Sabtu, 19 Oktober 2019
20 Ṣafar 1441 H
Home / Lifestyle / Indonesia Mencapai Puncak Kenaikan pada Sektor Wisata Halal
FOTO I Dok. Setara.net
Prestasi ini selayaknya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, yang telah mengalahkan 130 negara lainnya yang turut serta dalam penilaian.

Sharianews.com, Indonesia mengalami puncak kenaikan peringkat dunia dalam kategori wisata halal di tahun 2019 ini. Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 memberi penghargaan kepada Indonesia sebagai peringkat pertama bersama dengan Malaysia.

Dikatakan sebagai puncak kenaikan peringkat, sebab dalam empat tahun terakhir Indonesia selalu mengalami kenaikan yang berjenjang. Mulai dari tahun 2015 dengan peringkat ke-6 dunia, dilanjutkan tahun 2016 dengan peringkat ke-4 dan 2017 di peringkat 3. Tahun lalu pun Indonesia sempat meraih runner up wisata halal dunia, hingga akhirnya berlanjut di tahun 2019 sebagai peringkat pertama.

Prestasi ini selayaknya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, yang telah mengalahkan 130 negara lainnya yang turut serta dalam penilaian.

Sejak lima tahun lalu, Kementerian Pariwisata telah berupaya mengembangkan pariwisata halal dengan menjadikannya program prioritas. Melalui program tersebut, tahun 2018 lalu pariwisata halal Indonesia mencapai 18 persen, dengan jumlah wisatawan muslim mancanegara sebanyak 2,8 juta dan menghasilkan devisa lebih dari Rp40 triliun.

Sisi lain, kementerian pariwisata juga menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2019. Diantaranya, sekitar 25 persen atau setara 5 juta dari 20 juta wisman tersebut merupakan wisatawan muslim.

Sebagai bentuk upaya tersebut, banyak wilayah yang sudah mulai digarap, salah satunya adalah wilayah Pekanbaru, Riau. Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru, Riau akan menerapkan pariwisata halal di seluruh hotel. Rencana ini baru akan diterapkan setelah diterbitkannya peraturan wai kota pada tahun ini.

El Syabrina, Asisten 2 Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Pekanbaru mengatakan, Pemko Pekanbaru mendapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata pada 9 April 2019. Penghargaan itu di bidang pariwisata halal.

"Perlu diketahui, wisata halal itu tak hanya untuk muslim tapi juga masyarakat non muslim. Karena dengan wisata halal ini lebih bersih di luar dan di dalam," ujar dia, melansir dari

Pariwisata halal yang dimaksud, tidak lain adalah hotel-hotel harus berorientasi halal. Seperti tempat pembuangan air kecil bagi pria diberi pembatas di hotel tersebut guna menghalangi pandangan.

Kemudian, arah kiblat hotel harus mendapat persetujuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pihak hotel akan diminta agar tidak membuat arah kiblat dengan mengandalkan aplikasi google map atau aplikasi lainnya. Sebab, penetapan arah kiblat di dalam kamar hotel ada aturannya.

Unruk sajadah, mukena, dan kitab suci juga disediakan pihak hotel. Pilihannya, pihak hotel menyediakan kamar berbasis halal ini sebanyak 20 kamar.

Makanan non halal boleh disediakan pihak hotel asal dapurnya berbeda. Piringnya beda dan cara masaknya juga berbeda. 

"Dalam praktik wisata halal ini, non muslim boleh bekerja di hotel asal ada aturannya. Dia harus mencuci tangan tujuh kali agar bersih dari najis. Setelah itu, baru dia bekerja. Itu yang harus kita samakan pola pikir kita," terang Syabrina.

Hotel berbasis halal segera diterapkan di tahun ini. Makanya, regulasi pariwisata halal perlu dibuat terlebih dahulu.

"Kami akan membuat regulasinya dalam bentuk Peraturan Wali Kota. Pemprov Riau sudah melakukannya dengan menerbitkan Peraturan Gubernur," ungkap Syabrina.

Reporter: Fathia Rahma Editor: Munir Abdillah