Selasa, 25 Januari 2022
22 Jumada al-akhirah 1443 H
Home / Lifestyle / Intan Erlita Beberkan Kondisi Kejiwaan Warganet yang Suka Membully
Intan Erlita (Dok/Foto Istimewa)
Kemungkinan lain adalah ia tidak diajarkan oleh lingkungan sekitar bagaimana caranya memberikan kasih sayang pada orang lain.

Sharianews.com, Di era digital ini, sosial media menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan bagi masyarakat dunia. Bahkan beberapa orang lebih memaksimalkan kehidupannya di media sosial ketimbang kehidupan aslinya.

Sosial media dijadikan tempat eksis dan berbagi. Menurut Intan Erlita selaku psikolog sekaligus publik figur, semua harus siap menerima komentar. Itu konsekwensi telah memposting cuitan atau foto kita ke publik.

“Kalo buat saya ketika kita punya sosmed (sosial media) dan upload sesuatu maka kita harus siap dikomentari. Dan perlu diketahui juga, tidak semua orang juga suka dan pro sama kita, ada juga orang yang tidak suka sama kita tanpa alasan sampai-sampai dia komentar macam-macam di sosial media,” kata Intan.

Jika menimbang dari sisi psikologis, sikap netizen yang selalu berkomentar negatif atau masuk dalam kategori bullying tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, karena berkomentar di sosial media tidak memiliki beban. Sehingga siapapun yang ingin melakukannya hanya tinggal mengetik dan mempostnya (mengirim).

“Selanjutnya, mereka berpikir untuk berkomentar nggak perlu kenal, tinggal lihat aja, kalau suka ya tinggal bilang suka kalau gak suka tinggal bilang nggak suka,” jelas Intan.

Pada dasarnya memang generasi hari ini lebih dominan aktif di sosial media. Intan Erlita membandingkan generasi jaman dulu, ketika mereka mengkritik seseorang memiliki cara sendiri yang lebih halus dan berpikir agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

Fenomena anak zaman dahulu dinilainya sangat berbeda dengan anak muda hari ini. Efek dari sosial media ini, bisa jadi karena kondisi kejiwaan netizen yang berpikir bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang lain.

“Padahal kan apa yang diposting seseorang belum tentu sebaik itu. Cuma ini efek sampingnya ketika seseorang tidak merasa lebih baik hidupnya dari orang lain, merasa kurang, merasa bahwa hidup nggak adil buat dia, akhirnya terbentuklah rasa iri bagi netizen yang negatif ini ya. Jangan-jangan mereka bermasalah sama hidupnya, jadi mereka ngorekin terus masalah orang lain,” ujar wanita kelahiran 23 November 1980 ini.

Dalam artian terdapat sesuatu yang kosong di hati netizen yang akhirnya dilampiaskan melalui sebuah pandangan bahwa hidup itu negatif.

“Nah agar mengatahui kekosongannya karena apa, bisa kita tarik ke beberapa kemungkinan faktor. Mungkin dari pola asuh, mungkin mereka jarang diberikan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya,” lanjut Intan

Kemungkinan lain adalah ia tidak diajarkan oleh lingkungan sekitar bagaimana caranya memberikan kasih sayang pada orang lain. Sehingga yang demikian menciptakan relung atau ruang kosong di hatinya yang hampa serta memandang hidup orang lain yang lebih baik (menurutnya) sebagai lawan atau kontra.

“Jadi saya melihat di sini kalau dulu nggak keliatan karena nggak ada sosial media jadi orang nggak bisa mengomentari  hidup orang lain. Kalau sekarang sosial media jadi kehidupan orang, kemewahan orang ter-upload anytime. Tapi lupa dengan upload itu ada orang-orang lain yang merasa iri, hingga akhirnya keluar komentar-komentar negatif,” pungkas dia.

 

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah