Senin, 23 September 2019
24 Muḥarram 1441 H
Home / Zakat insight / Keberkahan Nasi yang Telah Menjadi Bubur
FOTO | Dok. pribadi
Program Mustahik Pengusaha digagas untuk membantu penguatan kelompok dan penggalian masalah dan potensi usaha masyarkat di kelompok mustahik.

Oleh: Eka Budhi Sulistyo | Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)

Waktu baru saja tergelincir dari tengah malam, tapi Pak Uman sudah sibuk di dapur bersama sang istri tercinta yang sedang memasak bubur, menggoreng ayam, kerupuk, cakwe dan kacang kedelai serta irisan bawang, memotong seledri, menyiapkan kecap, sambal, dan minyak sayur yang telah dicampur dengan bumbu, serta menghangatkan kuah kaldu.  Pak Uman kemudian menyiapkan sepeda motor dan memasang gerobak diatas jok.

Dengan cekatan Pak Uman menyusun panci dan memasukkan bubur hangat serta menutup dengan rapat, menata semua bahan untuk meracik bubur ayam, tidak lupa mangkok, sendok, ember, sabun cuci piring, serbet, kemasan untuk pembeli yang take away, serta alat komunikasi.

Sekitar pukul 02.00 WIB Pak Uman keluar rumah untuk mulai menjajakan bubur ayam dan ternyata dia tidak sendirian, ada Pak Janin, Pak Darma, Pak Mastur, Pak Ardhy, Pak Taufik, dan beberapa pedagang lain di Kampung Balong Tua, Desa Sukabakti, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat yang menjajakan bubur ayam keseluruh pelosok Bekasi, Jakarta, sampai Tangerang. 

Begitulah kehidupan mereka sehari-hari, bermodalkan uang Rp 200 ribu mereka membeli bahan untuk memasak bubur ayam dan menjual kemasyarakat serta membawa uang hasil penjualan sekitar Rp 250 ribu  – Rp 300 ribu, sehingga mereka mendapatkan selisih penjualan sekitar Rp 50 ribu  – Rp 100 ribu per hari.

Mereka melakukan sendiri-sendiri, sampai akhirnya seorang ustadz Naim Manora bertemu dengan mereka dan melakukan diskusi untuk membentuk kelompok serta membuat model kegiatan ekonomi yang lain untuk meningkatkan pendapatan.

Program mustahik pengusaha

Ustadz Naim membawa usulan ini ke Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) dan diajukan sebagai program Mustahik Pengusaha. Mulailah program ini dilaksanakan dengan melakukan survei dan mendalami kondisi calon penerima manfaat, setelah semua data dilengkapi, dilakukanlah penguatan kelompok dan penggalian masalah serta usulan dari setiap anggota kelompok dan akhirnya disepakati program untuk kelima belas anggota kelompok, yaitu :

Pertama, modal usaha yang diperuntukkan bagi kegiatan harian pedagang bubur ayam, seperti perbaikan gerobak dan sepeda motor, pembelian danperemajaanperalatan usaha, dan pembelian bahan baku.

Kedua pemberian modal usaha diperuntukkan untuk usaha bersama kelompok. Kelompok yang terdiri dari 15 orang ini akan menjadi pemilik warung grosir yang menjual bahan baku buburayam, baik untuk keperluan kelompok atau pun keperluan pedagang bubur ayam lain yang bukan anggota kelompok.

Penambahan modal mampu meningkatkan omset awal dari Rp 200 ribu /hari menjadi Rp 300 ribu / hari atau kenaikan sebesar Rp 100 ribu /hari, menaikkan pendapatan pedagang dari Rp 6 juta /bulan menjadi Rp 9 juta /bulan atau ada kenaikan perbulan sebesar Rp 3 juta dengan keuntungan sebesar35 persen. 

Kedua konsep di atas akan membuat para penerima manfaat mendapatkan dua pemasukan, yang pertama dari udaha dagang bubur keliling dan kedua berasal dari pembagian Sisa Hasil Usaha (bagihasil) usaha kelompok.

Sebagai ilustrasi, pendapatan pedagang bubur ayam saat ini Rp 50 ribu – 100 ribu / hari, sementara omset Toko Usaha Bersama yang menyediakan bahan baku bubur ayam dengan pangsa para pedagang bubur ayam yang menjadi anggota dan non anggota akan memberikan omset sebesar Rp 6 juta / hari dengan keuntungan rerata sebesar 10 persen, maka akan menyumbang pendapatan per orang sebesar Rp 100 ribu / anggota / hari atau total pendapatan anggota kelompok sebesar Rp 90 ribu  – Rp 140 ribu / hari atau Rp. 2.7 juta  – Rp 4.2 juta (UMK Kabupaten Bekasi Rp 3.837.939,63).

Kegiatan pendampingan menjadi salah satu faktor keberhasilan program untuk menjaga semangat para penerima manfaat dan memastikan usaha berjalan sesuai dengan rencana.

Kegiatan pendampingan ini dilakukan melalui 3 tahapan, yakni tahap perintisan terdiri dari penumbuhan dan pembentukan kelompok, tahap penguatan untuk menumbuhkan aktivitas usaha dan kelompok penerima manfaat dan tahap pemandirian.

Untuk mengawal pelaksanaan kegiatan pendampingan, Baznas menempatkan seorang pendamping program. Mustahik didorong untuk memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda atau kemampuan kreatif dan inovatif. (*)

 

 

Oleh: Eka Budhi Sulistyo