Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Artikel / Kembali kepada Alquran dan Hadits
FOTO | Dok. Republika.co.id
Siapa yang layak disebut sudah kembali kepada Allah dan Rasulullah serta bagaimanakah caranya?

Di berbagai social media, sering didapati ajakan untuk kembali kepada Alquran Hadits. Jargon ini biasanya muncul dari sebagian kalangan yang sepertinya merasa ingin lebih layak disebut sebagai pihak yang paling taat kepada Alquran Hadits.

Mari kita perhatikan Alquran Surat an Nisa ayat 59. Allah menegaskan bahwa orang yang beriman diperintahkan untuk taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri. Tingkat ketaatan tersebut sesuai urutan. Ayat tersebut dilanjutkan dengan penegasan bahwa jika terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat atas sesuatu, maka dikembalikan kepada Allah dan Rasulullah.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapa yang layak disebut sudah kembali kepada Allah dan Rasulullah serta bagaimanakah caranya?

Perhatikan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi Nabi. Jadi, tidak ada lagi yang bisa berkomunikasi dengan Allah dalam konteks memeroleh wahyu dari Allah. Dengan demikian, saat ini tidak ada yang bisa disebut lebih layak menerjemahkan dan menafsirkan firman Allah untuk konteks zaman now selain Ulil Amri.

Rasulullah SAW juga sudah wafat, tidak bisa diwawancara, sehingga saat ini tidak ada yang bisa disebut lebih layak menerjemahkan dan menafsirkan sabda Rasulullah untuk konteks zaman now selain Ulil Amri.

Ibnu Abbas menafsirkan definisi Ulil Amri adalah Ulama dan Umara. Tentu saja, Ulama Dewan dan Umara Dewan. Ulama Dewan urusan ukhrowi, sedangkan Umara Dewan urusan duniawi. Ulama Dewan lebih kredibel dibanding Ulama Dewean (sendirian).

Contoh kasus, ada sebagian masyarakat yang tidak setuju dengan Fatwa DSN MUI No. 77 tentang bolehnya Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai. Pihak yang tidak setuju ini menggunakan argumen bahwa kita lebih percaya kepada Fatwa DSN MUI atau percaya kepada Allah dan Rasulullah?

Perhatikan, sekilas argumen tersebut logis, namun jika dicermati, argumen tersebut terlihat rapuh, tanpa landasan kuat. Kalau percaya sama Allah kan berarti otomatis lebih percaya dengan Fatwa Ulama Dewan dibandingkan dengan pendapat Ulama Dewean (sendirian).

Saya ulang bahwa Allah dan Rasulullah tidak bisa diwawancarai langsung sehingga butuh Ulil Amri untuk menerjemahkan dan menafsirkan Alquran, Hadits, Ijma', Qiyas dan Dalil Mukhtalaf.

Zaman now, tak ada lagi Imam Mujtahid. Yang ada adalah mentarjih berbagai dalil dan pendapat Ulama terdahulu. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Ulama yang memang sedang hidup di masa kini. Jumhur Ulama di negeri ini di masa kini dalam hal Muamalah adalah DSN MUI.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa ketika membahas urusan Muamalah zaman now ada ajakan kembali kepada Alquran Hadits menurut Allah dan Rasulullah berarti sama persis sedang mengajak kita mendengarkan Fatwa Ulama Dewan daripada pendapat Ulama Dewean, daripada akal dewean. Wallahu a'lam. (*)

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin