Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. halhalal.com
Di bidang industri halal, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara yang saat ini aktif menggerakkan pertumbuhan industri halal global.  

Sharianews.com, Jakarta ~ Industri halal global di semua aspek mulai dari makanan, pakaian hingga perjalanan, farmasi, dan kosmetik menurut laporan dari The State of The Global Islamic Econony (SGIE) 2017, mencapai 1,8 triliun dolar AS. 

Sayangnya, menurut Rafiuddin Shikoh, Managing Director DinarStandard, di bidang industri halal tersebut, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara, yang saat ini aktif menggerakkan pertumbuhan industri halal global. 

"Indonesia masih kurang aktif dibandingkan dengan negara-negara yang saat ini aktif menggerakkan pertumbuhan ekonomi halal global seperti Malaysia, UEA, dan Thailand. Padahal, secara PDB mereka lebih kecil dan memiliki populasi yang jauh lebih rendah di banding Indonesia," ujar Rafiuddin di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Jumat (21/12/2018).

Meski begitu Rafiuddin menuturkan, sebenarnya Indonesia memiliki potensi ekonomi halal yang besar, hanya saja hingga saat ini potensi ekonomi halal tersebut masih belum bisa tertangani dengan jelas.

Menurutnya, saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memperbaiki ketidakseimbangan tersebut dan mengambil posisi kepemimpinannya dalam mengembangkan peluang bisnis halal global yang belum tergarap dengan baik. 

Laporan DinarStandard, sebuah lembaga riset yang berkedudukan di Newyork dan Dubai, melaporkan setidaknya ada 26 sub sektor daftar prioritas, yang bisa menjadi target pengembangan pasar halal yang paling tepat untuk produsen ekonomi halal di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah sektor makanan dan minuman, fashion, traveling, farmasi dan kosmetika.

DinarStandard bekerjasama dengan Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) ingin ikut berperan mengembangkan potensi industri halal global, termasuk di Indonesia. Itu mengapa DinarStandard menandatangani nota kerjasama dalam bidang riset dan penelitian serta forum seminar bertaraf internasional.  

"Kita signing MoU antara DinarStandard dengan IHLC untuk kerjasama di banyak aspek, antara lain membuat seminar dan penelitian untuk membantu memformulasikan data-data impiris di lapangan sebagai sumber refrensi terpercaya dengan metodologi yang kuat, diakui secara lokal maupun global,"ucap Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Ahmad Kholil