Kamis, 12 Desember 2019
15 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Wawancara / Halal Life Style untuk Memudahkan bukan Mempersulit
FOTO | Dok. AKH sharianews.com
Halal life style sejatinya bukan hanya soal gaya hidup kaum muslimin. Halal life style juga bisa menjadi kebaikan bagi semua umat. Sebab seruan atau perintah awalnya sesuai dengan bunyi nash-teks Alquran surat Albaqarah ayat 169 memang ditujukan kepada semua manusia.

Halal life style sejatinya bukan hanya soal gaya hidup kaum muslimin. Halal life style juga bisa menjadi kebaikan bagi semua umat. Sebab seruan atau perintah awalnya sesuai dengan bunyi nash-teks Alquran surat Albaqarah ayat 169 memang ditujukan kepada semua manusia.

Sharianews.com, Jakarta. Seruan memilih bahan pangan, termasuk di dalamnya pakaian atau fashion dan segala aktivitas yang halal dan harus dilakukan secara baik – toyib, menghindari langkah-langkah setan yang tidak terpuji, tidak merugikan orang lain. Ini sejatinya adalah untuk kebaikan seluruh umat manusia.

Namaun demikian untuk membumikan prinsip-prinsip halalan-toyiba dalam semua aspek kehidupan, hingga ke aspek industri halal, memang tidak mudah. Butuh dukungan dan kesadaran semua pihak.

Untuk mengupas apa itu sebenarnya halal life style dan bagaimana hal itu kini bisa menjadi tren dan apa yang yang harus dilakukan ke depannya, Ahmad Kholil dari redaksi sharianews.com melakukan wawancara khusus dengan Dr.Sapta Nirwandar, Ketua Halal Life Style Center Indonesia, yang juga mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Selasa (31/7). Berikut ini petikan lengkapnya.

Istilah halal lifstyle mulai popular di dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai awam, saya ingin tahu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan halal life style itu?

Baik. Pertama kita harus kembalikan kepada refrensi utamanya. Yaitu Alquran Surat Albaqarah ayat 169 : “Hai sekalian  manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”

Di situ disebutkan ada tiga kata, yang memiliki makna sangat universal. Bahwa halal itu untuk semua manusia. Ini menunjukkan pertama, bahwa bumi itu disiapkan oleh Allah SWT untuk seluruh manusia. Setiap upaya dari siapapun untuk mendapatkan hasilnya baik oleh individu maupun kelompok tidak boleh dilakukan dengan cara yang merugikan orang lain dan bertentangan dengan ketentuan Allah.

Juga karena tidak semua yang ada di bumi otomatis halal, maka diperintahkanlah kepada umat manusia untuk hanya mengambil makanan yang halal, yaitu makanan yang tidak haram atau dilarang oleh agama.

Dalam kaitan ini makanan yang haram ada dua macam, yang haram karena zatnya – dari asalnya sudah haram. Kedua makanan yang haram karena sesuatu bukan dari zatnya, seperti makanan yang diperolah dengan cara yang tidak baik, apakah itu proses pengolahannya, cara mendapatkannya, termasuk yang didapat tanpa seizin pemiliknya.

Nah, kata halal kemudian dikaitkan dengan toyiba – yang baik. Sebab tidak semua yang halal juga baik, karena yang halal ini saja memiliki hukum yang empat ; wajib, sunnah, mubah, dan makruh. Ada makanan halal, yang belum tentu menyehatkan dan baik bagi seseorang.

Ada juga makanan halal, tetapi tidak bergizi atau tidak cocok untuk kondisi tertentu, dan karena itu meskipun halal menjadi tidak baik. Itulah makna perintah di atas, yaitu  makanlah yang halal lagi baik. 

Tidak hanya dalam hal makanan, aktivitas pun demikian. Itu makna kata yang ketiga, jangan mengikuti langkah-langkah setan. Ada aktivitas atau kegiatan – pekerjaan yang halal dan sebaliknya. Ada pekerjaan yang baik dan tidak baik.

Jadi ayat ini spektrumnya sangat luas, yah?

Sangatlah luas. Jadi ayat  ini (Albaqarah ayat 169) sangat  terbuka dan dalam (open and in depth).  Jadi halal untuk semua dan selamanya dan tidak hanya untuk sekian tahun.

Karenanya, jika kita mau iqra-membaca dan berpikir jauh, ayat ini sangat multi dimensi, sehingga jika kita mau menggunakan akal sehat, ilmu pengetahuan kita, maknanya sangat luas.

Apalagi jika dikaitkan dengan aktivitas manusia dalam berusaha, seperti disebutkan dalam ayatnya,”… janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” Hidup secara qurani- sesuai syariah itu mencakup semua hal. Mulai dari makanan dan minuman, fashion, dan dalam hal perbuatan, termasuk bagaimana berinvestasi, menyimpan uang. Itu semua masuk dalam wilayah yang harus halal lagi baik (halalan - toyiba).

Di dalamnya ada aspek bisnis dalam semua sektor, yang potensi nilai ekonominya dalam triliun dolar bukan hanya dalam triliunan rupiah.

Namun saat ini yang dipahami umat Islam itu, kalau sesuatu dikatakan halal, asosiasinya terkait dengan makan halal, hijaber … ?

Nah itu baru satu sektor saja. Sekarang kita lihat sedikit, satu per satu. Memang itu belum semua terbuka. Karena itu, perlu dijelaskan di sini bahwa apa yang sudah menjadi tren, itu kalau yang dimaksud dengan makanan halal itu adalah healthy food, minuman itu safety food and drink.

Kedua, jangan lupa juga ada unsur tasteful di dalamnya – ada selera terkait dengan rasanya juga. Ketiga, sesuatu yang halal dan baik itu juga memberikan kenyamaman bagi orang yang meyakini itu sebagai sesuatu yang baik, sebagai ibadah. Bagi kamum muslimin makanan halal itu menimbulkan kepastian, tidak ada keraguan.

Jadi halal life style itu mencakup semua aspek kehidupan, yah?

Jadi prinsipnya, halal lifestyle itu mencakup pangan, sandang, dan papan. Saat ini kalau pangan (food) itu,  karena menyangkut kebutuhan harian setiap orang (daily needs). Orang tidak bisa hidup tanpa food, dan itu tidak hanya soal nasi, ayam, dan tahu atau tempe, tetapi mencakup dimensi yang sangat luas mulai dari sejak proses awal  hingga menjadi produk olahan.

Bagaimana bisa menjamin semua prosesnya berlangsung sesuai dengan syariah. Ayam, sejak dari menetas, kemudian bagaimana ia diberi makanan. Apakah makanan halal atau tidak. Jika makanan haram, maka seterusnya bagaimana hukumnya.

Itu baru bicara satu produk. Ayam  potong dan produk olahnnya. Dalam prosesnya sebelum dijual, dia disembelih – diolah apakah secara syar’i atau tidak. Dikemas dan diolah menjadi makanan olahan apakah prosesnya terkontaminasi oleh barang yang haram atau tidak. Sebab dari bahan yang halal jika terkontaminasi dengan sesuatu yang haram bisa menjadi tidak halal dan seterusnya.

 Ini yang belum banyak disadari oleh masyarakat muslim?

Banyak  hal dan sangat luas, sehingga ini merupakan peluang bisnis besar. Bahkan kopi saja, yang halal secara zat-nya dari awal,  bisa menjadi tidak halal, karena prosesnya yang tidak halal. Contohnya, kopi Lampung, itu  ada sertifikasi halalnya, ada registrasi halalnya. Nah, itu sudah bisa menjadi suatu brand yang bernilai ekonomi.

Masalah krusial di industri halal itu ada di mana?

Jadi dimensi produk olahan itu begitu luas. Umpanya ambil satu, es krim atau yogurt. Es krim itu bahan bakunya, gula, susu, dan supaya es krim memiliki kekentalan, punya rasa tertentu, ditambahkanlah yang namanya gelatin. Nah, gelatin-nya itu, berasal dari mana?.

Padahal menurut Prof. Irwandi Jaswir, ilmuan ahli gelatin, guru besar kimia pangan dan biokimia dari International Islamic University Malaysia, 90 persen produk gelatin itu tidak halal. Mengapa karena 60 persen gelatin di dunia berasal dari lemak kulit babi dan 40 persen gelatin berasal dari hewan halal, namun tidak diketahui secara pasti, belum jelas halal atau tidaknya alias subhat.

Padahal kita tahu, gelatin itu banyak digunakan untuk bermacam-macam produk olahan. Mulai dari industri pangan dan minuman, seperti dalam es krim, yogurt. Dalam industri obat sampai kecantikan kosmetik, tidak luput dari bahan gelatin ini.

Problemnya sekarang, bagaimana Anda bisa meilihat sesuatu sebagai sesuatu yang haram atau halal jika tidak mengetahui ilmunya. Tidak ada ahli dan alat laboratoriumnya. Artinya memang untuk bisa membacanya, apakah sesuatu itu mengandung zat yang haram atau tidak, membutuhkan keahlian atau ilmu, riset, dan penelitian (R&D). Itu baru satu produk saja.

FOTO | Dok. AKH sharianews.com

***

 Bagaimana dengan produk halal dalam industri farmasi ?

Nah, itu menarik. Bisa dilihat misalnya dari apa yang selama ini dipakai oleh pasien. Kapsul. Itu gelatin bisa masuk di situ. Sekarang kita 225 juta penduduk Indonesia. Katakanlah, yang sakit ¼ atau sekira 30  juta, pasti dikasih obat yang ada kapsulnya. Kapsulnya dari gelatin. Memang ada yang berdalil, ini karena mudharat - kondisi darurat. Jadi kita bisa makan dan boleh. Pertanyaannya, sampai kapan kondisi mudharat atau darurat ini, masak mau selamanya.

Berarti harus ada solusi. Khan tidak cukup teriak-teriak babi haram. Itu tidak menyelesaikan masalahnya. Harus ada alternatifnya?

Nah, alternatifnya itu gelatin dari hewan lain. Jadi apalagi, misalnya saat ini yang popular es krim. Semua anak di kota suka es krim, permen candy, marshmallow – yang salah satu bahannya adalah gelatin. Jadi bagaimana nantinya jika dari kecil, anak-anak sudah dikasih poduk tidak halal.

Mengapa semua aspek tentang halal ini diistilahkan dengan halal life style?

Saya sebutkan halal life style karena menurut saya, mestinya ini bukan sebagai bagian yang mempersulit hidup. Tetapi memudhahkan bagi yang mau menerapkannya.

Berarti saat ini terlihat bukan sebagai sesuatu yang memudahkan bagi yang mau menjalankannya?

Ada sebagian industri yang melihat hal ini menjadi bagian dari tambahan biaya. Padahal, kalau dia menjadi produk yang halal food, berkualitas, dia juga bisa menjadi komoditas yang kompetitif sepanjang kualtasnya bagus.

Sebab dengan memiliki label halal, sebuah produk atau jasa justeru akan memiliki peluang untuk diterima secara lebih luas oleh konsumen muslim di Indoensia. Sebaliknya, jika sebuah produk apakah material bahan baku atau dalam prosesnya diketahui menggunakan sesuatu yang tidak halal, itu akan ditinggalkan oleh konsumen, terutama konsumen dari umat Islam.

Persoalannya tidak begitu mudah menentukan apakah suatu produk dijamin halal atau tidak, jika tanpa label halal?

Karena itu, para scientist atau ilmuwan harus bisa memberikan padanan produk yang bisa menjadi alternatif dan memberikan dampak positif bagi kegiatan industri halal ini.

Katakanlah, jika kita mampu mengganti 90 persen gelatin, itu dengan produk  gelatin yang halal. Nah, berapa banyak kita bisa memproduksi dan menyediakan bahan halal untuk masyarakat muslim dunia,  terutama dalam proses industri  pangan, obat sampai kosmetik.

Semua itu adalah produk-produk untuk kebutuhan keseharian. Termasuk di dalamnya ada minyak, sosis, tooth brush – sikat gigi – yang ditengarai ada yang menggunakan bulu babi. Jika ini digarap, bisa dibayangkan besaran nilai ekonominya.

Karena itu, sudah tepat pemberlakukan UU No. 33 tahun 2014, tentang Jaminan Produk Halal (JPH)?

Jadi jaminan produk halal kalau saya mengintepretasikannya, kalau yang halal harus dilabel halal. Kalau yang tidak halal, dia tidak ada labelnya. Supaya juga jangan ada pemaksaan. Itu yang pertama. Kedua konsumen harus berani menentukan, saya hanya mau memakai produk halal.

Nah, di situlah perlunya edukasi. Jadi tidak hanya sepihak. Tekanan atau pressure group dari masyarakat juga  penting. Di Singapura, penduduk muslim hanya 700 ribu orang. Tetapi, dia tidak mau makan di franchise seperti McD, yang tidak ada logo halalnya. Dengan begitu, produsen wajib memasang logo halalnya, kalau tidak ingin ditinggal atau kehilangan pasar.

Pemberlakuan JPH, itu sebetulnya berlaku buat konsumen non-muslim juga. Karena kalau sudah halalan-toyiba, sudah berlabel halal, itu mestinya sudah pasti produknya halal dan baik.

Healthy and safety food. Sudah melalui proses uji riset dan penelitian dari awal bahan baku, hingga proses pengolahan akhir, sebelum sampai ke pasar.  Memenuhi prinsip halal supply chain management. Melibatkan ilmuwan, laboratorium, dengan tenaga ahli yang mestinya juga bersertifikasi yang diakui dunia internasional.

Jadi umat Islam Indonesia itu baru sampai pada kesadaran adanya perintah larangan haram dan halal, belum ke sampai tahap aplikasi sistem produksi ?

Tepatnya belum sampai aplikasinya. Ibaratnya, baru sampai pada batas bahasan “nahwu-sharaf-nya” saja.  Baru sampai pada pemahaman dasar -  soal arti kata gramatikanya.

Pembacaannya, belum sampai iqra pada fenomena yang tersurat dan tersiratnya. Karenanya, harus lebih digali dan dibaca lagi, iqra’nya harus sampai pada aplikasi di tataran praktis industri halalnya yang sangat komplek.

***

Berarti  halal life style itu, harus masuk dalam industri halalnya, ya Pak?

Nah, pada tahapan selanjutnya kita harus masuk ke level halal industri. Apa saja. Food, hanya salah satu yang terbesar, karena ada tiga faktor. Food  merupakan kebutuhan sehari-hari (daily needs). Kedua, jenisnya banyak, beragam dan khas untuk setiap daerah. Ketiga, sensivitasnya tinggi.

Orang itu masih permisif – masih menoleransi jika melihat tontonan yang rada-rada aneh, karena dinilai tidak masuk perut. Karena ada paham, kalau makanan, itu jadi darah-daging. Jadi, kalau soal makanan orang relatif sudah mulai sangat berhati-hati. Kedua,  insustri halal yang bekembang pesat saat ini sebenarnya adalah sandang atau fashion. Di luar itu masih ada pariwisata atau travel, dan lain-lain.   

Saat ini orang melihat indikasi halal life style itu ada pada soal fashion ini, ketimbang yang lain?

Iya antara lain karena kelihatan. Orang mengenakan hijab dan  tidak,  itu terlihat. Seperti itu.  Kenapa sekarang itu hijabers menjadi tren, karena di dalamnya ada selera, ada gaya ( style) atau fashion.

Fashion dan style inilah yang membuat orang bergairah untuk mengenakannya.  Karena memang karakternya orang berpakaian itu, tidak hanya satu warna saja, cokelat saja, tetapi beraneka macam warna dan bentuk. Ada unsur keindahannya di sana. Lalu dipadukan dengan unsur dan nilai-nilai syariah, maka jadilah gaya yang sesuai dengan syariah.

Kalau sudah menyangkut style, dalam ilmu branding, style itu adalah selera ada desain. Industri masuk di sana. Nah, inilah yang membuat fashion muslim terus berkembang dan menjadi tren gaya busana muslimah.

Jadi industri halal itu memang mesti terkait dengan ide dan kreativitas. Itu tidak akan habis selama orang masih hidup, karena dia punya selera atau keinginan. Namun demikian kreativitas tersebut mestilah dibingkai dengan nilai-nilai syariah. Nah, itulah halal life style namanya.

***

Ahmad Kholil