Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Industri Halal, Pasar Menjanjikan bagi Perbankan Syariah
Kesadaran terhadap gaya hidup halal yang saat ini sedang tumbuh di Indonesia bisa menjadi peluang dan kesempatan yang baik bagi industri keuangan syariah.

Sharianews.com, Jakarta. Industri halal atau halal lifestyle ke depan menjadi pasar yang menjanjikan bagi lembaga keuangan syariah (LKS), terutama perbankan syariah.

Dhias Widhiyati, Direktur Bisnis Small Medium Enterprise (SME) dan Komersial BNI Syariah mengatakan, kesadaran terhadap gaya hidup halal yang saat ini sedang tumbuh di Indonesia sejatinya peluang dan kesempatan yang baik bagi industri keuangan syariah.

"Ini merupakan suatu peluang untuk lembaga keuangan syariah, terutama perbankan syariah," jelas Dhias, saat mengisi acara Infobank Award di Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Ia menambahkan, jika diamati, gaya hidup halal adalah suatu bisnis yang dapat membentuk  ekosistem industri yang bisa merambah ke berbagai sektor. Antara lain adalah industri makanan halal,  islamic fashion, islamic tourism, haji umroh, islamic education, dan ada juga kesehatan.

Yang terakhir, menurutnya, saat ini pemerintah sedang mengembangkan konsep pengelolaan dana wakaf produktif dan zakat. "Bagaimana sekarang pemerintah memberikan perhatian khusus kepada wakaf produktif,"ujarnya seraya menjelaskan bahwa hal ini nantinya bisa memberikan dampak besar bagi pengelolaan dana umat untuk pengembangan sektor produktif.

Lebih lanjut, menurutnya, sektor-sektor industri halal yang sedang tumbuh, dan menjadi bagian ekosistem industri keuangan syariah di Indonesia tersebut  memiliki nilai ekonomis yang besar.

Jika berkaca berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2017,  makanan halal sebesar Rp 2.300 triliun, Islamic Fashion Rp 190 triliun.

"Islamic fashion di Indonesia besar, desainer-desainer muda dari Indonesia, perancang busana muslim, saat ini memiliki market yang cukup besar di Asia Tenggara, Asia, bahkan di Uni Emirat Arab. Jadi ini luar biasa marketnya,"kata Dhias.

Selanjutnya ada  islamic tourism dengan keekonomian  mencapai Rp 135 triliun, haji dan umroh Rp 120 triliun. Sementara islamic education  menyumbang nilai ekonomi hingga mencapai Rp 40 triliun.

Dhias juga menyampaikan,  dua tahun terakhir,  BNI Syariah memberikan fokus yang luar biasa terhadap sektor industri gaya hidup halal. "Kalau bukan kami sebagai pelaku keuangan syariah, siapa lagi yang mengembangkan ekosistem halal di Indonesia," katanya.

"Of the year, kami di halal industri, sudah cukup besar. Di sektor pendidikan sudah ada Rp 800 miliar, kesehatan Rp 800 milar. Kami ingin membesarkan juga yang lain, terutama di dua sektor ini, pendidikan dan kesehatan,"paparnya.

Alasannya karena BNI Syariah yakin bangsa yang sehat, bangsa yang pandai akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Dhias mengatakan, industri syariah juga harus membaca perubahan. Saat ini masyarakat milenial terutama, menginginkan sesuatu yang tidak hanya aman dan murah, tetapi juga cepat.

“Karena itu, BNI Syariah berkolaborasi dengan financial technology (fintech), membuat beragam aplikasi berkolaborasi dengan fintech,“ pungkasnya. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil