Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Lifestyle / Indonesia Sangat Layak Menjadi Sentra Bisnis Halal Life Style Dunia
FOTO | Dok. Bandung.Tribunews.com
Indonesia baru sebatas pasar dan belum menjadi pelaku. Padahal Indonesia dengan potensi riil material dan populasi penduduk mayoritas muslim yang dimiliki, mestinya sangat mampu memproduksi produk-produk halal untuk konsumi di dalam negeri maupun di ekspor.

 

Indonesia baru sebatas pasar dan belum menjadi pelaku. Padahal Indonesia dengan potensi riil material dan populasi penduduk mayoritas muslim yang dimiliki, mestinya sangat mampu memproduksi produk-produk halal untuk konsumi di dalam negeri maupun di ekspor.

Sharianews.com, Jakarta. Dr Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Life Style Center, mengatakan Indonesia semestinya sangat layak menjadi sentra bisnis halal dunia. Apalagi ditunjang dengan populasi tinggi. Di tahun 2018 jumlah penduduk Indonesia mencapai 265,4 juta jiwa, dengan 78 persen umat muslim.

Data dari Global Islamic Economic Indacator (GIEI) Report pada 2016/2017, menyebutkan pada tahun 2016 muslim Indonesia membelanjakan US$ 170 miliar untuk makanan dan minuman, US$ 57 miliar belanja kosmetik, US$ 254 miliar untuk belanja pakaian, US$ 168 miliar untuk pariwisata, dan aset lembaga keuangan mencapai US$ 2.202 miliar.

Meski begitu, ujar Sapta Nirwandar, Indonesia baru sebatas pasar dan belum menjadi pelaku. Padahal Indonesia menurutnya sangat mampu memproduksi produk-produk halal yang dapat dikonsumi di dalam negeri maupun di ekspor.   

Di Industri halal Indoneia masih tertinggal

Sayangnya, ujar Sapta Nirwandar, kendati secara potensi, baik riil material maupun populasi jumlah penduduk muslim, Indonesia tidak kalah dibanding Negara-negara muslim lainnya, namun faktanya berkata lain.

“Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia, Eni Emirat Arab, dan Bahrain, terutama dari sisi pengembangan industri halalnya. Hal ini tercermin dari data-data global berikut ini,” ujar Sapta Nirwandar.

Menurut GIEI Report 2016/2017, nilai belanja makanan dan gaya hidup (food and lifestyle sector expenditure) muslim di sektor halal dunia mencapai US$ 1, 9 triliun atau Rp 26, 527 kuadriliun pada tahun 2015, dan diperkirakan akan naik menjadi US$ 3 tiliun atau setara Rp 41, 885 kuadriliun pada tahun 2023.

Global Islamic Economy Indicator Report 2016/2017 juga menempatkan Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, secara berurutan sebagai Negara peringkat atas yang paling berkembang dalam industri halal di dunia.

Malaysia menempati urutan pertama karena dinilai memiliki kinerja yang kuat di sektor keuangan Islam, dengan jumlah aset besar lantaran pemerintahnya maju dan memberi dukungan penuh, serta memiliki kesadaran yang tinggi terhadap literasi keuangan Islam.

Hijab, representasi gaya hidup halal muslim kota

Dengan membaca data-data dari GIEI report tahun 2017 di atas, boleh saja jika dikatakan bahwa gaya hidup halal di Indonesia kini  semakin memperlihatkan tren yang meningkat.

Dengan konsumsi produk fashion muslim Indonesia yang mencapai angka UU$ 254 miliar, wajar jika hal paling mencolok dalam gaya hidup halal di Indonesia adalah di bidang fashion.

Secara kasat mata,  saat ini semakin banyaknya wanita muda tampil cantik dengan busana muslimah dan paduan hijab modis di tempat-tempat umum seperti mall, kampus, lingkungan kerja, maupun tempat umum lainnya.

Saat ini juga semakin mudah melihat kerumunan gaya nongkrong anak muda milenial. Banyak di antaranya semakin berani mengekspresikan keislamannya degan tampil modis, mengenakan padu-padan hijab stylis, dan seraya tetap ingin terlihat syar'i.

Fenomena ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak satu dasawarsa belakangan. Jika sebelumnya, kerudung atau hijab hanya dikenakan di kalangan ibu-ibu saat pengajian atau siswi-siswi di pondok pesantren dan madrasah, saat ini masyarakat urban di kota-kota besar di Indonesia sudah tidak lagi canggung untuk mengenakan hijab.

“Representasi gaya hidup syariah di Indonesia, memang sejauh ini yang paling mencolok di bidang fashion. Karena memang di situ semua orang bisa melihat dengan mata kepala,”ujar Sapta Nirwandar, kepada sharianews.com.

Jumlah kelas menengah muslim meningkat

Di lain pihak, sejak satu dasawarsa belakangan, Indonesia memang mengalami peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah dari 37 persen  pada tahun 2004,  menjadi  56,7  persen dari total penduduk di Indonesia pada tahun  2013.

Ini menandakan adanya mobilitas sosial yang cukup signifikan dengan 25 persen penduduk Indonesia, telah bergerak menjadi kelompok kelas menengah.

Berdasarkan hasil riset lembaga konsultan Inventure (2014), tercatat sepanjang April hingga Mei 2014, penetrasi teknologi informasi telah membuat kelompok kelas menengah muslim Indonesia semakin paham dengan teknologi di bidang informasi.

Mereka menjadi mudah mengakses produk-produk yang dipasarkan secara online, dan kemudian menjadi bagian dari konsumen menengah muslim dalam memasarkan produk-produk fashion secara online.

Jika data dari GIEI report 2017, menyebutkan angka sebesar US$ 168 miliar yang dihabiskan masyarakat muslim di Indonesia untuk belanja pariwisata, boleh jadi hal ini juga ada korelasinya dengan semakin berkembangnya tren wisata halal di Indonesia.

Saat ini semakin banyak paket wisata religi ditawarkan bersamaan dengan penawaran terhadap pelaksanaan ibadah umroh. Sekadar contoh, data yang diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi baru-baru ini,  mengatakan jumlah jemaah umrah pada Ramadan kali ini (1438 H)  mengalami peningkatan.

Menurut laporan tersebut, seperti dikutip Arab News pada 25 Juni 2017, jumlah visa yang diberikan kepada para jemaah pada tahun 2017 mencapai 6,75 juta dibanding 6,39 juta pada tahun sebelumnya.

Untuk menampung tren wisata halal, kini industri perhotelan mulai ikut mengembankan hotel berbasis syariah. Hotel berbasis syariah, ini menjadi sesuatu yang baru, dan banyak dipilih oleh wisatawan muslim saat berlibur atau bepergian bersama keluarga.

Bersamaan dengan itu, industri kreatif muslim juga ikut tergerak. Lahirnya karya-karya bernuansa Islam, seperti novel dan buku-buku Islam, termasuk musik dan film serta aplikasi berbasis Islam bisa menandari pergerakan industri halal di bidang kreatif ini.

Kesemua ini, boleh jadi menandakan kelas menengah muslim di Indonesia yang kian tumbuh, seiring edukasi kesadaran tentang literasi Islam yang semakin gencar di kalangan menengah muslim kota di Indonesia. (*)

Reporter : Linda Sarifatun Editor : Ahmad Kholil