Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Global / Indonesia-Malaysia Kaji Manuskrip Keagamaan di Asia Tenggara
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Pendidikan Malaysia Maszlee bin Malik. FOTO I Dok. Kemenag
Kualitas manuskrip keagamaan di Asia Tenggara tidak kalah dengan manuskrip dari Arab Saudi dan negara-negara yang mempunyai peradaban tinggi lain.

Sharianews.com, Jakarta ~ Indonesia dan Malaysia akan bekerja sama mengkaji manuskrip-manuskrip keagamaan yang ada di Asia Tenggara, ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Kami memang beberapa tahun terakhir  ini mengkaji manuskrip. Ke depan kami ingin membangun Pusat Manuskrip Nusantara,” ujar Menteri Lukman, saat bertemu dengan Menteri Pendidikan Malaysia Maszlee bin Malik, di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta Kamis (10/01). 

Menurut Menteri Lukman, saat ini banyak khasanah keilmuan yang belum tergali dan terinventarisir dengan baik dalam manuskrip-manuskrip tersebut. Padahal, manuskrip tersebut merupakan sumber pengetahuan yang penting. 

Staf Ahli Menteri Agama, Oman Fathurahman mengatakan kerja sama Indonesia-Malaysia dalam bidang ini sangat bermanfaat karena kajian manuskrip di negeri Jiran itu cukup baik.

"Ada manuskrip Nusantara karya Nurudin Ar Raniry, ulama asal Aceh yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh seorang profesor di Malaysia," ujar Oman.

Menteri Maszlee mengatakan, pihaknya memang sudah mengembangkan digitalisasi manuskrip. Pihaknya juga siap untuk membantu digitalisasi manuskrip di Indonesia.

Menurut Menteri Maszlee, kualitas manuskrip keagamaan di Asia Tenggara tidak kalah dengan manuskrip dari Arab Saudi dan negara-negara yang mempunyai peradaban tinggi lain.

"Ada yang dari Mindanao misalnya. Manuskrip yang ada  di Asia Tenggara sebenarnya tak kalah dengan yang ada di Arab Saudi,dan sebagainya," ujar Menteri Maszlee.

Kerja sama ini menurut dia penting karena akan bisa meninggalkan warisan yang baik bagi generasi penerus.

 "Apalagi kita satu rumpun. Ini di hari depan akan jadi peninggalan bagi anak cucu kita," tuturnya.

Menteri Maszlee juga menjajaki kemungkinan universitas-universitas Malaysia membuka cabang di Indonesia, khususnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Jika hal ini memungkinkan, mahasiswa Indonesia tidak perlu lagi pergi ke Malaysia jika ingin belajar di kampus-kampus tersebut.

"Cukup di Indonesia, tetapi menggunakan kurikulum, tenaga pengajar dan metode pengajaran dari Malaysia. Termasuk salah satunya kajian manuskrip. Buku pun dapat dicetak di Indonesia. Ini tentu lebih ekonomis," urainya. 

Menteri Lukman mengaku akan mengkaji usulan tersebut dan membicarakannya dengan lembaga lain seperti Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

nazarudin

Tags: