Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Lifestyle / Ini Dia Perbedaan Wisata Religi dengan Wisata Halal
FOTO | romy.sharianews.com
Negara-negara tujuan wisata dengan penduduk minoritas muslim pun mulai menyediakan fasilitas untuk kebutuhan wisata halal, antara lain karena melihat peluang bisnis yang besar.  

Sharianews.com, Jakarta. Terminologi halal cakupannya sangatlah luas. Di Indonesia terminologi halal tidak hanya terkait dengan makanan saja, tetapi juga terkait dengan tema seperti wisata halal, obat dan vaksin halal, kosmetik halal, dan lainnya. Lalu, apakah wisata religi itu sama dengan wisata halal?

Menurut Sekjen Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Imaduddin Indrissobir, ternyata ada perbedaan antara keduanya. Terutama jika dilihat dari tujuannya. 

"Wisata halal agak berbeda dengan wisata religi. Kalau dijelaskan, wisata halal ini sama seperti kita ke tempat lain dengan tujuan jalan-jalan, leisure, tetapi memiliki extended services,"jelasnya ketika ditemui di Halal Tourism Expo, Jakarta, Sabtu (24/11/2018).

Imaduddin kemudian menjelaskan fasilitas yang harus tersedia dalam kegiatan wisaata halal. Menurutnya, kebutuhan sebagai muslim traveler ketika bepergian membuat para jasa travel bersertifikat 'halal' tersebut harus menyediakan fasilitas penunjung wisata halal seperti restoran dengan sertifikat halal, fasilitas sholat, meliputi tempat dan area wudhu yang memadai, dan perlengkapan shalat lainnya.

"Muslim friendly washroom istilahnya, jadi kalau kita ke kamar mandi atau toilet, seorang muslim harus membersihkan diri dari hadats ataupun najis, meskipun di hotel bintang 5 juga harus diperhatikan dan harusnya tersedia seperti itu," ujarnya.

Negara-negara tujuan wisata dengan penduduk minoritas muslim pun mulai menyediakan fasilitas untuk kebutuhan wisata halal, antara lain karena melihat peluang bisnis yang besar.

Misalnya jika melihat data penelitian tengang besaran peluang nilai keekonomian wisata halal dari Reuters tahun 2016. "Secara target konsumen global penelitian Reuters tahun 2016, menyebutkan market wisata halal dari muslim Indonesia berada di level 158 miliar dolar AS, kedua setelah China di level 162 miliar dolar AS. Ini di luar ibadah haji dan umroh,"katanya.

Sementara wisata religi atau religious tourism (pilgrimage tourism),biasanya dikaitkan dengan nilai keindahan, keunikan, dan nilai religi. Seperti objek wisata religi biasanya berupa tempat-tempat bernilai religi seperti masjid, peninggalan bangunan bersejarah yang bernilai religi, ziarah dan lain-lain.

Oleh karena itu wisata religi seringkali erat kaitan dengan wisata sejarah, yang merupakan bagian dari wisata budaya. Maka dalam Kementerian Pariwisata di bawah Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, terdapat Bidang Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi.

Melalui kegiatan Halal Tourism Expo 2018 ini, diharapkan para pengusaha, praktisi, dan berbagai industri seperti sektor perhotelan, destinasitravel, atraksi dan hiburan dapat menjadi pemain utama di industri pariwisata halal maupun religi di Indonesia. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Ahmad Kholil