Sabtu, 19 Oktober 2019
20 Ṣafar 1441 H
Home / Forum Milenial / Implementasi Wakaf Tunai sebagai Pengentasan Kemiskinan di Indonesia
Ilma Yuliyastri (Dok/Foto Sharianews)
Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan.

Sharianews.com, Wakaf adalah Sedekah Jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama ummat.

Ada salah satu bentuk wakaf yang mendapat banyak perhatian dari para ulama dan masyarakat yaitu wakaf tunai atau cash waqf. Di zaman now ini siapa yang tidak kenal dengan cash waqf (wakaf tunai). Wakaf tunai atau cash waqf adalah wakaf yang diberikan oleh muwakif/wakif (orang yang berwakaf) dalam bentuk uang tunai yang diberikan kepada lembaga pengelola wakaf (nadzir) untuk kemudian dikembangkan dan hasilnya untuk kemaslahatan umat, sementara pokok wakaf tunainya tidak boleh habis sampai kapanpun.

Dalam sejarah Islam, cash waqf berkembang dengan baik pada zaman Bani Mamluk dan Turki Usmani. Namun baru belakangan ini menjadi bahan diskusi yang intensif di kalangan para ulama dan pakar ekonomi Islam. Wakaf tunai juga dikenal pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir.

Pada masa itu, perkembangan wakaf sangat menggembirakan. Wakaf tidak hanya sebatas pada benda tidak bergerak, tapi juga benda bergerak semisal wakaf tunai. Tahun 1178, dalam rangka menyejahterakan ulama dan kepentingan misi Mazhab Sunni, Salahuddin Al-Ayyubi menetapkan kebijakan bahwa orang Kristen yang datang dari Iskandaria untuk berdagang wajib membayar bea cukai.

Tidak ada penjelasan, orang Kristen yang datang dari Iskandaria itu membayar bea cukai dalam bentuk barang atau uang. Namun lazimnya, bea cukai dibayar dalam bentuk uang. Uang hasil pembayaran bea cukai itu dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha’ dan para keturunannya.

Kebolehan wakaf tunai sudah diatur dalam UU No 41 tahun 2004 yang belum lama ini disahkan oleh DPR RI serta berdasarkan fatwa MUI Indonesia tanggal 11 Mei 2002 yang berbunyi :

  1. Wakaf uang (cash wakaf/ waqf al-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
  2. Termasuk ke dalam pengertian uang

adalah surat-surat berharga.

  1. Waqaf uang hukumnya jawaz (boleh)
  2. Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i. Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan dan atau diwariskan.
    Dengan diundangkannya UU No. 41 Tahun 2004, maka kedudukan wakaf menjadi sangat jelas dalam tatanan hukum nasional, tidak saja dari sisi hukum Islam (fiqh).

Dengan krisis yang dialami oleh Indonesia, Kemiskinan hingga hari ini, terus menjadi problematika di Indonesia. Tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin meningkat juga menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan. Pengangguran, dan lain sebagainya.

Beberapa kebijakan yang pemerintah berikan tidak dirasa untuk penanggulangan kemiskinan, maka wakaf tunai ini dapat menjadi salah satu instrumen dalam program pengentasan kemiskinan. Karena dengan wakaf tunai arahnya adalah wakaf menjadi produktif dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan di bawah garis kemiskinan. 

Seseorang yang memiliki uang atau dana yang terbataspun dapat melaksanakan wakaf tunai ini dengan kemampuannya. Wakaf tunai ini memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bershadaqah jariyah. Orang bisa berwakaf tunai dengan membeli sertifikat wakaf tunai yang diterbitkan oleh institusi pengelola wakaf (nadzir).

Wakaf tunai dipandang sebagai solusi dalam pengentasan kemiskinan. Yaitu wakaf tunai jumlahnya bervariasi. Sehingga semua orang bisa menjadi muwakif tidak harus selalu menunggu menjadi tuan tanah. Wakaf di Indonesia meski telah berkembang lama, namun pemanfaatannya belum produktif. Belum produktif nya wakaf ini, terlihat dari kegiatan dan pemanfaatan dana wakaf yang peruntukannya lebih banyak untuk rumah ibadah, yayasan yatim piatu ataupun tanah makam.

Akibatnya wakaf tidak memiliki manfaat secara ekonomis dan tidak berperan banyak dalam usaha yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan ummat. Salah satu alternative produktif wakaf yaitu wakaf harta benda bergerak berupa uang tunai.

Kemudian dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan usaha produktif. Dan manfaat yang diperoleh dapat dibagikan adalah hasil usaha atau keuntungan dari usaha tersebut. Yang penggunaannya dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif kaum dhuafa (masyarkat miskin) selaku pengusaha kecil (UMKM) juga bisa diberi pinjaman atau fasilitas pendanaan dari dana tersebut. Jadi secara bersamaan dengan adanya wakaf tunai ini dapat meningkatkan sektor usaha rill.

Nah dengan demikian, wakaf tunai bisa dilakukan oleh siapapun meski dana yang dimiliki cukup terbatas. Karena wakaf tunai ini memberi jalan kepada kaum muslimin yang ingin berwakaf, meskipun ia bukan dari golongan aghniya (orang kaya). 

Oleh: Ilma Yuliyastri

Tags: