boleh menggunakan gawai, tidak boleh zakat menggunakan beras, tidak boleh menggunakan uang, dan lain-lain. Ini kemunduran dunia Islam, dan ini persoalan sangat serius.

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa kembali kepada Allah dan Rasulullah adalah kembali kepada Ulil Amri, yakni Ulama Dewan dan Umara Dewan. Wallahu a'lam. (*)

 

Ustaz Ahmad Ifham Sholihin