Kamis, 17 Oktober 2019
18 Ṣafar 1441 H
Home / Ekbis / Halal Travel Konsorsium Angkat Bicara Terkait Kawasan yang Menolak Wisata Halal
FOTO I Dok. The New York Times
"Kalau kita lihat Indonesia dengan destinasinya, seharusnya hal tersebut terbuka untuk orang-orang yang memang suka dengan industri halal, sehingga tidak ada anggapan di sini sulit, bukan untuk kita," terang Nur Iman saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu (26/6).

Sharianews.com, Jakarta ~ Co Founder Halal Travel Konsorsium Nur Iman Santoso angkat bicara mengenai destinasi wisata yang menolak wisata halal di Indonesia.

"Kalau kita lihat Indonesia dengan destinasinya, seharusnya hal tersebut terbuka untuk orang-orang yang memang suka dengan industri halal, sehingga tidak ada anggapan di sini sulit, bukan untuk kita," terang Nur Iman saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu (26/6).

Caleg dari partai PKS ini menuturkan, dengan adanya destinasi wisata halal bukan berarti menurunkan ciri khas kawasan tersebut. Namun, memang hal tersebut lumrah sebagai sebuah kebutuhan bagi para pelancong yang ingin berwisata islami untuk mendapatkan nilai lebih.

"Misalnya saja asupan dari makanan halal dan juga rohaninya, sebenarnya hal itu wajar-wajar saja, tinggal gaya komunikasi teman-teman di sana melihat kondisi di sana saja," imbuh Nur Iman.

Nur Iman melihat kurangnya keefektifan dalam berkordinasi dengan kementerian atau dinas pariwisata di sana. Padahal, lebih lanjut dikatakan, dengan semakin banyak orang yang datang ke wilayah tersebut, potensi pendapatan daerah akan bertambah.

"Dengan menutup satu celah saja, berarti akan menutup satu peluang di situ, harusnya tidak ada hal seperti itu lagi," imbuhnya lagi.

Sementara dari Asosiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN) mengatakan, pihak internal asosiasi akan berkoordinasi dengan pemerintah.

"Komunikasi saja, jadi tidak perlu ramai di media dan berdampak luas, karena kita pahamlah kenapa mereka nolak, dianggapnya "islamisasi", kan, itu kurang elok dari segi kebhinekaan kita, ujar Sekjen ATHIN, Cheriatna di tempat yang sama.

Dirinya juga mengatakan tidak ingin bersuara keras, yang jelas pemerintah bisa menerangkan bagaimana maksud wisata halal tersebut, ia pun mencontohkan kenapa negara nonmuslim ikut menyiapkan wisata Muslim termasuk Amerika dalam menggelorakan wisata halal.

"Ini sektor di mana tidak perlu infrastruktur besar tapi bisa mendatangkan devisa, wilayah kita sepertinya sudah ada semua, tinggal gimana menarik devisa itu, bayangkan saja dalam setahun Turki mendatangkan 80 juta wisatawannya datang ke sana loh," imbuh Cheriatna.

Cheri menjelaskan, turis dari Indonesia yang berkunjung ke negara Turki ongkosnya sekitar 15 juta rupiah, tetapi nilai belanjanya lebih.

"Bisa bawa karpet, jaket, makanya Presiden Turki Erdogan sekarang bikin bandara terbesar karena tidak nampung lagi, dan kita harap pemerintah lebih banyak yang berbicara, kan juga yang pada nolak itu tokoh-tokoh setempat," tutup Cheriatna. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Arie Dwi Prasetyo