Rabu, 21 Agustus 2019
20 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Lifestyle / Indonesia Menjadi Incaran Pasar Wisata Halal Dunia
FOTO | Dok. media.halallocal.com
Pariwisata Indonesia saat ini sudah menjadi penyumbang devisa nomor tiga setelah minyak, gas, dan kelapa sawit.

Sharianews.com, Jakarta. Dr. Sapta Nirwandar, S.E., Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center mengatakan Indonesia memiliki keindahan alam dan keragaman budaya serta penduduk muslim moderat terbesar di dunia. Potensi  ini menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial industri pariwisata halal dunia.

Bahkan menurutnya, pariwisata Indonesia saat ini sudah menjadi penyumbang devisa nomor tiga setelah minyak, gas, dan kelapa sawit. “Tak mustahil nantinya pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,”katanya kepada sharianews.com dalam kesempatan wawancara, di Jakarta.

Lebih lanjut dalam bukunya berjudul, ‘Halal Lifestyle, Trend Global dan Peluang Bisnis’ Sapta Nirwandar mengungkapkan, pasar muslim di Indonesia memang layak digarap serius. Ada 80 persen masyarakat memeluk agama Islam. Bukan angka kecil, karena Indonesia juga masuk jajaran G20, dengan total PDB mencapai lebih dari USD 923 atau sekitar 1,5 persen ekonomi dunia.

Tidak hanya itu, Indonesia kini juga menjadi Negara dengan kelompok generasi milenial yang paling terhubung dengan topic-topik mengenai ekonomi Islam seperti keuangan syariah, makanan halal, fesyen, travel halal, media dan rekreasi, serta obat-obatan dan produk kecantikan.

“Belum lagi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada 2020 dengan jumlah usia produktif mendominasi negeri ini,”ujarnya.

Dengan latar belakang kondisi ini ujarnya, menjadi wajar jika saat ini indonsia tengah menjadi incaran industri wisata halal dunia. “Banyak negara lain tengah mengincar pasar wisatawan muslim Indonesia,” katanya seraya menyebutkan beberapa negara minoritas muslim seperti Jepang, Thailand, dan China telah mulai melirik Indonesia sebagai pasar yang  potensial.

Dikutip dari buku yang ia tulis, berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Pariwisata, pada 2013 jumlah turis muslim mencapai 6,3 persen dan diprediksi terus meningkat. Tingginya angka wisatawan muslim mendorong wisata asing untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan muslim, termasuk dari Indonesia.

Beberapa negara seperti China meningkatkan kesiapan mereka dalam menyambut halal tourism dengan mengeluarkan sertifikat halal dan muslim friendly. Sertifikat ini menyasar hotel, restoran, tempat pembelanjaan, objek wisata, dan rest area dalam memberikan pelayanan yang ramah muslim.

Sertifikat halal terkait dengan penyediaan makanan dan minuman halal, sementara muslim friendly certificate meliputi penyediaan fasilitas ibadah yang layak, dan adanya pemisah antara yang halal dan haram.

CEO Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), Priyadi Abadi, sebagaimana dikutip oleh laman berita marketeers.com mengatakan,  sebagai pasar yang potensial, Indonesia kerap mendapat undangan dari berbagai negara untuk menilai kesiapan mereka memasuki halal tourism.

“November tahun lalu, Taiwan mengundang wisatawan Indonesia untuk melakukan simulasi halal tourism, dan dalam empat bulan mendatang tiga puluh travel Indonesia mendapat undangan simulasi halal tourism di Thailand,” kata Priyadi Abadi.

Taiwan siapkan wisata halal 

Hal yang sama dilakukan oleh Taichung, salah satu kota yang terletak di Taiwan bagian tengah, yang kini tengah menyiapkan destinasi wisata halal untuk membidik wisatawan dari negara mayoritas muslim, termasuk Indonesia.

Di Kota Taichung, kini terdapat penginapan yang juga telah direkomendasi  oleh Asosiasi Muslim China (China Moslem Association/CMA), sebagai destinasi wisata yang menyajikan hidangan halal lengkap dengan fasilitas untuk sholat.

Kota Taichung adalah  kota terbesar ketiga di Taiwan setelah Kota Taipei dan Kota Kaohsiung. Terdapat objek-objek wisata menarik yang bisa didatangi saat berkunjung ke kota Taichung. Namun, berlawanan dengan hiruk pikuk kota besar, di sekitar Kota Taichung terdapat banyak lahan pertanian yang tengah dikembangkan menjadi area bagi wisawatan untuk bisa merasakan atmosfer ketenangan dan kedamaian.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Abadi, industri pariwisata halal Indonesia belum menyadari besarnya potensi wisata muslim yang dimiliki.

Saat ini, agen travel Indonesia masih berkutat pada sektor haji dan umroh. Karenanya, ujarnya Indonesia menjadi sasaran market yang luar biasa bagi negara luar. “Ironisnya, kita belum mempersiapkan diri dengan potensi besar yang kita miliki,”jelas Priyadi.

Masih terbuka ruang lebar untuk pengembangan halal tourism di Indonesia. Semua terpulang paa para pengusaha agensi travel di Indonesia. Tentu dengan dukungan secara menyeluruh dari komunitas industri halal di Indonesia. Kiranya. (*)

Ahmad Kholil