Sabtu, 23 Maret 2019
17 Rajab 1440 H
x

Hidup itu Sekolah!

Jumat, 21 Desember 2018 10:12
FOTO | Dok. pribadi
Pelajaran hidup itu mencakup tiga hal. Hidup pada tingkatan pribadi, keluarga, dan tentunya juga masyarakat atau komunitas. Berikut ini lima belas kunci kebahagiaan pada tataran kehidupan pribadi.

Oleh: Imam Shamsi Ali | Presiden Nusantara Foundation

 

Catatan ini sudah pernah saya sampaikan sebagai kompilasi dari beberapa tulisan terdahulu. Bahwa untuk hidup tenang, pelajarilah hidup itu sendiri. Dalam catatan kecil ini pelajaran hidup itu mencakup tiga hal. Hidup pada tingkatan pribadi, keluarga, dan tentunya juga masyarakat atau komunitas.

Kali ini saya sampaikan lima belas kunci kebahagiaan pada tataran kehidupan pribadi. Tentu ini hanya bagian dari poin-poin yang mungkin saja terlewatkan. Semoga ada yang bisa menambahkan untuk manfaat luas kepada sesama.

Berikut kunci-kunci kebahagiaan hidup sebagai pribadi atau individu:

1. Never compare your self with others. You’d never know what others really feel. (Nggak perlu ukur diri dengan orang lain. Masing-masing ada limit. Kalau tidak, sakit hati).

2. Never be negative thinking about any thing. Pursue the positive sides and continue the walk. (Positif aje..., negatif thinking itu virus yang merambah ke seluruh pori kehidupan anda. Sebelum sakarat dengannya obatilah).

3. Don’t go beyond your capacity. (Jangan paksakan diri teman! Belajarlah mengukur diri sendiri. Jangan diukur oleh orang lain. Dan jangan merasa lebih dari kapasitas diri. Jika memaksakan akhirnya sakit hati dan marah, bahkan pada diri sendiri).

4. Don’t force you self to be perfect. None is perfect. (Jangan paksa diri merasa sempurna atau hebat. Tidak ada yg hebat...hanya ada satu Yang Maha Akbar).

5. Don’t waste your life for gossiping. Jangan membuang kesempatan hidup anda yang berharga untuk gosip, ghibah, apalagi fitnah. Yang rusak diri anda sendiri.. bukan orang lain.

6. Dream while awake. Bermimpilah di saat anda terbangun. Artinya usahalah sambil optimis). Jangan ambisi kosong.. sakit nanti!

7. Envy is the most dangerous “sickness”. Iri hati itu penyakit paling berbahaya di masyarakat. Sebaliknya belajarlah berbahagia dengan kebahagiaan orang lain. Sakit hati itu, jika dipenuhi oleh dengki dan iri-hati.

8. Forget your past shortcomings and the past of people around you. Mendingan belajar melupakan kekurangan dan kesalahan masa lalu. Fokus untuk Membenahi dan lanjutkan langkah kakimu. Terculik kesalahan masa lalu menjadi kelemahan sekarang dan masa depan...

9. Life is too short to hate. Never hate and learn to forgive. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapa pun itu. Jangan pernah membenci dan belajarlah memaafkan.

10. Be peaceful with your past. Busy with the past is a distraction to your current life. Damailah dengan masa lalu anda agar hal tersebut tidak mengganggu masa kini anda.

11. None is responsible for your joy and happiness. Learn to be happy with all circumstances of your life. Tak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kesenangan dan kebahagiaan anda kecuali anda sendiri. Belajarlah berbahagia dalam hidup apapun keadaannya.

12. Know that life is a learning process (school), and you are here to learn. Ketahuilah bahwa hidup adalah sekolah, dan anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika). Tapi pelajaran yang anda dapat berlangsung seumur hidup.

13. Smile and laugh as much as possible within the appropriateness to enjoy your life. Senyumlah dan tertawalah sesering mungkin selama masih wajar. Karena itu adalah jalan menikmati hidup ini.

14. You can not win and right on all different opinions. Learn to accept others and acknowledge your shortcomings and be tolerant. Anda tidak dapat selalu unggul dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan dan bertoleransilah.

15. Learn to be happy with others happiness. Learn to feel others pain. Not the opposite... bahagia dengan kabahagiaan orang lain. Belajarlah merasakan penderitaan orang lain. Jangan dibalik menjadi menderita karena kesuksesan orang lain. (Kompilasi dari beberapa sumber).

Oleh: Imam Shamsi Ali