Jumat, 19 Juli 2019
17 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Q&A / Hukum Tabungan Berhadiah

Hukum Tabungan Berhadiah

Rabu, 16 Januari 2019 09:01
FOTO I Dok. Syariahbank.com
Di bank syariah hanya ada dua, yakni titipan yang dipergunakan bank syariah (wadiah) dan kongsi investasi (mudharabah).

Sharianews.com, 

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustaz Ahmad Ifham Sholihin.

Afwan, saya dengan Pipid. Ada yang ingin saya tanyakan, di salah satu bank syariah sekarang ada program tabungan prima berhadiah, di mana dengan program tabungan tersebut, nasabah bisa menyimpan dana dengan jumlah tertentu dan di-hold dalam jangka waktu tertentu, kemudian nasabah mendapatkan hadiah di awal, disesuaikan dengan besar simpanan dan jangka waktunya.

Boleh diterangkan mengenai akad syariahnya seperti apa ya?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Pipid, tinggal di Pontianak.

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sdr. Pipid yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah berkah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di bank syariah saja. Amin.

Ada beberapa hal yang bisa dicermati dari skema tersebut.

Pertama, jenis akad tabungan di bank syariah hanya ada dua, yakni titipan yang dipergunakan bank syariah (wadiah) dan kongsi investasi (mudharabah).

Kedua, pada dasarnya, hukum asal dari Muamalah adalah boleh sampai ada dalil larangannya. Pemberian tabungan pada transaksi wadiah dan mudharabah adalah boleh. Dalilnya adalah karena tidak ada dalil larangan.

Ketiga, pemberian hadiah boleh dilakukan pada produk tabungan wadiah atau mudharabah asalkan hadiah tidak diambil dari hak nasabah, misalnya dari dana promosi bank syariah.

Keempat, pemberi hadiah boleh menetapkan syarat dan ketentuan penerima hadiah, baik dari sisi jumlah saldo tabungan maupun dari sisi jangka waktu tabungan, termasuk boleh mensyaratkan akan melakukan hold terhadap dana nasabah dalam jumlah tertentu dan jangka waktu tertentu. Jika syarat dan ketentuan tidak bisa dipenuhi nasabah, maka hadiah boleh ditarik kembali.

Kelima, jika akadnya mudharabah, maka hadiah boleh dijanjikan sejak awal melakukan transaksi tabungan. Hal ini tidak dilarang syariat Islam.

Keenam, jika akadnya wadiah, maka pemilik dana (nasabah) tidak boleh mensyaratkan ada hadiah atas transaksi tabungannya, oleh karena akan masuk kategori riba.

Skema wadiah atau titipan pada tabungan ini akan menyebabkan dana saldo pasti dipergunakan oleh bank syariah. Titipan yang dipergunakan ini menyebabkan esensi hukumnya berubah dari titipan menjadi pinjaman. Padahal dalam pinjaman, pemberi pinjaman tidak boleh mensyaratkan aliran manfaat bagi pemberi pinjaman. Itulah Riba Pinjaman.

Ketujuh, jika akadnya wadiah, maka boleh dijelaskan syarat dan ketentuan penerima hadiah, asalkan hadiah diberikan sebelum akad dilakukan, walaupun cuma beda hitungan menit. Dalam akad juga tidak boleh menyebutkan adanya syarat hadiah atas transaksi wadiah tersebut.

Kedelapan, hadiah boleh diundi atau berupa hadiah langsung.

Kesembilan, hadiah tidak boleh berupa uang. Hadiah bisa berupa barang atau manfaat tertentu yang bukan zat haram dan bukan merupakan transaksi haram.

Itulah aturan syariah dari produk berbasis tabungan di Lembaga Keuangan Syariah. Semoga bermanfaat. Amin. Wallahu a'lam. (*)

 

oleh: Ustaz Ahmad Ifham Sholihin.