Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. slaterzurz.com
Dari total 161 kasus, tercatat anak korban kekerasan dan perundungan sebanyak 36 kasus (22,4 persen), sedangkan anak sebagai pelaku perundungan sebanyak 41 kasus (25,5 persen)

Sharianews.com, Berdasarkan Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang dirilis 30 Mei 2018 lalu mengungkapkan, peristiwa perundungan masih menjadi kasus terbanyak dalam dunia pendidikan.

Dari total 161 kasus, tercatat anak korban kekerasan dan perundungan sebanyak 36 kasus (22,4 persen), sedangkan anak sebagai pelaku perundungan sebanyak 41 kasus (25,5 persen).

Sisanya, di bawah angka tersebut. Seperti kasus anak sebagai korban dan pelaku tawuran, masing-masing sebanyak 23 (14,3 persen) dan 31 kasus (19,3 persen).  

Mirisnya, melansir dari Kompas tahun 2017, Indonesia merupakan salah satu negara, yang di dalamnya terdapat aksi bullying dengan angka tertinggi di dunia. Yakni sekitar 45 persen anak-anak mengalami serangan fisik di sekolah, dan 50 persen anak melaporkan mengalami intimidasi.

Ibarat permasalahan yang tak kunjung usai, tindakan bully atau penyerangan sengaja oleh oknum tertentu seolah sudah menjadi hal biasa di lingkungan sekolah. Menurut Imam Ratrioso, psikolog kebangsaan sekaligus motivator, menanggapi kasus ini harus segera ditindak dengan optimal dan sungguh-sungguh.

“Dalam konteks nasional pendidikan, ini tugas bersama untuk kita bahwa bully ini sudah menjadi suatu yang biasa dan belum kita urus secara optimal. Sehingga menurut saya kita harus buat program zona bebas bully atau dengan bahasa yang lebih baik, zona kasih sayang,” ujar Imam, Rabu (10/4).

Zona kasih sayang ini dimaksudkan agar lingkungan tempat anak-anak dan para remaja beraktivitas ini, dapat terbebas dari perilaku bully. Seperti di sekolah, rumah (masyarakat), dnn yang lainnya. Hal seperti ini memang sudah semestinya diterapkan, serta menjadi tanggung jawab bersama.

“Saya kira ini masalah serius yang harus dipikirkan kita semua, termasuk para elit bangsa, para stakeholder bidang pendidikan, bagaimana agar kita lebih serius lagi mengurus anak bangsa kita. Tugas tentang bully ini itu betul-betul kita kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh,” kata psikolog kebangsaan ini, saat dihubungi Sharianews.

Pengamat dan psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto ikut menanggapi. Seto mengatakan, saat ini peraturan untuk mencegah kekerasan tersebut sudah ada, bahkan mungkin sudah tertera jelas tentang perlindungan anak.

Namun bagi Kak Seto, peraturan hanya menjadi peraturan yang tidak terealisasi jika tidak ada kontrol maupun pengawasan dari orang yang punya kewajiban. 

“Baik orangtua maupun guru harus peduli. Harus memberikan sanksi tegas jika ketahuan anaknya melakukan bullying kepada orang lain. Bukan dibiarkan saja,” kata Kak Seto, melansir CNN Indonesia. (*)

 

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo