Minggu, 20 Oktober 2019
21 Ṣafar 1441 H
Home / Lifestyle / Hati-Hati dalam Mendidik Anak Melalui Pendengaran
FOTO I Dok. nakita.grid.id
Proses mendengar dapat membentuk ingatan pada anak sekitar 30 persen.

Sharianews.com, Psikolog pendidikan anak usia dini, Novita Tandry, M.Psi menyebut, porsi ingatan pada anak-anak terbentuk dari adanya perbuatan sekitar 60 persen. Kemudian dari proses mendengar dapat membentuk sekitar 30 persen ingatan anak, dan melihat membentuk 40 persen.

Konteks tersebut menempatkan persentase terendah pada proses mendengar. Namun bukan berarti menjadi suatu yang terbelakang.

Ustaz Irwan Rinaldi, seorang praktisi fathering, pengelola rumah singgah sekaligus penulis ini juga mengatakan jangan pernah bermain dengan pendengaran anak. Sebab anak akan sangat mudah menyerap apa yang didengar. Setiap harinya mereka dapat menyimpan hampir 10 ribu kata yang didengar.

Oleh sebab itu menurutnya, memberikan kata-kata yang baik untuk anak merupakan salah satu solusi terbaik dalam mendidiknya.

“Begitu juga kalau ingin menjadikan anak-anak hafal quran, maka hatamkan berkali-kali Alquran (karena melihat dan mendengar) dia nggak ngerti sekarang tapi dia simpan di memorinya,” ujar dia, Sabtu (6/7).

Pada beberapa kasus, lanjutnya menjabarkan, sebagai ayah juga harus memerhatikan kondisi psikologis sang anak. Apabila anak laki-laki berusia 8 sampai 15 tahun tergolong penakut, menandakan dirinya butuh sosok ayah untuk menjadikannya laki-laki yang tidak penakut.

Begitu pula pada anak perempuan agar tidak terjangkit dalam LGBT (lesbian, gay, bisexual dan transgender), maka peran ayah juga sangat dibutuhkan.

Dalam hal ini, bagaimana seorang ayah bersikap baik kepada ibu, sehingga tidak menimbulkan traumatis pada anak perempuan yang mengakibatkan ia lebih menyukai perempuan ketimbang lelaki.

“Hebatkan dan jaga pendengaran, penglihatan, hati nurani sang anak sejak usia dini. Yang dibutuhkan adalah jadikan dia laki-laki atau jadikan dia perempuan. Laki laki jadikan dia seperti Ismail, perempuan jadikan dia seperti Maryam,” lanjut dia.

Di samping peran orangtua dalam menjadikan anaknya hebat, yang perlu diingat menurut ustaz Irwan adalah hasil tetap di tangan Allah Swt.

“Lakukan yang terbaik, sungguh sungguh, Do the best and Allah finished. Jangan berfikir ini anak mau jadi apa, biar Allah yg menjadikannya. Tugas ayah dan ibu adalah lakukan yang terbaik, cari nafkah terbaik, ibadah yang terbaik,” pungkas dia.(*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo