Sabtu, 23 Maret 2019
17 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. sharianews.com
Di sisi pembeli, diskon tersebut memberikan keuntungan, berupa potongan harga setiap kali berbelanja. Lalu, bagaimana kartu diskon dalam pandangan syariah?

Sharianews.com, JakartaLabel diskon selalu menjadi hal menarik bagi yang hobi berbelanja, walaupun sebenarnya harga tersebut sudah di-mark up.

Bagi produsen sendiri, diskon diberikan untuk menambah pelanggan, sehingga tidak sedikit para produsen yang membuat kartu diskon untuk para pelanggannya. Sedangkan di sisi pembeli, diskon tersebut memberikan keuntungan, berupa potongan harga setiap kali berbelanja. Lalu, bagaimana kartu diskon dalam pandangan syariah?

Dalam kajian Fikih Muamalah, Dr Oni Syahroni, MA., anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), sekaligus dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, mengatakan kartu diskon tersebut diperkenankan ketika tidak terdapat iuran bulanan dan biaya keanggotaan di dalamnya. Atau memiliki biaya keanggotaan, tetapi tidak ada iuran bulanan.

"Biaya keanggotaan diperkenankan dalam islam sebagai biaya administrasi atau biaya riil (al-masharif al-idariah/masharif al-khidmah al-fi'liah) pembuatan kartu diskon dengan besar biayanya yang lazim sebagaimana dijelaskan dalam standar syariah internasional AAOIFI," papar Dr Oni, Kamis (3/1).

Dalam ketentuan lain, biaya keanggotaan tersebut dianggap sebagai fee (ujrah) atas manfaat atau hak yang diterima oleh pemilik kartu diskon. Dimana hak atau manfaat tersebut dianggap dalam dalam islam sebagai materi dan bernilai (mutaqawwam).

Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Qudamah (Mazhab Hanbali) dalam kitab Al-Mughni bahwa manfaat itu seperti barang (al-Manafi' ka al-a'yan). Bahkan juga disebutkan, hal itu merupakan bagian dari barang. Oleh karenanya, untuk biaya keanggotaan sendiri dengan sejumlah nominal yang dibayarkan oleh pelanggan adalah halal karena manfaat yang diterima pemilik kartu diskon juga material.

Pada dasarnya, terdapat tiga bentuk kartu diskon yang ditawarkan. Pertama, kartu diskon dengan tanpa iuran bulanan dan tanpa biaya keanggotaan. Kedua, kartu diskon dengan tanpa iuran bulanan tetapi memiliki biaya keanggotaan. Terakhir, kartu diskon dengan biaya keanggotaan dan iuran berkala sekaligus.

Lebih lanjut, Oni memaparkan bahwa setiap diskon yang didapatkan pemilik kartu diskon tersebut (pembeli) adalah hibah atau hadiah yang diberikan perusahaan penjual kepada pembeli. Hibah tersebut diperbolehkan walaupun manfaat yang diterima perusahaan tidak secara langsung  yaitu berupa pelanggan.

Di samping itu, bentuk kartu diskon yang memiliki iuran berkala dan biaya keanggotaan sekaligus dianggap gharar (ketidakpastian) sehingga tidak diperkenankan dalam islam. Pasalnya biaya yang dibayarkan oleh pemilik kartu diskon kepada perusahaan dianggap sebagai harga beli, sedangkan diskon adalah produk yang dijual.

Dalam artian, iuran berkala sifatnya pasti, sedangkan diskon (sebagai harga jual) itu tidak pasti karena hanya didapatkan setiap kali belanja. Sedangkan , pada saat tidak ada aktivitas belanja, maka tidak ada diskon.

"Ketidakpastian ini tidak diperkenankan dalam Islam karena termasuk gharar, sebagaimana dalam sebuah Hadis Riwayat Muslim, 'Rasulullah SAW melarang jual beli (yang mengandung) gharar'," pungkas Oni.

Dengan demikian, lanjutnya, kartu diskon dengan iuran bulanan tidak diperkenankan dalam islam karena termasuk gharar. (*)

Reporter: Fathia Editor: Achi Hartoyo