Senin, 20 Mei 2019
16 Ramadan 1440 H
Home / Q&A / Hukum Modal Syariah dari Konvensional
FOTO I Dok. Sarajevo
Halalkah modal bank syariah yang berasal dari induknya?

Sharianews.com, 

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustaz Ahmad Ifham Sholihin.

Saya mau bertanya Ustaz. Bagaimana cara menjelaskan ke teman-teman saya yang masih conventional minded tentang bank syariah itu tidak riba, ya? Karena menurut paham mereka, bank syariah kan modalnya dari bank induk mereka yang tidak lain adalah bank konvensional.

Saya pernah diajari kalau kita mengelola modal itu kepada kebaikan, insya Allah itu tidak apa-apa Ustaz. Apakah ada dasar tentang ini ya Ustaz seperti DSN MUI atau lainnya yang menjelaskan tentang hal ini. Jadi, saya bisa memberikan bukti kepada teman-teman saya?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Rimba, tinggal di Bulukumba.

Sdr. Rimba yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di Bank Syariah saja. Amin.

Pertama, hukum asal dari modal adalah halal, sampai modal itu ditransaksikan haram. Jika modal itu ditransaksikan halal, maka hukum transaksinya jadi halal. Jika modal itu ditransaksikan haram, maka hukum transaksinya jadi haram.

Modal Bank Konven juga hukumnya halal, namun ditransaksikan secara haram, maka hukumnya jadi haram. Ketika modal dari Bank Konven disetorkan kepada anak usahanya Bank Konven, maka hukum modalnya tetap halal sampai modal itu ditransaksikan haram.

Perhatikan, ketika modal dari Bank Konven disetorkan kepada anak usahanya yakni Bank Syariah, maka statusnya tetap halal oleh karena transaksi atas modal Bank Konven tersebut adalah transaksi halal.

Kedua, ada kaidah fikih, ketika terjadi percampuran antara halal dan haram, maka menjadi haram. Kaidah ini berlaku bagi zat atau transaksi yang dipastikan haram. Misalnya sup ayam sebejana tercampur minyak babi, maka semua isi sup ayam tersebut menjadi ikut haram, oleh karena yang bercampur adalah zat haram.

Berbeda jika yang tercampur adalah urusan nonzat. Ketika secara alur transaksi sudah benar-benar bisa dipastikan halal, maka transaksinya menjadi halal. Hal ini sesuai salah satu metode analisis yang digunakan oleh DSN MUI dalam menyusun Fatwa, yakni tafriq bayna al halal an al haram (memisahkan antara yang halal dari yang haram).

Perhatikan bahwa alur modal Bank Konven bisa disalurkan kepada transaksi Bank Konven itu sendiri dan ke Bank Syariah. Saya ulangi lagi bahwa pemilahan halal haram tergantung dari penggunaan modal. Modal yang digunakan oleh Bank Konven menjadi haram karena transaksinya haram. Modal yang dipergunakan oleh Bank Syariah menjadi halal karena transaksinya halal.

Ketiga, uang yang jadi modal, adalah zat halal. Oleh sebab itu, ketika uang tersebut tertempel satu sama lain, hukumnya tetap halal. Yang haram adalah transaksinya jika transaksinya haram.

Keempat, pemilahan halal haramnya valid secara akuntansi. Salah satu bukti pemilahan halal haram dalam perbankan adalah COA alias Chart of Account. Istilah pos-pos dalam transaksi serta alur transaksi modal Bank Syariah dari Bank Induknya (Bank Konven) adalah valid sesuai Syariah oleh karena tidak ada COA pendapatan bunga yang masuk ke modal Bank Syariah.

Memang benar bahwa laba dari pendapatan bunga Bank Konven bisa jadi masuk pos modal. Perhatikan, kondisi ini masih bisa jadi, masih merupakan kemungkinan. Tidak ada bukti level COA yang menyatakan bahwa modal yang diberikan kepada Bank Syariah adalah valid hanya dari pos pendapatan bunga. Oleh sebab itu ditinjau dari sisi akuntansi, modal Bank Syariah bisa dipastikan bersumber dari pos halal dan peruntukan halal.

Kelima, bukti legal modal Bank Syariah sudah sesuai syariah. Tidak ada transaksi legal yang bisa membuktikan bahwa Modal Bank Syariah berasal dari transaksi haram dan dipergunakan untuk transaksi haram.

Keenam, ada kaidah fikih sangat poluler bahwa al ashlu fil mu'aamalaati al ibaahah illaa an yadulla daliilun 'alaa tahriimihaa (hukum asal dari muamalah adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkan). Tidak ada pelarangan menggunakan modal dari pos modal. Sederhana sekali logika ini.

Ketujuh, Ulil Amri bagian Ulama alias MUI dan DSN MUI jelas tidak pernah mengeluarkan Fatwa bahwa modal dari Bank Konven adalah haram, sehingga modal dari Bank Konven adalah halal. Ulama Dewan jelas bisa salah dalam berfatwa, apalagi Pendapat Ulama Dewean (sendirian) dan apalagi Pendapat akal dewean (sendirian).

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa hukum Modal Bank Syariah dari bank induknya (Bank Konven) adalah halal. Wallahu a'lam.(*)

 

Oleh: Ustaz Ahmad Ifham Sholihin.