Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Hutang Kok Dilarang

Minggu, 30 September 2018 12:09
Foto: Blog.e-mas.com
Instrumen hutang penting untuk kemaslahatan manusia bermuamalah. Jika Anda terlanjur hutang di rentenir atau Bank Riba, tetaplah bayar. Itu tetap kewajiban.

Hutang, dalam ilmu fikih disebut dengan Dayn. Dayn ini merupakan aktivitas hutang secara umum, baik bersumber dari skema jual-beli, kongsi maupun pinjaman. Allah mengatur bab Hutang dalam ayat Alquran paling panjang, diawali dengan:

يايهاالذين امنوا اذا تداينتم بدين الى اجل مسمى فاكتبوه

"Duhai yang beriman, ketika kalian berhutang dengan pembayaran tempo, catatlah..."

Ayat ini mengatur adab berhutang. Tak menyebutkan larangan atau kemakruhan hutang. Hutang itu transaksi yang boleh. Instrumen hutang ini penting untuk kemaslahatan manusia bermuamalah. Allah mengabadikan bab Hutang ini dalam ayat terpanjang dalam Alquran tersebut.

Pada ayat tersebut juga ada ungkapan:

وان كنتم على سفر ولم تجدوا كاتبا فرهان مقبوضه

Allah juga menegaskan dalam ayat tersebut tentang kebolehan agunan atau gadai atau penahanan barang sebagai bukti keseriusan beramanah dalam berhutang.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany dalam Bulughul Maram mengutip Hadits riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib, Rasulullah SAW bersabda:

ثلاث فيهن البركة البيع الى اجل والمقارضة وخلط البر والشعير للبيت لا للبيع

"Tiga hal yang di dalamnya ada keberkahan, yakni (1) jual-beli dengan pembayaran tempo, (2) muqaradhah, (3) mencampur gandum burr dan sya'ir untuk keperluan rumah (tangga), bukan dalam rangka jual-beli."

Perhatikan Hadits di atas. Dua hal yang di dalamnya ada keberkahan disebutkan skema jual-beli (bay') dan kongsi bagian muqaradhah.

Jual-beli di sini tidak spesifik menyebutkan untuk tujuan konsumtif atau produktif. Tak disebutkan untuk keinginan atau kebutuhan. Tak disebutkan di ranah dharuriyat, hajiyat atau tahsiniyat.

Al-Imam Muhammad bin Isma'il bin Shalah al Amir ash Shana'any dalam Kitab Subulus Salam menguraikan hadits ini dengan ungkapan keberkahan yang dimaksud adalah memberikan kemudahan bagi pemilik hutang (Gharim).

Poin kedua adalah hutang dalam rangka Muqaradhah. Muqaradhah sejatinya bukan akad hutang-piutang harta, namun hutang-piutang pelaksanaan kewajiban. Muqaradhah adalah qiradh alias "pinjaman" yang diberikan sebagai modal usaha atau bisnis. Transaksi ini disebut juga dengan kongsi investasi alias Mudharabah.

Sebagian orang masa kini menyebut skema ini dengan hutang dalam rangka usaha produktif. Ilmu akuntansi syariah menyebutnya pembiayaan mudharabah. Tetap ada skema hutang di dalamnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany dalam Kitab Bulughul Maram juga menyebutkan bahwa Allah menjadi pihak ketiga dalam Syirkah yang amanah. Syirkah dan Muqaradhah ini senada dalam hal adanya kongsi yang melibatkan modal berupa harta maupun modal non-harta. Ada hutang di situ. Hutang transaksi produktif.

Rasulullah SAW pernah berhutang kepada Yahudi untuk keperluan konsumtif (beli makanan), kemudian beliau memberikan Agunan berupa baju besi.

Rasulullah SAW pun pernah berhutang unta. Hadits ini akhirnya diabadikan sebagai rumus bahwa kalau meminjam sesuatu itu diutamakan mengembalikan dengan yang lebih baik. Lebih baik di sini oleh Ulama dimaknai lebih baik dari sisi sifat maupun dari sisi jumlahnya lebih banyak. Dianjurkan memberikan kelebihan dalam pengembalian.

Hadits ini ditiru oleh Bank Syariah pada skema tabungan dan giro wadiah. Tidak ada syarat kelebihan pengembalian dalam wadiah yad dhamanah (pinjaman), namun Bank Syariah boleh memberikan bonus wadiah. Tiru-tiru cara Rasulullah SAW ketika berhutang.

Skema muqaradhah pun ditiru Bank Syariah untuk produk giro, tabungan, deposito dan pembiayaan mudharabah. Bank Syariah pun menerapkan Pembiayaan Musyarakah. Bank Syariah juga menerapkan Qardh. Semua skema tersebut ada contohnya di sisi Alquran dan Hadits. Tanpa ada contoh pun halal jika tidak ada dalil larangan.

Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid menegaskan bahwa Abdullah bin Umar Ra pernah berhutang dengan skema pinjaman (Qardh) dari Baitul Mal melalui Abu Musa al Asy'ari. Hutangnya akad pinjaman, tapi oleh Abdullah bin Umar, pinjaman itu dipakai bisnis. Ini pun halal. Ditiru pula oleh Bank Syariah bahwa dana wadiah yad dhamanah (pinjaman) dipakai bisnis. Sah saja.

Jika Telat Bayar

Bicara hutang, tak bisa lepas dari potensi telat bayar. Alquran tidak memaksa, namun hanya menganjurkan:

وان كان ذو عسرة فنظرة الى ميسرة وان تصدقوا خير لكم ان كنتم تعلمون

Ketika penghutang dalam kondisi sulit, maka pemberian tangguh sampai ada kemudahan dan menyedekahkannya adalah hal baik.

Tak ada kata perintah dalam ayat ini. Namun, Bank Syariah sangat baik hati dengan ada Prosedur Kolektibilitas, Restructuring, Rescheduling, Reconditioning, lanjut Nonlitigasi, lanjut Litigasi, terus sampai Write Off dalam Hapus Buku maupun Hapus Tagih. Bukan perintah Allah tapi dilakukan Bank Syariah. Bahkan telat sehari pun boleh saja agunan diproses sita, jika nasabah tidak bayar. Tentu jika sudah diinformasikan kepada nasabah sebelumnya.

Tentu, jadi nasabah jangan zhalim. Penundaan pembayaran oleh nasabah mampu adalah zhalim, boleh dikenakan sanksi moral dan material. Daftar nasabah telat bayar boleh diumumkan. Menurut Imam Syafi'i, orang yang telat bayar hutang, boleh dipenjara sampai terbukti amanah atau terbukti tidak mampu. Tidak mampu ini definisinya adalah fakir miskin. Semoga Anda tidak ada dalam kondisi fakir miskin. Amin.

Bencana Hutang

Tak bisa dipungkiri pula bahwa tak sedikit potensi buruk atas transaksi hutang. Hutang ini kesenyataan instrumen dalam hidup. Yang hidup itu manusia. Manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Bencana hutang itu kunci penyebabnya satu, yakni ketika tidak amanah menunaikan kewajiban.

يايها الذين امنوا اوفوا بالعقود

“Duhai orang yang beriman, penuhilah akad.”

Ayat ini khithab tertinggi dalam adab berhutang, yakni bayarlah hutang. Allah ber-khithab, Allah bertitah memakai fi'il amar. Levelnya paksaan. Paksaan agar patuh akad.

Ketika Bank Syariah sudah melakukan pencairan, kewajiban selanjutnya ada di pihak nasabah. Bayar. Bayarlah hutang. Bayarlah kewajiban.

Pada skema jual-beli seperti Murabahah atau sejenisnya, pada skema KPR Syariah akad jual-beli, tak ada alasan bagi nasabah untuk tidak bayar, bahkan sampai eksekusi agunan, jika diperlukan.

Berbeda dengan akad kongsi, jika nasabah tidak mampu bayar karena bangkrut, tinggal buktikan saja secara dokumen legal bahwa nsabah sudah menjalankan Pasal Kewajiban, ayat demi ayat. Bukti legal, ya. Bukan asumsi, bukan kata-kata.

Secara legal sangat jelas bahwa penanggung rugi dalam kongsi adalah Bank Syariah, tinggal nasabah membuktikan sudah amanah. Sekali lagi, bukti. Bukan hanya kata-kata.

Ada pula Hadits menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak mau menyalatkan jenazah orang yang masih menanggung hutang.

Hadits ini dijadikan pedoman Bank Syariah bahwa ketika nasabah meninggal, maka ada prosedur langsung lunas dengan instrumen Asuransi Syariah. Bahkan cacat (tidak sampai meninggal) pun bisa dikover Asuransi Syariah. Kalau pun tidak bisa dikover Asuransi Syariah, jika meninggal, kan bisa jual agunan, sehingga langsung lunas, layak dishalatkan.

Jadi, ternyata Bank Syariah sudah sistematis menata skema hutang-piutang ini sesuai Alquran dan Hadits.

Ada potensi bencana lain dari berhutang, misalnya tidur tidak tenang, banyak pikiran, dan lain-lain. Ya lagi-lagi itu tergantung sifat dan karakter manusianya. Makanya, jadilah manusia baik.

Bayarlah, Walau Riba!

Jika Anda terlanjur hutang di rentenir atau Bank Riba, tetaplah bayar. Tetap ada hak orang lain di situ. Itu tetap kewajiban. Ketika Anda sudah kontrak legal dengan Bank Riba, artinya sudah kontrak legal dengan NKRI. Bayarlah.

Boleh saja Anda niat hijrah ke Syariah karena baru sadar kalau transaksi apapun di Bank Konvensional adalah (1) pesta Riba, atau (2) pelestari Pesta Riba, tetap bayarlah. Anda sudah mengikat (uqdah-aqad) dengan NKRI, meski akadnya dianggap batil oleh Anda dan syariah Islam. Bayarlah. Bukan warga NKRI pun jika sudah kontrak legal dengan instrumen hukum NKRI, bayarlah. Tak usahlah bermental ngemplang.

Ada solusi jika terlanjur transaksi pesta Riba. Take over saja ke Bank Syariah. Jika kesulitan take over, selesaikan kewajiban, angsur sampai lunas. Wajib bayar sampai lunas.

Apalagi kontrak dengan Bank Syariah. Jika Anda sudah kontrak legal dengan Bank Syariah, bayarlah angsuran. Jika Anda merasa ada yang tidak adil, tetaplah bayar sampai Anda bisa kasih bukti dan bukti itu diterima pengadilan. Tetaplah bayar. Miliki mental amanah.

Demikianlah dinamika berhutang. Kalau Anda kampanye menghindari hutang, hati-hati, Anda bisa terjerumus masuk ke dalam kampanye melarang hal yang halal. Ini bahaya.

Lebih baik kita kampanye, ayo jadi orang yang tanggung jawab. Punya hutang di manapun, bayarlah! Wajib! Walau hutang Riba.

WaLlaahu a'lam.

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin