Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. www.goodnewsfromindonesia.id
Sekitar 60 persen gelatin yang beredar di pasaran berasal dari babi. Lalu, 30 persennya meragukan, binatangnya mungkin halal, tetapi penyembelihannya tidak.

Sharianews.com, Jakarta. Irwandi Jaswir, Profesor di bidang teknologi dan seorang halal scientist, mengembangkan temuan baru dalam gaya hidup halal. Ia berhasil membuat gelatin dari tulang unta dan dan sisik ikan. Gelatin merupakan senyawa turunan protein yang terbuat dari kulit, tulang dan jaringan ikat. Dalam industri makanan & minuman, gelatin berfungsi sebagai pengental penstabil dan pengenyal.

Pria yang mendapat julukan Profesor Halal ini memaparkan bahwa umumnya gelatin yang beredar banyak yang tidak halal.

“Sekitar 60 persen gelatin yang beredar di pasaran berasal dari babi. Lalu, 30 persennya meragukan, binatangnya mungkin halal tapi penyembelihannya tidak,” kata Irwandi, saat ditemui sharianews.com di Jakarta.

Menurut Irwandi gelatin merupakan bahan super ingeridents, gelatin sering digunakan dalam, berbagai produk seperti bahan pangan, obat-obatan, dan kosmetik. Irwandi menegaskan bahwa saat ini pengeluaran individu untuk membeli kosmetik cukup besar.

Untuk mengembangkan gelatin halal di lndonesia, potensinya sangat besar. Selain konsumen halal yang terus meningkat, gelatin yang kita gunakan saat ini sebagian besar merupakan produk impor.

Irwandi menegaskan, Indonesia perlu mengembangkan gelatin halal karena sumber bahan bakunya sangat banyak. Gelatin bisa dibuat dari ikan, sapi dan kambing. Jika digarap dengan baik tentu akan menjadi sumber komoditas ekspor. Lebih lanjut ia mencontohkan, 60 persen obat-obatan yang beredar menggunakan bahan yang dibuat dari gelatin.

“Makanan, es krim dan coklat membutuhkan gelatin. Hampir semua kosmetik memerlukan gelatin, mulai dari lotion, lipstik dan lain-lain.” Tambah Irwandi.

Maret lalu, Irwandi mendapat penghargaan bergengsi dari King Faisal International Prize 2018. Ia memenangkan kategori Pelayanan Kepada Islam (Service to Islam). Pertama dalam sejarah King Faisal International Prize, kategori ini dimenangkan oleh ilmuwan dari Indonesia.

“Jadi, yang dilihat dari penghargaan King Faisal International Prize adalah kontribusi saya dalam 20 tahun terakhir. Memang, selama ini saya banyak melakukan penelitian dalam bidang halal scientist,” Irwandi menambahkan. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo