Kamis, 21 Maret 2019
15 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. sharianews
“Investasi” bagi Milenial ternyata tidak melulu mainstream, melainkan juga “anti mainstream”, misalnya berupa pendidikan tinggi sesuan passion, pengalaman hidup (misalnya jatuh-bangun membuka bisnis ala startup), bahkan traveling demi bisa melihat dunia luar di sekitarnya.

Sharianews.com, ‘Que Sera-Sera’, lagu ini cukup populer dan legendaris selama bertahun-tahun lamanya, sejak dirilispertama kali oleh dua penciptanya, yaitu Jay Livingston dan Ray Evans, di tahun 1956. “What will be, will be”, itulah makna lagu tersebut, yang dalam Bahasa Indonesia artinya, “apa yang terjadi, terjadilah”.

Beberapa bulan ini, lagu ‘Que Sera-Sera’ juga populer kembali karena digunakan sebagai theme songiklan produk ponsel Korea terkenal yang hampir setiap malam ditayangkan di stasiun televisi swasta pada saat prime time.

‘Que Sera-Sera’ merupakan suatu paradoks, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Pertama, “apa pun yang akan terjadi, terjadilah”. Sekilas seperti manusia yang sedang pasrah akan nasib yang menimpanya, karena sudah berusaha keluar dari masalah tersebut. Namun belum nampak perubahan signifikan menyangkut nasibnya. Yang kedua, “penyerahan diri kepada Sang Pemilik Hidup tentang kehidupan kita yang belum dan tidak kita ketahui”. Atau dengan kata lain, bertawakal.

Terlepas dari hal tersebut, kita tidak sedang membahas lagu Que Sera-Sera yang cukup legendaris, melainkan maknanya yang dalam dan bisa kita hubungkan dengan apa yang terjadi dengan kaum muda Milenial saat ini ketika ditanya mengenai persiapan menghadapi masa depan yang serba tidak pasti dan cukup kompetitif. Investasi apa yang terpikir oleh mereka? Jawaban “belum kepikiran, masih bingung…”, “ah biarlah urusan nanti kalau sudah menikah”, “entahlah, yang terjadi, terjadilah..” mungkin sudah sering kita dengar.

Berinvestasi sejatinya merupakan salah satu kewajiban finansial yang sangat penting dilakukan oleh generasi muda Milenial sejak dini. Alasannya, nilai investasi akan bertambah berkali-kali lipat beberapa tahun kemudian, dan akan menguntungkan buat menjamin masa depan mereka. Namun bagaimana menghadapi mereka yang enggan berinvestasi? Daya tarik seperti apa yang mungkin bisa membuat mereka tergerak berinvestasi sejak dini?

Mungkin beberapa dari Anda pernah melihat iklan di stasiun televisi swasta nasional pada jam-jam prime time mengenai investasi emas online. Satu portal marketplace ternama di Indonesia merilis iklan tersebut yang tujuannya menyasar generasi Milenial khusunya perempuan lajang setengah mapan.

Tema iklan tersebut sebenarnya cukup sederhana, yaitu bagaimana membuat mereka sadar berinvestasi. Namun yang membuat menarik adalah usaha untuk menangkap anxieties dan desires kelompok ini yang suka membeli perhiasan buat disimpan (“investasi”) tetapi takut menyimpan karena rawan kejahatan.

Jadilah portal ini menawarkan solusi terbaik, investasi emas online. “Hanya dengan Rp500 #MulaiAjaDulu”, begitu bunyi pesannya supaya jangan menunda berinvestasi. Toh ada cara yang sangat mudah di era digital ini. Jika ada yang mudah, mengapa pilih yang sulit? Demikian kira-kira pesan yang tersirat dari iklan tersebut. Mengapa aspek “kemudahan” berinvestasi ditonjolkan sebagai pesan utama? Benarkah menggugah minat berinvestasi sejak dini pada generasi Milenial demikian sulitnya?

Milenial Galau Menentukan Pilihan Investasi

Banyak informasi yang bertebaran di berbagai media yang intinya menyatakan bahwa “mendekati generasi Milenial dan membuat mereka sadar bernvestasi bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana”.

Rupanya baru sebagian kecil dari generasi Milenial (khususnya kelompok lajang) yang belum terliterasi dengan baik mengenai investasi. Bahkan, ada indikasi bahwa sebagian dari mereka ini kurang peduli terhadap masa depannya. Apakah ‘ketenangan batin di masa depan’ ala Milenial sungguh berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya? Rupanya kecukupan materi yang dicapai secara cepat (kalau tidak bisa disebut “instan”) tidak membuat mereka langsung berpikir untuk berinvestasi demi masa depan yang lebih baik. Ada beberapa kelompok Milenial yang enggan berinvestasi meskipun kondisi keuangan mereka sangat memungkinkan.

Bertanya mengenai “investasi apa yang paling diminati” kepada generasi muda zaman now sungguh gampang-gampang susah. Meskipun mereka dimanja dengan berbagai kemudahan di era digital ini, rupanya tidak semua paham apa yang harus mereka lakukan demi masa depan melalui investasi. Jika kita bertanya, “apa yang terlintas di benak kalian jika mendengar kata INVESTASI?” jawaban generasi Milenial bisa dipastikan akan berbeda dengan jawaban Generasi X. Pada Generasi X, “Investasi” bisa bermakna baik fisik maupun psikis, jiwa maupun raga. “Punya anak sehat dan berprestasi”, “punya pekerjaan tetap dengan karir cemerlang dan gaji besar”, “punya warisan harta benda”, “investasi dunia akhirat”, “punya sesuatu yang bisa dipertahankan jangka panjang”, dan sebagainya; mungkin menjadi variasi jawaban generasi zaman old alias Generasi X.

Investasi Mainstream: Pilihan Klasik

Apa maksud “investasi mainstream”? “Investasi mainstream” di sini merupakan berbagai macam pilihan investasi yang ditawarkan oleh berbagai player di berbagai industri, khususnya industri finansial, misalnya: Investasi di Pasar Modal (contoh: saham, obligasi, reksadana, surat berharga); Investasi di Pasar Uang (contoh: deposito, Sertifikat Bank Indonesia/SBI, Surat Berharga Pasar uang/SBPU. Selain itu, di era digital seperti saat ini, investasi online mestinya cukup menarik perhatian Milenial. Sebut saja Investasi Online Valas/Forex dan Saham buat mereka yang suka menikmati “adrenalin harap-harap cemas” karena investasi jenis ini menawarkan return sekaligus risiko yang tinggi. Yang tak kalah menarik juga adalah investasi online emas, yang nilainya relatif naik setiap tahun meskipun hanya sesuai bagi mereka yang sudah punya cukup pengalaman. Sementara investasi online reksadana dianggap memiliki risiko sedang meskipun return yang dihasilkan juga tidak terlalu tinggi.

Sebagian Milenial muslim juga peduli terhadap investasi Syariah yang menurut mereka paling menenangkan karena dijamin kehalalannya. Investasi ini meliputi beberapa pilihan, antara lain:

Tabungan Mudharabah (bagi hasil), Deposito Mudharabah (berjangka waktu), Emas, Sukuk (Obligasi Syariah), Reksadana Syariah, dan Saham Syariah.

Nah, rupanya berbagai jenis “investasi mainstream” tersebut baru sebatas diminati oleh Milenial yang benar-benar “melek” alias terliterasi dengan baik, sehingga perlu usaha yang keras untuk menyosialisasikannya.

Investasi Anti Mainstream: Pilihan Alternatif

Riset eksploratif skala kecil terhadap 30 perwakilan Milenial lajang – pekerja white collar baik usaha sendiri maupun bekerja di perusahaan orang lain di Jakarta menghasilkan indikasi temuan menarik.

“Investasi” bagi Milenial ternyata tidak melulu mainstream, melainkan juga “anti mainstream”, misalnya berupa pendidikan tinggi sesuan passion, pengalaman hidup (misalnya jatuh-bangun membuka bisnis ala startup), bahkan traveling demi bisa melihat dunia luar di sekitarnya.

Infografis berikut ini menunjukkan variasi Investasi yang menjadi andalan generasi Milenial, khusus bagi mereka yang masih lajang alias jomblo, di mana investasi “anti mainstream” dianggap cukup bisa diperhitungkan.

Pendidikan atau mencari ilmu pengetahuan merupakan salah satu investasi tak berwujud yang sesuai untuk generasi Milenial. Dengan berpendidikan tinggi mereka berharap memiliki masa depan yang cerah. Meskipun relatif menguras biaya, apalagi bila sekolah/kuliah di tempat bergengsi, pendidikan yang berkualitas akan membuat potensi seseorang semakin berkembang dan menjadi modal penting dalam mewujudkan cita-cita. Ilmu Pengetahuan bisa juga diperoleh melalui keikutsertaan dalam berbagai seminar, workshop, baik yang diselenggarakan oleh instansi maupun pakar di bidang tertentu.

Harapannya, kualifikasi akan meningkat dan eksistensi akan diperhitungkan di dunia kerja yang semakin kompetitif ini. Sementara investasi pengalaman, baik yang diperoleh secara sengaja maupun tidak sengaja dianggap sebagai investasi yang tak berwujud, karena tempaan pengalaman bisa membentuk karakter seseorang serta bagaimana mereka mencari suatu solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Ada satu lagi, yaitu traveling. Bagi Milenial, tren traveling baik dalam maupun luar negeri dipandang menjadi investasi yang cukup bermanfaat, asalkan bukan merupakan perwujudan pembuktian diri semata. Tujuan belajar dan menimba pengalaman untuk kemudian ditularkan kepada orang lain, apalagi bisa memonetisasi pertukaran informasi tersebut melalui media sosial, sungguh menjadi investasi alternatif yang cukup menarik bagi Milenial. Hal ini bisa kita lihat para travellers sejati yang disponsori untuk jalan-jalan alias traveling kemudian menulis pengalaman mereka di media sosial. Selain mendapat pengalaman berharga sehingga memperluas cakrawala, pundi-pundi uang mereka juga semakin gemuk. Menarik bukan?

Oke, saatnya kalian, para generasi muda Milenial memilih investasi mana yang menguntungkan dan sesuai karakter kalian! Jangan takut gagal, yang perlu diwaspadai justru jika selamanya ragu-ragu berinvestasi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Yuuk, “MulaiAjaDulu. (*)

Oleh: Nastiti Tri Winasis