Minggu, 12 Juli 2020
22 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Lifestyle / Ini Hukumnya Menggunakan Masker Ketika Salat
Foto dok. MUI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jamaah untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19.

Sharianews.com, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jamaah untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19.

Salah satu yang terkandung dalam fatwa itu adalah tentang penggunaan masker saat salat. Ada dua hal yang diatur terkait masker ketika salat.

Pertama, menggunakan masker yang menutup hidung saat salat hukumnya boleh dan salatnya sah karena hidung tidak termasuk anggota badan yang harus menempel pada tempat sujud saat salat.

Kedua, menutup mulut saat salat hukumnya makruh, kecuali ada hajat syar'iyyah. Karena itu, saalat dengan memakai masker karena ada hajat untuk mencegah penularan wabah Covid-19 hukumnya sah dan tidak makruh.

Selain itu, ada tiga rekomendasi yang tertuang di fatwa tersebut teekait salat jumat, yakni pelaksanaan salat jumat dan jamaah perlu tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, membawa sajadah sendiri, wudlu dari rumah, dan menjaga jarak aman.

Kemudian, perlu memperpendek pelaksanaan khutbah Jum'at dan memilih bacaan surat Al-Qur’an yang pendek saat salat. Terakhir, jemaah yang sedang sakit dianjurkan salat di kediaman masing-masing.

Pandemi Covid-19 membuat umat muslim harus menjaga jarak ketika sedang melaksanakan salat jumat. Hal ini mengakibatkan daya tampung masjid berkurang. Dikhawatirkan sebagian umat muslim tidak mendapat tempat untuk salat jumat.

Muncul seruan untuk melakukan salat jumat sebanyak lebih dari satu sif di satu tempat untuk mengatasi hal itu. Menanggapi seruan tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin menyatakan pelaksanaan salat jumat tidak bisa dilakukan bersif-sif atau secara begelombang di satu tempat.

Namun, dengan membuka kesempatan mendirikan salat jumat di tempat-tempat lain yang memungkinkan seperti musala, aula, gedung olahraga, stadion, dan sejenisnya. “Karena hal itu mempunyai argumen syari’ah (hujjah syar’iyyah) yang lebih kuat dan lebih membawa kemaslahatan bagi umat Islam,” jelas Zaitun, di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (4/6).

Rep. Aldiansyah Nurrahman