Senin, 20 Mei 2019
16 Ramadan 1440 H
Home / Q&A / Hukum Jual Beli Follower

Hukum Jual Beli Follower

Rabu, 2 Januari 2019 01:01
FOTO | Tirto
Saat ini sudah bukan rahasia umum ada transaksi jual beli follower. Lalu bagaimana hukumnya?

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin. Seiring laju perkembangan social media, saat ini marak jual beli follower, seperti follower twitter, instagram, dan sebagainya. Saya ingin bertanya, bagaimanakah hukum jual beli follower semacam ini?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh

Yusuf, tinggal di Tangerang.

 

Jawab:

Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Sdr. Yusuf yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi keuangan hanya menggunakan instrumen keuangan Syariah saja. Amin.

Jual beli dikatakan sesuai Syariah adalah ketika sudah memenuhi rukun dan syarat jual beli. Rukun jual beli adalah adanya pelaku (penjual dan pembeli), objek (barang atau manfaat dan termasuk harga), serta ijab qabul (pernyataan akad dan serah terima yang sah). Sedangkan syarat adalah semua ketentuan yang menyebabkan setiap rukun akad bisa benar-benar memenuhi kriteria sebagai rukun akad.

Mari kita cermati skema jual beli follower. Alurnya adalah pembeli melakukan transaksi pembelian follower kepada penjual. Ditentukan harga jualnya, terjadi kesepakatan, kemudian jual beli terjadi.

Selanjutnya cermati rukun akad. Rukun utama adalah pelaku akad. Pelaku akad jual beli follower ini jelas yakni ada penjual dan pembeli. Berarti, dari sisi pihak pelakunya sudah memenuhi rukun dan syarat akad.

Berikutnya dari sisi objek akad. Objek akad terdiri dari harga dan objek yang diperjualbelikan. Dalam jual beli follower, objek akad harus jelas. Jika yang diperjualbelikan adalah akun yang ditata agar melakukan follow terhadap akun yang dimaksud pembeli, maka akunnya harus benar-benar ada, bukan akun bot atau robot. Jika akun yang diperjualbelikan adalah akun bot, maka tinggalkan jual beli seperti ini.

Ketika akun yang diperjualbelikan benar-benar akun nyata, bukan akun bot, maka penjual harus minta izin terlebih dulu kepada akun yang diperjualbelikan dalam rangka melalukan follow terhadap akun pembeli. Tugas minta izin ini menjadi tugas penjual, bukan tugas pembeli.

Rasulullah SAW bersabda:

عن ابي هريرة رضي الله عنه نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الحصاة وعن بيع الغرار، رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW mencegah jual beli dengan lemparan batu dan jual beli gharar.

Jual beli itu harus jelas terpenuhi rukun dan syaratnya. Satu hal lain sebagai syarat disebut transaksi yang sesuai Syariah adalah ketika tidak gharar.

Gharar inilah yang muncul ketika jual beli follower, yakni akunnya berupa akun bot atau robot serta ketika penjual belum minta izin kepada pemilik akun bahwa akunnya diperjualbelikan untuk melakukan follow terhadap seseorang.

Rukun berikutnya adalah ijab qabul. Ketentuan ijab qabul ini silahkan diatur apakah menggunakan qabdh hukmi atau qabdh haqiqi. Intinya, ijab qabul ini bermuara kepada al urf, yakni adat istiadat yang biasanya terjadi di kalangan masyarakat setempat.

Teknologi sudah semakin canggih. Tidak menutup kemungkinan transaksinya dilakukan dengan cukup pilih tombol OK atau SEND atau sejenisnya. Cara ini sah karena sudah menjadi adat istiadat masyarakat setempat dan tidak melawan syariat Islam.

Demikian hukum jual beli follower. Jual beli ini boleh dilakukan jika tidak gharar, bukan akun bot. Andaikan akunnya nyata, maka penjual harus terlebih dulu minta izin kepada pemilik akun yang akunnya ditata melakukan aksi follow terhadap akun yang dimaksud pembeli. Semoga uraian ini bermanfaat. Wallahu a'lam.

Sharia Corner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad lfham Sholihin

Tags: