Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Indonesia Baru Garap 3 Persen dari USD 3 Triliun Industri Halal Dunia
FOTO | Dok. ekonomisyariah.org
Setidaknya, Indonesia bisa menggarap hingga 8 persennya. Jadi masih ada kesenjangan atau gap hingga 5 persen.

Sharianews.com, Jakarta.Pasar industri halal dunia paling tidak sebesar USD 3 triliun dan Indonesia masih belum banyak andil, belum banyak menggarap dari jumlah industri halal tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Profesor Irwandi Jaswir, pakar bioteknologi, peraih penghargaan King Faisal International Prize 2018. Menurutnya, masih ada kesenjangan cukup jauh. Indonesia baru mengekspor sekitar 3 persen saja dari potensi pasar produk halal dunia.

"Setidaknya, Indonesia bisa menggarap hingga 8 persennya. Jadi masih ada kesenjangan atau gap hingga 5 persen,"katanya kepada sharianews.com.

Mengapa masih ada kesenjangan cukup jauh, menurutnya lantaran masih banyak aspek dan sektor industri yang belum tergarap. Sebut saja misalnya, hospitality dan tourism. Menurutnya, hal tersebut merupakan sektor yang masih sangat terbuka.

"Hanya kita harus serius, sebab kendalanya sesungguhnya ada di keseriusan yang belum ada. Belum banyak pihak-pihak yang memandang industri halal sebagai hal yang ini serius” jelas Irwandi. 

Jaswir menilai, setidaknya saat ini ada dua lembaga yang mendapat respek dan apresiasi atas perhatiannya kepada industri halal, yaitu Bank Indonesia (BI) dan Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC).

“Karena konsisten dan dukungannya itu nyata. Itu BI, bukan sembarangan, kita lihat positifnya,”ujarnya merujuk pada even-even yang diselenggarakan oleh BI selaku pemegang otoritas di sektor keuangan.

Untuk meningkatkan potensi pengembangan industri halal di Indonesia, menurutnya harus mulai mengurangi impor barang-barang, yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri, misalnya di sektor bahan baku kosmetik, obat-obatan, bahan pangan olahan, dan lain-lain. 

Irwandi kemudian menyayangkan, pemain-pemain yang leading di industri halal saat ini justruk banyak negara-negara non-muslim, seperti Australia, Italia, Brazil, Selandia Baru, dan Thailand. “Sekarang untuk tourism malah Jepang, Korea Selatan, dan China yang serius,”ujarnya. 

Pria yang dijuluki Profesor Halal ini juga melihat, masih banyak inovasi-inovasi yang berpotensi menjadi sumber perekonomian baru. Terutama inovasi yang berkaitan dengan teknologi informasi. Misalnya halal electronic commerce (e-commerce) dan teknologi lainnya yang berkaitan dengan ini.

“Kita lihat peluang ini dan duduk bersama, diskusi apa yang bisa kita lakukan karena kalau industri halal kita maju, insyaallah perekonomian kita akan baik,”ujarnya berharap.(*) 

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil