Minggu, 26 Mei 2019
22 Ramadan 1440 H
Home / Zakat insight / Jaring Pengamanan itu Bernama Zakat dan Wakaf
FOTO I Dok. Sharianews
Dalam kacamata ekonomi, delapan golongan asnaf memiliki kesamaan dalam satu hal, yaitu lemahnya tingkat daya beli yang mereka miliki sehingga ketika terjadi guncangan perekonomian seperti nilai tukar melemah atau hal lain yang lebih buruk maka golongan-golongan inilah yang paling terdampak.

Sharianews.com, Dalam 6 bulan terakhir, tidak dapat dimungkiri bahwa guncangan ekonomi global terus menekan kondisi perekonomian Indonesia. Hal ini berdampak kepada naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Bahkan pada akhir kuartal 2018, rupiah berada pada titik terlemah yakni Rp15,237 per dolar AS. Pelemahan nilai rupiah terhadap mata uang asing, tentunya akan memicu peningkatan harga pada barang-barang impor.

Perlu diketahui, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) nilai impor Indonesia terbesar ada pada barang konsumsi, yang mengalami peningkatan sebesar 23.72 persen sepanjang tahun 2018. Kondisi ini akan berimbas terhadap kalangan pengusaha, yang akan dengan terpaksa menaikan harga barang yang akan dijual, dan akan semakin memperburuk tingkat daya beli masyarakat.

Sebagai upaya untuk menstabilkan nilai rupiah, sampai dengan Oktober 2018, Bank Indonesia telah mengintervensi pasar dengan mengeluarkan cadangan devisa sebesar 3,1 miliar dolar AS, untuk menjaga  volatilitas nilai rupiah agar tetap sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Namun, pada faktanya, nilai harga kebutuhan pokok masyarakat tidak akan serta merta turun dengan operasi pasar yang dilakukan oleh Bank Indonesia, karena pengaruh dari operasi moneter itu sendiri membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Sudah menjadi rahasia umum, jika harga barang naik, maka para pengusaha enggan untuk menurunkan kembali harga barang sebagai antisipasi atas harga komoditas yang tidak menentu. Kondisi ini tentunya akan semakin menurunkan tingkat daya beli masyarakat, dan akan menjadi bencana bagi masyarakat kecil, yang memang pada kondisi normal pun memiliki daya beli yang rendah.

Zakat dan wakaf sebagai salah satu instrumen fiskal dalam Islam tentunya memiliki peran yang sangat kritikal dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat. Tidaklah heran jika pada masa kekhalifahan Abu Bakar, orang-orang yang tidak membayar zakat diperangi sampai ke akar-akarnya. Hal ini disebabkan zakat memiliki peran yang sangat strategis bagi perekonomian. Di Indonesia sendiri potensi zakat dan wakaf sangatlah luar biasa.

Hal ini bisa kita lihat dari penelitian, yang dilakukan oleh Baznas dan IPB bahwa potensi zakat mencapai Rp217 triliun. Sedangkan menurut Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) nilai potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp370 triliun, jika digabungkan maka nilai potensi zakat dan wakaf mencapai  seperempat dari nilai APBN Indonesia! Sungguh angka yang cukup fantastis bila dimaksimalkan dengan baik maka akan memperbaiki sekaligus menguatkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Jika kita perhatikan dengan saksama, zakat dan wakaf berkontribusi besar dalam menstabilkan kondisi ekonomi Indonesia melalui penguatan tingkat daya beli masyarakat terlebih bagi mereka dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Zakat sebagaimana yang diatur dalam Alquran diperuntukkan khusus bagi delapan asnaf (golongan).

Dalam kacamata ekonomi, delapan golongan tersebut memiliki kesamaan dalam satu hal, yaitu lemahnya tingkat daya beli yang mereka miliki sehingga ketika terjadi guncangan perekonomian seperti nilai tukar melemah atau hal lain yang lebih buruk maka golongan-golongan inilah yang paling terdampak.

Maka, di sinilah peran zakat sebagai first aid atau pertolongan pertama bagi delapan golongan tersebut agar memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan dana zakat yang mereka terima, sehingga secara otomatis kemampuan tingkat daya beli mereka akan membaik dan bahkan bisa terjaga di saat kondisi ekonomi dalam keadaan sulit.

Instrumen fiskal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah wakaf. Saat ini pengelolaan wakaf sangat bervariatif dan inovatif. Bahkan, pengelolaan harta wakaf saat ini lebih diarahkan ke sektor-sektor produktif dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan sehingga penerima manfaat wakaf (Mauquf a’laih) akan menerima manfaat yang lebih besar dan bahkan bisa memberdayakan masyarakat umum secara ekonomi.

Maka, tidaklah heran apabila pemerintah baru-baru ini melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat pilot project berupa bank wakaf mikro yang saat ini sudah berjalan di beberapa daerah di pulau jawa. Melalui bank wakaf mikro inilah dana wakaf akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui program pemberdayaan ekonomi. Sehingga, pada akhirnya program ini akan semakin menguatkan dan menstabilkan kemampuan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Oleh karenanya, bisa kita pahami bahwa zakat dan wakaf memiliki peran nyang sangat strategis dalam membangun fundamental ekonomi yang kuat. Jika zakat berfungsi sebagai alat untuk meperbaiki ketidakmampuan dalam hal daya beli, maka wakaf berfungsi sebagai penguat dan penstabil daya beli yang telah dimiliki oleh masyarakat.

Lalu, bagaimana hubungannya antara stabilisasi nilai tukar rupiah dengan zakat dan wakaf? Dan bagaimana zakat dan wakaf bisa menjadi katalisator dalam memperkuat fundamental ekonomi bangsa kita? Daya beli mencerminkan baik atau tidaknya ekonomi suatu Negara. Di Indonesia sendiri, tingkat konsumsi domestik menyumbang sekitar 40 persen dari total GDP Indonesia, sehingga naik turunnya tingkat konsumsi akan sangat berpengaruh ke nilai GDP.

Level daya beli masyarakat, menjadi indikator kinerja bagi tingkat konsumsi secara agregat. Maka, zakat dan wakaf berperan aktif dalam menjaga tingkat daya beli masyarakat, agar tetap stabil dan terjaga dari guncangan-guncangan ekonomi global.

Dan tentunya, kondisi ini akan memberi keyakinan kepada negara lain, atau investor asing yang sedang berinvestasi di Indonesia, dan bahkan cenderung bisa menarik investor-investor baru, dengan membawa triliunan devisa yang mereka miliki ke Indonesia.

Dengan demikian, secara otomatis nilai tukar rupiah akan semakin kokoh terhadap mata uang asing lainnya. Maka jelaslah di sini bahwa zakat dan wakaf memiliki peran yang sangat signifikan, dalam stabilisasi kondisi ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu, tidaklah heran, dalam pertemuan bank sentral dunia yang diadakan di Beijing pada awal kuartal 2018. Bank Indonesia sebagai salah satu peserta pada pertemuan tersebut, memaparkan tentang pentingnya sektor keuangan sosial, baik itu zakat, wakaf dan instrumen keuangan sosial lainnya sebagai salah satu alternatif, yang perlu dipertimbangkan dalam menstabilkan kondisi ekonomi suatu negara.

Bahkan, PBB melalui sayap organisasinya UNDP tertarik untuk bermitra dengan lembaga zakat, dalam rangka merealisasikan program Sustainable Development Goals (SDGs). Maka jelaslah perintah Allah SWT yang menggandengkan perintah mendirikan salat dengan perintah menunaikan zakat sebanyak 28 kali dalam ayat Alquran seakan menegaskan bahwa zakat memiliki arti yang sangat penting yakni sebagai pondasi ekonomi sebagaimana salat berperan sebagai pondasi agama.

Oleh karenanya, marilah kita sebagai masyarakat Muslim dengan jumlah populasi terbesar di dunia bersatu dan mulai menyadari, bergerak dan berkontribusi dalam menstabilkan kondisi ekonomi negara kita melalui zakat dan wakaf, sehingga bukan suatu hal yang mustahil di masa yang akan datang ketika kondisi ekonomi global memburuk pun, perekonomian negara kita tetap bertahan, karena kita telah membuat jaring pengaman ekonomi melalui pemberdayaan zakat dan wakaf yang telah kita maksimalkan dengan baik. Wallahu A’lam. (*)

(Peneliti Senior Puskas BAZNAS)

Oleh: Abdul Aziz Yahya Saoqi, M.Sc