Selasa, 20 Agustus 2019
19 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Ekbis / Hukum Zakat Saham tidak Dilarang, Ini Penjelasannya
FOTO I Dok. Ahmad Arif Sharianews.com
Wacana mengenai zakat saham memang cukup menghebohkan dalam literasi keuangan, dan menjadi catatan tersendiri bagi MUI.

Sharianews.com, Jakarta ~ Deputy Director Publikasi dan Jaringan Pusat Kajian Strategis Baznas, Muhammad Hasbi Zaenal menjelaskan, saat ini Baznas sudah bisa menerima zakat dalam bentuk saham.

"Nah, Alhamdulillah yah, kita di Indonesia, mungkin yang pertama kali di dunia yaitu zakat link to saham," ucapnya kepada Sharianews, Rabu (8/5).

Dirinya menambahkan, wacana mengenai zakat saham memang cukup menghebohkan dalam literasi keuangan, dan menjadi catatan tersendiri bagi MUI.

"Iya, jadi ini gimana akuntansinya nanti, makanya isu ini juga sudah kita bilang ke dewan fatwa MUI untuk diminta catatannya gimana nih, tapi secara fikih nggak ada yang salah," imbuh lulusan Al-Azhar Cairo jurusan ekonomi syariah tersebut.

Hasbi mencontohkan, misalnya ketika berzakat dengan padi, maka pembayaranya menggunakan padi, zakat emas menggunakan emas, sedangkan zakat saham, membayarnya memakai zakat saham.

"Secara hukum fikih sebetulnya tidak ada yang salah, atau misalnya kita bisa menggunakan dua sumber hukum lain, dan dua sumber hukum itu bukan hanya Alquran, hadis, ijma, tapi ada sumber lain, misal ada sumber istishab, mashalihul mursala, syar'u man qablana, dan sebagainya," ungkap Hasbi.

Dirinya menuturkan bagaimana contoh zakat saham, meskipun di Indonesia masih belum banyak peminatnya. Misalnya ada saham A 10 juta, saham B, 20 juta, saham C, 30 juta, saham D 40 juta, dan saham E, 30 juta, kemudian saham A, D, dan E yang sudah haul dikalikan dengan 2.5 juta, tetapi saham tersebut tergolong saham yang digunakan untuk jual beli (trading), bukan saham investasi.

"Bedakan yah, kalau dia sahamnya betul-betul investasi, artinya tidak jual beli (trading) sahamnya, maka zakatnya dari keuntungan atau penghasilannya, berapa dari devidennya, tapi kalau sahamnya menjadi objek trading itu harus dihitung seperti ini, atau secara global," ungkapnya.

Ketika ditanyakan bagaimana tanggapan DSN MUI, Hasbi yang juga pengajar dari Tazkia University mengatakan boleh, tetapi pihak MUI akan membahas secara khusus.

"Kemarin waktu saya konsultasi dengan MUI, beliau mengatakan boleh, bagus, tapi nanti kami akan membahas secara khusus terkait fatwa zakat dalam bentuk saham, kemudian pengelolaanya seperti apa, tapi kalau secara fikih ini clear, tidak ada melarang," ujarnya.

"Kecuali dari teman-teman nanti ada yang menemukan satu dalil tertentu yang tidak memperbolehkan zakat saham, nah, itu nanti saya bisa review dan konsultasikan dengan MUI," tutupnya. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo