Kamis, 17 Oktober 2019
18 Ṣafar 1441 H
Home / Ziswaf / Habibie dan Cita-Cita Gerakkan Zakat
UU yang ditandatangani Presiden BJ Habibie ini melahirkan Baznas sebagai sebuah lembaga zakat yang dikelola negara

Sharianews.com, Jakarta ~ Presiden BJ Habibie bukan saja pelopor pembuatan pesawat dan teknologi. Mungkin, yang sering luput dari pembahasan media bahwa Habibie adalah presiden yang pertama kali menandatangani pengesahan UU Zakat No 38/99 dan pertama kali memasukkan zakat sebagai unsur penting sehingga keberadaannya diatur oleh negara.

UU yang ditandatangani Presiden BJ Habibie ini, juga melahirkan Baznas sebagai sebuah lembaga zakat yang dikelola negara dan mengukuhkan LAZ sebagai gerakan masyakat dalam pengelolaan zakat.

Beberapa periode sebelumnya, sejak menjadi menteri, Beliau dikenal sebagai pendorong lahirnya tiga serangkai penghela dakwah umat di massanya ICMI, Bank Muamalat, dan H.U. Republika yang kemudian melahirkan Dompet Dhuafa sebagai cikal bakal gerakan zakat modern di Indonesia.

Dompet Dhuafa-lah yang mulai menggairahkan gerakan zakat, sehingga bersama sama para perintis saat itu membidani Forum Zakat, Institut Manajemen Zakat dan menjadi inspirasi dari kemunculan gerakan zakat lainnya, yang akhirnya melahirkan tatanan gerakan zakat semakin marak.

Keberadaan Baznas sebuah badan pengelola zakat oleh negara menjadi cita-cita yang diimpikan oleh aktivis gerakan zakat saat itu. Erie Sudewo Direktur Dompet Dhuafa saat itu menulis artikel  "Dari Ciputat Ke Istana". Ciputat adalah kantor Dompet Dhuafa di mana terlahir gagasan gerakan zakat saat itu.

Kini, sebagai cita cita UU Zakat yang ditorehkan oleh Persiden BJ Habibie, dengan kelahiran UU Zakat saat itu, Baznas terus membangun dirinya memberikan pelayanan terbaik.

"Saya yakini dengan bantuan dan gairah yang sama dengan kelahiran gerakan zakat, Baznas akan mampu mewujudkan cita-cita para penggagas gerakan zakat dan mimpi Presiden BJ Habibie membangun tatanan zakat sebagai sebuah kekuatan umat," ucap Dirut Baznas, Arifin Purwakananta dalam keterangannya kepada sharianews, Kamis (12/9).

Untuk itulah, sebagai pernghargaan kepada Presiden BJ Habibie yang menandatangani UU Zakat 38/1999 pada 23 September 1999, lebih lanjut dikatakan Arifin, saya dengan kerendahan hati mengusulkan agar 23 September dipakai sebagai momentum Hari Zakat Nasional.

"Semoga Allah mengampuni dan memberikan balasan yang berlipat ganda kepada Almarhum Bapak BJ Habibie. Semoga menjadi inspirasi bagi kita yang muda muda untuk terus mengembangkan gerakan zakat di Indonesia. Lahul Fatihah," tutupnya. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo