Selasa, 23 April 2019
18 Sha‘ban 1440 H
FOTO | Dok. fathia.sharianews.com
Gaya hidup halal saat ini banyak diminati seluruh dunia, tidak terkecuali di negara-negara minoritas muslim seperti Amerika Serikat.

Sharianews.com, Jakarta. Presiden Islamic Food and Nutrition Council of Amerika (IFANCA), Dr. Muhammad Munir Chaudry mengatakan gaya hidup halal memberikan dampak besar pada ekonomi Amerika. Pasalnya, Amerika Serikat mengekspor ke hampir ke setiap negara di dunia. Sebagian besar bahan makanan yang diekspor adalah yang memiliki sertifikat halal, dan produk impor dari Indonesia pun adalah halal.

“Sekitar 50 persen bisnis IFANCA adalah dengan Indonesia saja. Selain makanan, kami memiliki pameran, acara, dan konferensi yang diselenggarakan oleh IFANCA beserta organisasi muslim lainnya. Makanan halal telah menjadi sangat populer akhir-akhir ini sehingga non-Muslim pun mencari restoran halal, karena mereka merasa makanannya lebih bersih dan sehat,”ungkap Dr Chaudry kepada sharianews, Sabtu (17/11/2018).

Selain itu, sebagai perusahaan yang memberikan sertifikasi halal untuk produk Amerika ini, IFANCA  juga bekerjasama dengan beberapa universitas untuk menyajikan produk halal kepada para siswa. Menurut Ms Asma Ahad, Direktur Pengembangan Pasar IFANCA, bukan hanya siswa muslim yang secara aktif dan teratur mengkonsumsi makanan halal, tetapi juga pelajar non-mslim.

"Di Universitas Chicago kurang dari 5 persen dari siswa adalah Muslim, tetapi lebih dari 20 persen dari makanan yang disajikan adalah halal,"jelas Direktur Pengembangan Pasar  IFANCA Amerika Srikat.

Lembaga yang sudah didirikan sejak tahun 1982 oleh sekelompok ilmuan muslim ini, memiliki tujuan mengedukasi kalangan industri dan berbagi informasi pada konsumen terkait gaya hidup halal.

Namun menurut Dr Chaudry, sebagai negara minoritas muslim, agar penduduk muslim Amerika dapat mensosialisasikan gaya hidup halal secara maksimal, maka terlebih dahulu mereka harus memberi contoh dan menunjukkan keteladanan.

 Misalnya dengan berikap ramah dan peduli terhadap tetangga. Membuka pembicaraan dengan orang-orang dan mereka untuk mengenalkan apa sebenarnya Islam itu.

“Juga merawat mereka yang kurang beruntung, yang merupakan salah satu tugas kami dalam Islam. Karena itu, setiap tahun pada hari Thanksgiving (salah satu hari libur Amerika di bulan November), IFANCA mendistribusikan 5.000 kalkun melalui salah satu program penjangkauan masyarakat kami kepada orangtua siswa sekolah umum di Chicago,”ujarnya.

Mr Roger Othman, Direktur Hubungan Konsumen IFANCA, terkait dengan program tersebut mengatakan, itikad baik tersebut telah menghasilkan hasil yang positif. Termasuk Interaksi antar orangtua dan guru di sekolah-sekolah tersebut semakin meningkat.

Pasalnya, untuk terlibat dalam program itu, orangtua datang ke sekolah dan berkomnikasi dengan guru tentang kinerja, kebutuhan, dan masa depan anak mereka. Kemudian dengan mengambil kartu laporan anak, kalkun tersebut dapat dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga dan teman.

Layaknya di Indonesia, sertifikasi halal di Amerika sendiri diprakarsai oleh perusahaan yang ingin memasarkan produk mereka ke konsumen Muslim. Dengan begitu, IFANCA membantu perusahaan dengan mengedukasi mereka tentang ajaran  Islam. Mengapa muslim membutuhkan makanan bersertifikat halal, dan bagaimana mereka dapat menciptakan sistem produksi untuk memastikan produk mereka halal.

Saat ini di Amerika sudah terdapat restoran halal yang tersebar di beberapa kota. Selain itu, produk-produk bersertifikat halal juga sudah mulai tersebar hampir di setiap Food Mart. Hal ini berbeda dengan dua puluh tahun lalu yang masih sangat sedikit produk halal yang diprodksi, sehingga sebagai konsmen muslim harus lebih teliti dalam membaca label, produk apa saja yang harus dihindari.

Tantangan IFANCA sosialisasikan gaya hidup halal

Di Amerika, komunitas muslim berasal dari multi-etnis dan multi-budaya. Beberapa mengikuti praktik yang ketat dalam hal penyembelihan daging. Dalam artian, tidak ada unsur pembantaian pada mekanismenya.

Sedangkan yang lain merasa bahwa selama tidak ada daging babi dan tidak ada alkohol, maka makanan mereka baik-baik saja, tidak begitu memerhatikan mekanisme. Hal Ini menjadi sebuah masalah , terutama ketika ada pertemuan besar. Mendidik konsumen menjadi sulit ketika ada begitu banyak sistem kepercayaan yang terlibat.

Indonesia negara dengan mayoritas penduduk muslim, sudah semestinya dapat menjadi patokan dalam gaya hidup halal dunia. IFANCA mengaku senang saat mengunjungi Indonesia. Tahun ini ada sepuluh anggota yang mengunjungi Indonesia. Beberapa untuk pertama kalinya, sementara yang lain merupakan perjalanan secara regular.

“Ini adalah perjalanan keempat saya ke Indonesia dalam empat tahun terakhir, dan setiap kali saya berkunjung saya terkejut oleh keramahan, ketersediaan tempat untuk salat, kemampuan untuk makan di restoran mana pun, tanpa mengkhawatirkan makanan atau segala persiapan dapur, serta banyaknya kehadiran masyarakat di dalam acara yang berkaitan dengan gaya hidup halal,”kata Mr. Ali Othman, Senior Associate IFANCA.

IFANCA sebagai institusi yang memperjuangkan gaya hidup halal, mereka berharap Indonesia dan Amerika tetap mengedepankan prinsip Islam untuk menghormati orang lain sebagaimana adanya. Di Amerika, muslim adalah minoritas, namun kelompok mayoritas sangat ramah dan penuh hormat.

“Di Indonesia, muslim adalah mayoritas besar dan kami berharap untuk melihat perlakuan yang adil dan menghormati semua orang. Harapan IFANCA sendiri untuk ke depannya adalah dapat membantu mempromosikan halal secara global sedemikian rupa, sehingga makna di balik logo kami adalah, “Baik untuk Umat Manusia,”tutupnya. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Ahmad Kholil