Sabtu, 4 April 2020
11 Sha‘ban 1441 H
Home / Keuangan / Investor Fintek Syariah Ethis Berasal dari 59 Negara
Ethis merupakan salah satu penyelenggara teknologi finansial (tekfin) syariah yang melayani pembiayaan berbasis Peer-to-Peer Financing.

Sharianews.com, Jakarta ~ Saat ini, perusahaan fintech syariah Ethis telah memiliki investor yang berasal dari 59 negara lebih. Jumlah investor paling banyak tercatat berasal dari Singapura dan Malaysia.

Sebagai informasi, Ethis merupakan salah satu penyelenggara teknologi finansial (tekfin) syariah yang melayani pembiayaan berbasis Peer-to-Peer Financing. Sebagai salah satu perusahaan rintisan, Ethis menghubungkan developer dan komunitas pemberi pembiayaan secara digital.

Direktur Utama Ethis, Ronald Yusuf Wijaya menjelaskan faktor membludaknya jumlah investor saat ini disebabkan sistem Ethis sudah berjalan secara digital. Meski melakukan promosi di Singapura dan Malaysia, Ethis juga bisa diakses dari negara lain. Saat warganet melakukan pencarian dengan kata kunci sharia investment, ethical investment, atau social impact investment, mereka akan menemukan Ethis.

“Mereka yang tidak mengenal Indonesia, kami berikan literasi mengapa Indonesia potensial. Makanya mereka bisa invest melalui platform. Saat ini, kawasan Timur Tengah dan Eropa merupakan investor Ethis yang sedang tumbuh,” kata Ronald, saat ditemui Sharianews.com, di Jakarta, baru-baru ini.

Meski menggunakan akad syariah, Ronald menceritakan, 20 persen investor Ethis merupakan nonmuslim. Di negara maju, paham tentang investasi syariah bukan hanya investasi khusus umat Islam, tapi lebih kepada konsep ethical investment atau social impact.

Dari 59 negara yang menjadi investor itu, 97 persennya masih berasal dari luar negeri, sisanya dari Indonesia. Hal tersebut disebabkan Ethis baru terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun lalu.

Ethis memiliki tim yang berasal dari 15 negara, di antaranya Malaysia, India, Indonesia, Singapura, dan Bangladesh. Hal tersebut memberikan pengaruh besar bagi Ethis untuk menjalin komunikasi dengan para investor dari berbagai negara. Misalnya, bila ada investor yang berasal dari Arab, maka anggota atau tim yang mampu berbahasa Arab akan menangani. Begitu pula dengan investor yang berbahasa lain seperti Urdu, Inggris, Perancis, India, dan Melayu. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo