Jumat, 23 April 2021
12 Ramadan 1442 H
Home / Sharia insight / Keajaiban dalam Ikhtiyar

Keajaiban dalam Ikhtiyar

Senin, 22 Maret 2021 17:03
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para Sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Sharianews.com, Ada banyak peristiwa dalam al-Quran yang menceritakan tentang keajaiban. Sebagian besar kisah keajaiban adalah keluar dari kesusah payahan yang terjadi sebelumnya. Dalam kisah nabi dan rasul kita mungkin lebih mengenal keajaiban dengan istilah mukjizat. Salah satunya adalah peristiwa saat nabi Musa as dan kaumnya saat dikejar oleh Fir'aun. Membaca kisahnya dalam al-Qur'an membuat kita seolah-olah dapat merasakan betapa mencekamnya suasana saat itu. "إنا لمدركون" yang artinya: “kita pasti tersusul!”, ujar salah seorang sahabat Musa as. Bagaimana tidak, dikejar oleh seseorang yang mengaku Tuhan; seorang penguasa bengis yang dengan suka rela membunuh setiap anak laki-laki yang lahir hanya karena takut kekuasaannya digulingkan. Siapa yang tidak takut, nabi Musa as dan pasukannya sangat takut. Maka saat terus berlari menyelamatkan diri dan dihadapan menghampar samudra luas, jalan terasa buntu, muncullah ucapan itu "إنا لمدركون" yang artinya: “kita pasti tersusul!”.

Dalam menjalani kehidupan, pasti ada saja 'momen dikejar Fir'aun' tersebut, mencekamnya, tegangnya, buntunya dan sangat dekat sekali dengan putus asa. Sudah dilakukan segala yang bisa diperbuat oleh manusia rasanya, tapi hasilnya belum juga terlihat.

Lanjutan dari kisah dikejar Fir'aun tersebut, kita tahu ucapan nabi Musa as saat itu; قال كلا إن معي ربي سيهدين , yang artinya: “tidak akan (tersusul)!”, sesungguhnya Rabb ku bersamaku Dia akan memberikan aku petunjuk.  

Sejak pandemi awal tahun lalu, banyak efek domino yang terjadi; isu kesehatan, isu sosial, isu politik dan isu ekonomi. Dalam bidang ekonomi sendiri, layar berita dipenuhi dengan perusahaan-perusahaan collapse; dari yang menghentikan proses produksi hingga yang gulung tikar, ekspor-impor macet, ribuan tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan, hingga berakibat pada meningkatnya angka perceraian. Mungkin masa-masa pandemi ini terasa seperti tengah dikejar Fir'aun bagi Sebagian besar orang.

Tapi kita tidak ingin seperti kaum nabi Musa as, yang putus asa dihadapan rintangan, "إنا لمدركون", lagi, yang artinya: “kita pasti tersusul!”. Kita sebagai muslim sudah seharusnya mengenakan kacamata ke-muslim-an kita dalam memandang apapun. Kita berimana kepada nabi Musa as agar dapat meneladaninya. إن معي ربي سيهدين, yang artinya: “Rabb ku bersamaku, Dia pasti memberikan petunjuk”.

Namun saat nabi Musa as berujar demikian, beliau tidak kemudian hanya duduk dan menunggu pertolongan Allah. Beliau terus berlari dan keajaiban tidak serta merta datang, lautan tidak langsung terbelah, padahal Allah Maha Kuasa untuk melakukan hal tersebut. Bahkan disaat terdesak seperti itu, Allah masih perintahkan beliau untuk mengayunkan tongkat nya terlebih dahulu. Nabi Musa as tahu tidak mungkin sebuah tongkat kayu dapat membelah lautan, tapi karena itu perintah Tuhannya, disaat segenting apapun tetap beliau lakukan tanpa ragu. Beliau percaya dan yakin, إن معي ربي سيهدين, yang artinya: “Rabb ku bersamaku, Dia pasti memberikan petunjuk”.

Bukan mengayunkan tongkat kayu itu esensinya, bukan mukjizat itu yang utama. Rabb yang membantu nabi Musa as saat itu adalah juga Rabb yang sama yang kita sembah hari ini. Kepada nabi Musa as saja Allah masih ingin beliau ber-ikhtiyar, beliau orang sholeh dan nabi Allah. Padahal sangat mungkin bagi Allah untuk langsung mendatangkan keajaiban dengan membelahkan samudra bagi nabi Musa as dan kaumnya. Apalagi kepada kita yang kesholehannya tentu jauh dari standar nabi-nabi, tentu ikhtiyar satu atau dua kali saja mungkin belum cukup.   

Nabi Musa as yakin ia berada dijalan yang benar, maka beliau pun yakin bahwa Allah pasti akan membantu. Sebagai seorang muslim, sebelum mengharapkan keajaiban datang, tentu kita harus pastikan dulu semua usaha yang kita jalani adalah halal; baik produknya maupun prosesnya, pekerjaan kita diniatkan untuk ibadah, agar keluarga terhindar dari sumber yang tidak sesuai dengan aturan syariat. Disaat yang bersamaan kita tanamkan dalam hati adalah إن معي ربي سيهدين, yang artinya: “Rabb ku bersamaku, Dia pasti memberikan petunjuk”.

Bahwa apapun yang menimpa kita hari ini; kehilangan pekerjaan, mengalami kerugian, serba kekurangan, kita pinjam 'kacamata' nabi Musa as, Allah ingin melihat iktiyar kita lagi, menguji keyakinan kita lagi, apakah benar-benar yakin pada Kuasa-Nya disaat yang sama tetap bersungguh-sungguh. Sebelum dalam sekejapmata Ia datangkan keajaiban dalam ikhtiyar.  إن معي ربي سيهدين, yang artinya: “Rabb ku bersamaku, Dia pasti memberikan petunjuk”. Wallahua'lam.

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang professional dan terampil.  Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” 
(HR. Ahmad)

Oleh : Qoriatul Hasanah

Tags: