Selasa, 22 Oktober 2019
23 Ṣafar 1441 H
Home / Q&A / Hukum Main Forex

Hukum Main Forex

Minggu, 28 Oktober 2018 02:10
FOTO - ILUSTRASI | Dok. www.youtube.com/watch?v=tT5M1j_shEo
Halal atau haramkah jual beli mata uang asing atau forex atau valas? Berikut ini penjelasannya.

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Seiring berkembangnya dunia internet di kalangan masyarakat, timbul budaya baru berupa senang menghasilkan uang secara instan dan mudah, misalnya seperti bermain forex atau jual beli mata uang. Pertanyaannya, apa hukum bermain dalam dunia Forex?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Anwar, tinggal di Bekasi.

Jawaban:

Sdr. Anwar yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten hanya mau menggunakan rekening Bank Syariah saja dalam menggunakan transaksi perbankan. Amin.

Forex adalah singkatan dari Foreign Exchange. Nama lainnya adalah Valas atau Valuta Asing atau pertukaran mata uang asing.

Kitab klasik menyebutnya dengan Bay al-Sharf atau jual beli al-Sharf. Disebut Bay karena merupakan transaksi berbasis pertukaran. Kitab klasik menyebut pertukaran dengan transaksi mu'awadhat atau jual beli. Dengan demikian, hukum main forex ini akan ditinjau dari sisi hukum jual beli.

Jual beli forex ini punya keunikan oleh karena objek jual belinya bukan sembarang barang, namun merupakan harta ribawi jenis uang atau alat tukar. Dengan demikian, ada klausul yang membatasinya.

Berdasarkan penulusuran saya dari berbagai kitab, terutama I'anah ath-Thalibin dan Bidayah al Mujtahid wa Nihayah al Muqtashid, di situ dirumuskan bahwa jual beli al-Sharf boleh dilakukan jika transaksinya minimal mengikuti rumus haa`a wa haa`a (saling menyerahkan, saling memberi dan menerima), yadan bi yadin (hand by hand atau kontan), sawaa`an bi sawaa`in (setara), mistlan bi mitslin (sejenis), aynan bi aynin (sama-sama barang dengan barang), kaylan bi kaylin (setakaran), waznan bi waznin (sepola, setimbang). Itu syarat minimal bay al-sharf yang sah.

Fatwa DSN MUI

Fatwa Terkait dengan transaksi forex zaman now, mudahnya, kita bisa mencermati arahan dari Fatwa DSN MUI No. 28 tahun 2002 tentang Bay al-Sharf. Fatwa DSN MUI menggariskan bahwa pada jual beli al-sharf (forex), ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni:

Pertama, tidak untuk spekulasi. Kedua, ada kebutuhan transaksi atau untuk simpanan. Ketiga, apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh). Keempat, apabila berlainan jenis, harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.

Berdasarkan pada ketentuan tersebut, DSN MUI memberikan hukum yang berbeda-beda atas beberapa jenis transaksi forex yang saat ini marak terjadi. Transaksi forex ini terdiri dari spot, forward agreement, forward non agreement, swap, dan option).

Pertama, transaksi Spot. Transaksi spot adalah transaksi pembelian dan penjualan valas untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya boleh, karena dianggap tunai. Sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.

Dua jenis transaksi forward

Kedua, transaksi forward. Transaksi forward merupakan transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang antara 2 x 24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya pun haram karena harga yang digunakan merupakan harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan pada kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah).

Dengan demikian, untuk transaksi forward ada 2 jenis yakni forward agreement yang hukumnya halal, dan forward non agreement yang hukumnya haram.

Ketiga, transaksi swap. Transaksi swap adalah suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram karena mengandung unsur maisir (spekulasi yang terlarang).

Keempat, transaksi option. Transaksi option adalah kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valas pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram karena mengandung unsur maisir (spekulasi yang terlarang).

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa hukum jual beli mata uang asing atau forex atau valas adalah halal untuk spot dan forward agreement. Sedangkan untuk skema forward non agreement, swap dan option, hukumnya haram.

Perhatikan juga istilahnya, sebut saja jual beli mata uang asing atau valas atau forex, bukan main valas atau main forex. Istilah sangat menentukan makna. Wallahu a'lam.

ShariaCorner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin