Kamis, 24 September 2020
07 Ṣafar 1442 H
Home / Lifestyle / Keluarga, Pondasi Awal Pencegahan Kekerasan Seksual
FOTO | Dok. Istimewa
Pendidikan dan pengetahuan yang rendah serta nilai agama yang tidak dimiliki dalam keluarga membawa dampak negatif bagi munculnya krisis moral tersebut, khususnya kekerasan seksual.

Sharianews.com, Jakarta. Kekerasan seksual yang terjadi di Indonsia saat ini ibarat gunung es, yang terlihat dipermukaan hanya sebagian kecilnya saja sementara jumlah yang tidak terjangkau jauh lebih banyak. Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 255,1 juta, menurut data nasional, masalah terkait dengan kekerasan seksual  pun menjadi semakin komplek.

“Kita tidak bisa main-main karena jumlah penduduk Indonesia sangat besar. Jadi kalau tercatat satu persen saja yang menjadi korban, itu sudah mencapai angka jutaan, setara dengan penduduk singapura ya. Lalu bagaimana dengan jumlah kekerasan yang lebih dari satu persen.” Kata DR Ir Dwi Hastuti, MSc., Pakar Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Kamis (29/11).

Dwi menjelaskan, penyebab kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dilihat dari beberapa perspektif, salah satunya perspektif sosial budaya. Dalam perspektif ini kekerasan seksual bisa terhadi karena lemahnya nilai-nilai kebajikan, karakter, serta meningkatnya perilaku-perilaku buruk yang sudah dimaklumi keberadaannya, seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), tawuran, geng, seks bebas, judi, narkoba dan pornografi.

Tahun 2009 hingga 2010 lalu Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara terkorup se-Asia Pasifik (PERC 2010). Menurut Dwi, ini membuktikan pemerintah lemah dalam sosial order dan law enforcement. Mirisnya lagi, dewasa ini semakin tampak berkurangnya nilai kegotong-royongan, kebersamaan, kepedulian terhadap orang lain seiring dengan menguatnya egosentrisme dan individualisme, dan hedonisme, sehingga  semakin banyak bermunculan kriminal, kekejaman, serta  kekerasan di dalam keluarga.

Perspektif  keluarga

Perspektif selanjutnya  adalah keluarga. Pendidikan dan pengetahuan yang rendah serta nilai agama yang tidak dimiliki dalam keluarga membawa dampak negatif bagi munculnya krisis moral tersebut, khususnya kekerasan seksual. Meski begitu, ketika kekerasan sudah terjadi, pertama kali yang dilihat adalah asal-usul keluarga korban dan pelaku. Sebab seperti apa seorang anak terbentk merupakan pengaruh dari lingkngan keluarga.

Dwi memaparkan, kemerosotan nilai dalam keluarga terjadi saat tidak adanya keteladanan. Baik dari orangtua yang tidak memberikan contoh baik kepada anak-anakanya, masyarakat, atau lingkungan sekitar yang mudah memaklumi kesalahan, sehingga membenarkan setiap kesalahan yang terjadi, tanpa ada yang membenarkan.

Keteladanan yang muncul dari pemimpin di tingkat lingkungan dan di tingkat negara juga penting. Karena saat ini, kelemahan pada aparatur negara, di mana ada banyak kasus terjadi bisa menimbulkan persepsi bahwa aparatur negara saat ini merupakan pemimpin yang lemah dan kurang mampu menegakkan norma susila atau law enforcement.

Sayangnya, keteladanan yang paling menonjol saat ini adalah kemewahan dan kesenangan hidup, kekuasaan, KKN, dan ketidakjujuran, kekerasan, perkelahian, penganiayaan dan atribut asoisal lainnya. “Padahal, ketika keteladanan seperti itu, dilihat oleh anak-anak tanpa disandingkan dengan teladan yang baik, akan menimbulkan perspektif bahwa hal tersebt adalah benar. Itulah maka, tidak heran jka semakin banyak menimbulkan kesalahan berantai,”papar Dwi.

Faktor lainnya adalah berurangnya pendidikan yang mampu menyentuh hati nurani dan pembentukan akhlak karimah. Padahal menurutnya, sifat-sifat buruk yang muncul pada anak bukan berasal dari karakter fitrahnya.  

“Sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukan berasal dari fitrah. Tetapi timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orangtuanya dan para pendidiknya, sehingga semakin dewasa, semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut. Banyak orang dewasa yang menyadari sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya, karena sifat tersebut sudah mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan,”papar  Dwi mengutip  pendapat  Ibn Jazzar Al-Qairawani.

Kesalahan orangtua dalam mendidik

Beberapa kesalahan dalam mendidik anak yang disadari maupun tidak yaitu, misalnya pertama, kurangnya pelimpahan kasih sayang kepada anak atau terlalu memanjakannya. Namun pendidikan yang terlalu keras pun juga tidak baik. ”Karena itu penting memberikan perhatian dan kasih sayang keapda anak secara seimbang, tetap tegas namun lembut,”terangnya.

Kedua, kurangnya pendidikan agama dan komunikasi yang  buruk antara orangtua dan anak juga berakibat fatal.  Hal ini menyebabkan anak merasa asing berada di rumahnya, sehingga apabila mereka mengalami tindak kekerasan dari orang lain, tidak berani  terbuka kepada  orangtua.

Tak jarang justru lebih memilih alternatif yang dapat menghilangkan rasa stres dan depresi, dengan mendekati obat-obatan, atau mencari pendapat dari teman yang belum tentu memberikan pengaruh positif kepadanya, dan malah membuatnya stres dan seterusnya.

Ketiga, terlalu seringnya orangtua memarahi atau memkul anak, juga bisa membuat anak memberikan reaksi negatif, ketimbang menjadikan orangtua sebagai  teladan bagi anak.

Keempat, memberikan kebebasan kepada anak untuk menonton apa pun tanpa pengawasan juga tidak baik. Terlebih dewasa ini semakin banyak adegan dewasa yang tidak pantas dilihat anak kecil, dan menyebabkan kerusakan pada otak mereka. “Tak heran jika rasa penasaran ditambah libido yang memuncak di otaknya  menjadi meningkat, sehingga rentan untuk memicu pelaku kekerasan seksual,”ujar Dwi.

Penting menjaga iklim keluarga yang hangat

Karena itu, menurut pakar perkembangan anak dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, mengutip pendapat Meyerson et al., (2002) penting bagi setiap keluarga untuk menjaga iklim dalam keluarga. Semakin hangat (kohesif) iklim keluarga, semakin baik komnikasi orang tua-remaja, semakin sedikit perlakuan kekerasan fisik dan verbal orangtua pada remaja, dan semakin sedikit saling menarik diri orangtua-remaja. “Kehangatan (kohesivitas) iklim keluarga juga berhubungan dengan semakin sedikit frekuensi kekerasan remaja pada sesama, agresi verbal dan fisik, perasaan kemarahan dan kekejaman remaja,”tuturnya.

Dalam teorinya, Bandura (2004), Finkelhor (1995) juga mengatakan bahwa komunikasi keluarga berpengaruh terhadap kekerasan remaja pada sesama. Seseorang yang terekspos kekerasan akan merekam kekerasan pada skema pikirannya dan akan bertindak sesuai skema yang telah disimpannya tersebut jika ada situasi sosial yang yang menuntut mereka untuk melakukannya.

Perbaikan dari akar masalah

Karenanya, untuk menyelesaikan permasalahan kekerasan yang tidak pernah habis sejak dahulu, perlu penanganan serius dengan memperbaiki akar permasalahannya, apa yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung. Kelembagaan yang meliputi struktur dan fungsi, juga pendanaan dari pemerintah serta  dukdungan dari parlemen juga dibutuhkan.

Dari pemerintah sendiri sudah memiliki beberapa program untuk menangani kasus ini, seperti pembangunan keluarga sejahtera, ketahanan keluarga , program edukasi kesiapan orangtua/parenting.  Lainnya, program Pusat Pembelajaran Keluarga yang diusung oleh KPPPA, program Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif dan orangtua hebat dari Kementerian Pendidikan dan Budaya, dan sebagainya.

Selanjutnya, pencegahan melalui pemberdayaan keluarga dengan menguatkan peran dan fungsi keluarga. Dalam hal ini penanaman nilai-nilai agama, sosial, ekonomi dan budaya. Building awareness atau pembangunan kesadaran tentang bahaya, penyebab, dan dampak kekerasan melalui sistem sekolah (TK, dasar hingga perguruan tinggi).

“Selain itu, Bonding and Positive Communication atau komunikasi positif dan mengikat antara orangtua dan anak menjadi nilai etik keluarga sebagai penghalang bagi perilaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT),”ujar Dwi .

Membentuk Parental Philosophy, dengan memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang, menyayangi dan memberikan kasih sayang. Mendidik, menanamkan nilai-nilai sesuai norma dan agama.”Penting untuk diketahui bersama bahwa tugas orangtua atau keluarga adalah penyaring pertama segala macam bentuk permasalahan pada anak-anak. Sebab orangtua dan keluarga adalah role model bagi  terbentuknya rasa aman pada anak.” (*)

Reporter: Fathia Rahmah Editor: Ahmad Kholil