Selasa, 25 Januari 2022
22 Jumada al-akhirah 1443 H
Home / Wawancara / Kearifan Lokal dan High Technology Kunci Kesuksesan BPRS
-
BPR atau BPRS mempunyai batasan tertentu yang membedakannya dengan bank umum. Namun sebenarnya,

Bagaimana Anda melihat perkembangan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)?

BPR atau BPRS mempunyai batasan tertentu yang membedakannya dengan bank umum. Namun sebenarnya, uang yang bisa dimanfaatkan oleh BPRS ini sangat besar sekali. Untuk BPR saja besar, apalagi BPR Syariah. Tapi, jika kita lihat perkembangan teknologi saat ini, perbedaan itu menjadi semakin sedikit. Sudah saling mendekati satu sama lain. Bahkan, saat ini Bank Umum sudah merasakan ancaman yang nyata dengan adanya fintech. Oleh karena itu menurut saya, jika fintech, yang ijinnya bukan bank, bisa menjadi ancaman yang nyata bagi bank umum, maka seharusnya keberadaan BPR dan BPRS ini bisa menjadi ancaman yang sangat nyata, bahkan lebih nyata, daripada fintech, bagi bank umum.

Namun sayangnya kita lihat, bahwa praktek yang dilakukan oleh BPR dan BPR Syariah justeru cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh Bank Umum. Menurut saya, jika BPR dan BPRS ini cara berpikirnya masih mengikuti apa yang dilakukan oleh Bank Umum, maka selamanya dia tidak akan pernah bisa melewati Bank Umum.

Lalu, bagaimana seharusnya?

Ok, menurut saya ada dua jalur yang harus dilakukan oleh BPR dan BPR Syariah ini dalam berkompetisi dengan Bank Umum, sekaligus berkompetisi dengan fintech. Jalur yang pertama yaitu jalur yang kita sebut dengan kearifan lokal. Di mana kita tahu persis bahwa BPRS ini dibandingkan dengan bank umum, memiliki keuntungan atau keunggulan dalam hal pengenalan dan pemahaman nasabah-nasabah lokal.

Bank Umum, karena sifatnya yang nasional, dia menjadi tahu banyak hal di berbagai tempat dan berbagai jenis bisnis, tetapi sebenarnya pengetahuannya hanya di atas. Sedangakan BPRS, karena sifatnya yang lokal, sehingga dia bisa mengetahui nasabahnya itu dengan sangat mendalam. Nah, inilah yang kita sebut dengan jalur pertama dengan kearifan lokal, yaitu dengan instrument utama yang kita sebut dengan ‘kedalaman hubungan personal’, atau dalam Bahasa Inggris sering disebut dengan istilah personal touch. Ini sesuatu yang sulit dilakukan oleh Bank Umum. Di Bank Umum, personal touch ini sifatnya terbatas dan hanya diberikan kepada segmen tertentu, yaitu segmen priority, segmen platinum. Segmen ini sangat sedikit sekali dan tidak bisa menjangkau seluruh nasabah.

Inilah jalur pertama. Yaitu, perlunya mengembangkan produk-produk dengan mengeksplotir atau memanfaatkan keunggulan BPRS dengan mengangkat kearifan lokal. Sehingga hubungan antara pegawai bank dan nasabahnya ini sangat erat sekali. Kita ambil contoh, BRI Unit desa misalnya. Di mana, hubungan pegawai BRI unit desa dengan nasabahnya bukan seperti hubungan antara bank dan nasabah, tetapi lebih jauh daripada itu. Di BRI Unit desa, para pegawai ini menjadi bagian dari komunitas. Anak pegawai dan anak nasabah sekolah di sekolah yang sama, mereka mengunjungi pengajian yang sama, arisan di tempat yang sama, mereka menjadi bagian dari masyarakat lokal itu. Orang jadi gak enak mau ngemplang. Karena mereka bukan hanya sekedar pegawai, yang dua tahun lagi, katakanlah, akan dipindahtugaskan seperti bank-bank umum lainnya. Tetapi mereka merupakan bagian dari masyarakat, yang sudah puluhan tahun tinggal di situ. Inilah yang dimaksud dengan kedekatan hubungan.

Jalur kedua yang perlu dikembangkan oleh BPRS ini adalah jalur yang disebut dengan hi-tech, atau fin-tech. Saat ini, aturan mainnya memang sedang dibuat oleh BI dan OJK. Namun, kita lihat bagaimana fintech sudah bisa menggoyang perbankan umum. Karena dia lincah, bisa cepet, bisa simple dan bisa murah. Sehingga, perbankan yang ‘tambun’ itu, menjadi kesulitan untuk bersaing. Dengan memanfaatkan teknologi handphone yang sekarang sudah dipakai oleh tiga perempat penduduk Indonesia, maka ini harus dikembangkan menjadi jalur kedua. Memang betul dia harus mengedepankan personal touch, tetapi nasabah juga mau yang simple, yang cepet, dan mudah. Bisa gak nanti kita kredit pake WA doang?

Nah, kedua jalur ini belum dimaksimalkan oleh BPR dan BPRS. Mereka cenderung memilih jalur mainstream yaitu mengikuti atau meng-copypaste apa yang dilakukan Bank Umum. Sehingga, BPRS pasti akan selalu tertinggal lima tahun di belakang Bank Umum karena hanya mengekor apa yang dilakukan oleh Bank Umum lima tahun sebelumnya.

Terkait inovasi pembiayaan dalam perbankan syariah, bagaimana implementasi program pembiayaan dalam sebuah produk?

Ya, kearifan lokal dan hi-tech itu tadi harus kita terapkan dalam mengembangakan sebuah produk pembiayaan. Melalui kearifan lokal, kita mengetahui kebutuhan mendasar apa yang masyarakat inginkan. Seperti yang dilakukan oleh HIK yang mengeluarkan pembiyaan Thaharah ini. Pembiayaan Thaharah ini merupakan langkah yang tepat untuk membantu masyarakat dalam mengurusi fasilitas kebersihan orang seperti kamar mandi, toilet, air, penyaringan air, dan lainnya. Hal ini mungkin belum terfikirkan oleh masyarakat, bahwa ternyata bisa ya mendapatkan pembiayaan untuk pembuatan toilet, misalnya. Inilah yang saya maksud dengan personal touch. Saya rasa program inovasi pembiayaan ini berada di jalur yang benar. Namun, harus diingat, layanan ini perlu dikembangkan dengan menggunakan hi-tech.

Dengan hal tersebut, nasabah menjadi lebih mudah untuk mengakses. Misalnya, nasabah bisa mensimulasikan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya dan bisa mengetahui harga yang harus dibayarkan. Bisa mengajukan pembiayaan melalui handphone, dan lain sebagainya. Maka hi-tech dan kearifan lokal ini, jika bisa berjalan beriringan, dan bisa dilakukan oleh BPR dan BPRS maka mereka pasti bisa memberikan untuk masyarakat fungsi yang maksimal.

Tags: