Kamis, 24 September 2020
07 Ṣafar 1442 H
Home / Lifestyle / Indonesia Berpeluang menjadi Top Modest Fashion Country
FOTO | Dok. arif.sharianews.com
Di sektor fashion, Indonesia berada di peringkat tiga besar dikatagori sepuluh besar pasar fashion muslim dunia 2017, setelah Turki, dan Uni Arab Emirat (UAE).

Sharianews.com, Jakarta. Global Islamic Economy Report (GIER) 2016-2017 memerkirakan belanja muslim global untuk produk halal mencapai 1,9 triliun dolar AS pada 2015. Meningkat ketimbang tahun sebelumnya, sekitar 1,8 triliun dolar AS.

GIER yang disusun oleh Dubai Islamic Economy Development Center dan Thomson Reuters yang berkolaborasi dengan DinarStandard, juga mencantumkan enam sektor  yang menjadi indikator perkembangan terkini ekosistem ekonomi Islam di 73 negara: 57 negara anggota Organisasi kerja sama Islam (OKI) dan sisanya non-anggota.

Adapun enam sektor itu adalah industri makanan halal (halal food), keuangan syariah (Islamic finance), wisata halal (halal travel), busana (modest fashion). Kemudian, hiburan dan media halal (halal media and recreation), dan farmasi -kosmetik halal (halal pharmaceuticals and cosmetics).

Di sektor fashion, Indonesia berada di peringkat tiga besar dikatagori sepuluh besar pasar fashion muslim dunia 2017, setelah Turki, dan Uni Arab Emirat (UAE). Namun di saat bersamaan, pada 2017 lalu, dari aspek industri fashion muslimnya, Indonesia baru berada di posisi sebelas.

Perkembangan terbaru, peringkat Indonesia di sektor pengembangan industri fashion muslim ini meningkat tajam pada tahun 2018 ini, di mana Indonesia kini berada di posisi kedua.

Pelonjakan peringkat tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain, pertama, Indonesia dinilai memiliki perkembangan ekonomi Islam terbaik untuk industri fashion dengan kriteria tingkat ekspor, awareness atau kesadaran terhadap gaya hidup halal yang sama baiknya.

Hal lain karena kekuatan daya inovasi para desaianer muda Indonesia yang dinilai cukup bagus. Hal ini ditandai antara lain dengan semakin banyaknya brand lokal yang mulai dikenal dunia.

Banyak PR yang perlu dikerjakan

Meskipun begitu, menurut Diajeng Lestari, Founder, CEO Hijup, tingkat produktivitasnya masih lebih rendah dibanding pola konsumsi masyarakatnya. Karenanya, agar Indonesia bisa menjadi Top Modest Fashion Country, cara terbaik adalah dengan memberdayakan brand lokal muslimah agar lebih berkualitas lagi, sehingga bisa menjadi pemain di dalam negeri dan di sisi lain bisa diterima di pasar ekspor.

“Jika kita ingin menjadi Top Modest Fashion Country, yang harus diperhatian bukan hanya warna dan bentuknya saja, tetapi  juga bahan dari pakaian itu sendiri,” ujar Diajeng Lestari pada even Jakarta Halal Things 2018, Jum’at (30/11).

Hal positifnya, menurut Diajeng para desainer Indonesia mudah menyerap banyak kultur dari luar, tanpa kehilangan identitasnya sebagai muslim Indonesia. Sebagai contoh, Diajeng menyebutkan fashion di Amerika yang menggunakan bahan Microfiber Bamboo, yang sangat fleksibel; bisa menyesuaian dengan kondisi cuaca, jika panas bahan tersebut berubah menjadi dingin, bergitu pun sebaliknya.

“Fashion tersebut menjadi salah satu bahan yang dicari. Dalam artian pemilihan bahan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pakaian,”ujar Diajeng

Itu mengapa menjadi tantangan bagi para desainer di Indonesia untuk bisa membuka diri terhadap model-model dan gaya modest dari luar seperti dari Amerika,  Inggris, Korea, dan negara lain dan kemudian mencoba mengembangkan hal serupa di Indonesia, ”Tetapi tetap dengan karakteristik lokal dan tidak kehilangan identitasnya sebagai muslim,”ujarnya.

Pemilihan bahan dan teknis pemasaran

Hal berikutnya adalah bagaimana pemilihan bahan, warna, dan gaya pakaian, juga teknis  pemasaran dalam rangka memperkenalkan brand.

Di antara fashion Hijup yang paling digemari antara lain pakaian untuk ke kantor, acara-acara resmi, pesta pernikahan, maupun pengajian dan lain-lain, sesuai dengan segmen Hijup yang lebih banyak menyasar konsumen dewasa atau mature.

Founder Hijup ini kemudian menceritakan awal mula memasarkan produknya yang hanya melalui sosial media seperti Facebook, hingga akhirnya memutuskan untuk memilih e-commerce Hijup sebagai media untuk memasarkan dan mengkomonikasikan produk miliknya.

Lewat setrategi pemasaran melalui e-commerce, Hijup yang sudah ada sejak 2011, kemudian berkembang. Mempekerjakan empat belas desainer, saat itu, Hijub kemudian diakui sebagai E-commerce fashion muslim pertama di dunia, yang menginspirasi gaya hidup Islami.

Diajeng menceritakan, strategi sukses Hijub ketika itu ialah dengan fokus pada pengembangan dan pemberdayaan untuk meningkatkan kualitas produk, perbaikan dan penguatan di sekor tim data yang dibutuhkan sebagai entitas e-commerce, yang meliputi konten, tampilan visual, dan interaksi di media sosial. (*)

Reporter: Fathia Rahma Editor: Ahmad Kholil