Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Lifestyle / Jurus Jitu Mendidik Generasi Milenial Menurut Elly Risman
Elly Risman (Dok/Foto Elly Risman)
Orang bola aja ada tujuan goalnya, masa mendidik anak gak punya tujuan pengasuhannya.

Sharianews.com,  Sebuah bencana paling besar yang tengah dihadapi mayoritas orang tua saat ini adalah ketidaksadaran bahwa dirinya sedang dalam bencana. Dimana bencana yang dimaksudkan berkaitan tentang kesalahan pola asuh pada anak, khususnya mengasuh anak milenial.

Demikan yang diungkapkan Elly Risman, psikolog yang sekaligus Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH), Februari 2019 lalu. Menurutnya, tantangan yang ada di zaman milenial (kelahiran diatas tahun 80) ini sangat berbeda dengan generasi x dan lainnya sehingga meresponnya pun harus berbeda.

Berkaitan dengan hal ini, Elly Risman atau yang akrab disapa Bunda Elly membagikan tujuh pilar pengasuhan anak milenial.

Kesiapan Orang Tua

Pada umumnya menurut Bunda Elly seseorang tidak dipersipkan untuk menjadi orang tua tetapi menjadi ahli dalam bidangnya. Sehingga yang demikian tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan pola asuh yang bahkan dapat menghancurkan anak sendiri.

“ Jadi banyak orang tua dengan reputasi akademisnya, terkadang banyak sekali kata-kata yang digunakan dapat menghancurkan dan meretakan jiwa anak. Dan itu karena berulang-ulang akhirnya digunakan kembali dari anak kita ke cucu kita. Padahal mereka ini adalah anak mienial dengan segala macam tantangannya jadi perubahan itu juga harus berlangsung,” kata Bunda Elly

Keterlibatan Ayah

Penelitian ilmiah yang baru dilakukan oleh tim Bunda Elly menunjukan, anak-anak yang mengalami kecanduan pornografi akan mengalami penyusutan otak sekitar 4,4 persen. Lalu anak tersebut berkemungkinan besar tidak dapat mengendalikan diri. Serta ditemukan, durasi mereka menonton pornografi, akan menentukan kesegeraan mereka melakukan hubungan seksual yang berisiko.

“Dan hasil dari segi parentingnya adalah pengaruh ayah. Jadi kita liat lagi dalam Al-Quran, disitu dibilang kalo yang mengasuh adalah ayah. Nah apa kabar dengan pengasuhan ayah? Jangan-jangan dia cuma berpikir perannya adalah mencari nafkah. Bukan sebagai murrabi, guru, coach bagi anak,”  kata dia mempertanyakan.

Menurutnya, kerjasama dalam keluarga harus terjalin antara ayah dan ibu sebagai bentuk ketahanan, terutama peran ayah sebagai leader (pemimpin). Sebab yang terjadi di zaman sekarang tantangan terlalu besar tetapi daya tahan tubuh tidak ada.

Merumuskan Tujuan Pengasuhan

Ketika sebuah keluarga tidak memiliki tujuan pengasuhan, maka yang terjadi adalah tidak ada pendirian untuk memutuskan sesuatu. Sehingga apapun yang dilakukan orang lain terhadap anaknya akan diikuti tanpa melihat konsekuensi, seperti pemilihan sekolah, penggunaan gadget, dan lainnya.

“Orang bola aja ada tujuan goalnya, masa mendidik anak gak punya tujuan pengasuhannya. Gak ada kesepakatan antara orang tua, apa aja yang harus dilakukan. Jadi ya mengalir begitu aja,” lanjut psikolog anak ini.

Berbicara Dengan Baik dan Benar

Berbicara dengan baik dan benar, dalam artian menyesuaikan dengan kaidah Qur’an (bagi muslim) serta tidak melampaui kaidah-kaidah cara kerja otak yang berakhir tidak menyenangkan.

Pasalnya jika tidak, anak akan menjadi resah (sumpek), kesal atau jangan-jangan menjadi  penuh dendam. Yang demikian seringkali berdampak pada BLAS (Boring, Lonely, Angry dan Stres).

“Jadi anak itu udah boring (bosan). Misal dari kecil udah les calistung, udah gak ada waktu, padat. Lonely (kesepian), pulang kerumah gak ada mama dan ayah. Kalo ada uang 2500 aja bisa main ke warnet, dirumah cuma ada pembantu, perabot rumah tangga lengkap, hingga akhirnya jadi Angry (marah),”

Dari perasaan marah tersebut, lanjutnya, diperkirakan berkemungkinan besar anak pada usia 8 tahunan akan menjadi Stres dan capek jiwanya. Sehingga itulah membuat dia lari kea rah yang tidak baik.

Orang Tua Mengajarkan Agama pada Anak

Kesalahan besar yang terjadi saat ini adalah pelajaran agama diserahkan seluruhnya kepada orang lain. Padahal sangat banyak yang harus diberikan dan tidak cukup apabila hanya disekolah yang notabennya hanya 45 menit dalam seminggu untuk sekolah negeri, dan lebih banyak sedikit pada sekolah islam.  

“Jadi yang tanggung jawab semestinya yang punya sperma dan sel telur lah. Karena dia yang yang dipih menjadi baby sisternya Allah, tapi kenapa di sub-kontrak. Terutama dalam pendidikan agama. Terus jadi gak memerhatikan kaidah-kaidah kerja otak,”

Ia melanjutkan, karena yang menjadi patokan dalam pendidikan bukan ‘bisa’ tapi ‘suka’. Sehingga orang tua ada atau tidak, anak itu akan tetap solat, ngaji, tidak bergantung pada kehadiran orang tua.

“Jadi kita tuntaskan dulu pengajaran dari kita (orang tua) baru di sub kontrakan anak kita kepada orang lain. Karena memang kita bukan ahlinya dan gak semua bisa kita lakuin,” imbuh Elly Risman.

Persiapkan Anak Ketika Baligh (pubertas)

Dampak ketika anak, khususnya anak laki-laki tidak dipersiapkan menghadapi masa baligh khawatir tidak dapat mengendalikan nafsu.

“Jadi anak dengan handphone ditangannya, dia terkategori BLAS tadi masuk kamar, dia buka semua website (konten pornografi). Jadi anak yang gizinya bagus, rangsangannya lebih cepat, mature (kedewasaanya) lebih cepet (sexualy active). Bayangin anak-anak yang sexualy active dengan kamar-kamar yang tertutup dan handphone yang canggih yang udah diperkenalkan dengan ibu nya,” ujar dia dengan nada yang menggebu.

Berdasarkan penelitian, lanjutnya, dari 35 sampai 90 persen orang tua milenial memperkenalkan handphone kepada anaknya dari usia 2 sampai 6 tahun. Dimana hal tersebut dianggap sebagai sebuah kegilaan yang dilakukan orang tua.

Bijak dalam Teknologi

Ketika yang terjadi saat ini sesuai dengan hasil penelitian tersebut (pemberia gadget di usia dini) pada akhirnya anak menjadi gak bijak dalam teknologi.

“Jadi apa yang kita harapkan dari tujuh pilar ini, jangan-jangan semuanya hampa. Jadi kalo kita mau liat permasalahan, gak usah nunjuk-nunjuk orang lain kita liat dulu ke dalam diri kita sendiri. Karena ketahanan selanjutnya dari kita (orang tua),” pungkas Bunda Elly.

Reporer: Fathia Editor: Munir Abdillah

Tags: