Rabu, 20 Januari 2021
07 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Sharia insight / Gugus Tugas Optimalisasi Dana ZISWAF untuk Penanganan COVID-19 pada Program KKNT LPPM-IPB
Dana social safety net yang digulirkan diperkirakan belum mampu untuk memenuhi kebutuhan safety net masyarakat yang 351 triliun per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan scenario terburuk dampak COVID-19 pada penambahan penduduk miskin yang diperkirakan meningkat hingga 14,35% berdasarkan riset CORE Indonesia

Sharianews.com, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) meluncurkan program pendirian Gugus Tugas Optimalisasi ZISWAF sebagai upaya untuk penanganan COVID-19. Program ini diinisiasi untuk mendukung program pemerintah yang sudah menggulirkan dana tambahan dari Belanja dan Pembiayaan APBN 2020 sebesar 405,1 triliun rupiah. Dana tersebut oleh pemerintah telah didistribusikan untuk kesehatan sebesat 75 triliun, social safety net 110 triliun, insentif pajak dan stimulus UMK 70,1 triliun serta pemulihan ekonomi 150 triliun.

Dana social safety net yang digulirkan diperkirakan belum mampu untuk memenuhi kebutuhan safety net masyarakat yang 351 triliun per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan scenario terburuk dampak COVID-19 pada penambahan penduduk miskin yang diperkirakan meningkat hingga 14,35% berdasarkan riset CORE Indonesia. Jumlah total penduduk miskin kemudian akan menjadi 37,9 juta jiwa dengan kebutuhan per bulan per jiwa sebesar 772 ribu rupiah berdasarkan standar had kifayah atau batas hidup layak yang ditetapkan oleh BAZNAS. Social safety net yang ditetapkan pemerintah diposkan untuk Program Keluarga Harapan (PKH), kartu sembako, kartu prakerja, diskon tarif listrik, tambahan insentif perumahan, serta dukungan sembako dan kebutuhan pokok.

Berbagai inisiatif dari swadaya masyarakat untuk mendukung dan menambah program yang telah ditetapkan pemerintah ini telah dilaksanakan, diantaranya menyakup lembaga swadaya masyarakat yang menyalurkan sedekah serta komunitas sosial lainnya yang berinisiatif melaksanakan crowfunding untuk menyalurkan sedekah. Demikian pula lembaga filantrofi Islam, seperti amil zakat dan nadzir wakaf berupaya untuk membantu masyarakat dalam menghadapi dampak COVID-19.

Meskipun demikian, lembaga filantrofi Islam masih menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengumpulkan dan menyalurkan dana ZISWAF, di samping, tentu berbagai peluang juga terbuka luas bagi lembaga ini untuk berkembang di masa pandemi ini. Tantangan optimalisasi ZISWAF di antaranya terbatasnya jangkauan dan layanan organisasi pengelola ZISWAF formal, serta kecenderungan masyarakat yang masih menyalurkan secara langsung kepada penerima zakat tanpa melalui lembaga/amil. Sementara itu, peluang yang terbuka bagi lembaga filantrofi Islam adalah masyarakat Indonesia terbukti masih memiliki tingginya solidaritas, kepedulian, dan kedermawanan, serta kolaborasi yang masih dapat tersinergikan antara masyarakat, organisasi pengelola ZISWAF, serta perangkat daerah.

Institut Pertanian Bogor (IPB) menangkap ini sebagai peluang serta sebagai bentuk dukungan institusi terhadap program pemerintah, terlebih IPB telah memiliki lembaga formal Divisi Dana Sosial dan Lembaga Amil Zakat al-Hurriyah. Sebagai bentuk realisasi pengabdian kepada masyarakat, IPB menawarkan program ini dalam program yang dilaksanakan oleh mahasiswa yang menjalankan KKNT tahun 2020.

Setiap tahun, IPB melaksanakan program KKNT sebagai bentuk pendidikan yang kegiatan utamanya berada di luar kampus dengan memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup di tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa secara langsung bersama-sama masyarakat mengidentifikasi, menganalisa, dan menangani masalah-masalah pembangunan yang dihadapi masyarakat secara terintegrasi antar profesi di IPB. KKN-Tematik merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum program Sarjana Strata I IPB. Peraturan Rektor Institut Pertanian Bogor Nomor 9/IT3/ PM/2020 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan KKN-T Bagi Mahasiswa Program Sarjana IPB menyatakan bahwa tujuan KKN-T IPB adalah

  1. Meningkatkan rasa peduli dan empati terhadap permasalahan yang dihadapi di masyarakat, serta pemahaman terhadap adat istiadat dan budaya masyarakat serta wawasan kebangsaan;
  2. Kemampuan dalam melaksanakan, dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat dalam bidang pertanian dalam arti luas, industri berbasis pertanian, dan lingkungan secara terintegrasi baik multidisipin maupun interdisiplin antar bidang ilmu di IPB
  3. Kepedulian dan komitmen yang tinggi, terampil berkomunikasi, dan bekerjasama antar bidang ilmu untuk berkontribusi dalam mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat; dan
  4. Kemampuan dalam menginisiasi dan mengembangkan jejaring kerjasama pemangku kepentingan dalam upaya pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhan dalam dinamika kehidupan aktual di masyarakat.

Program Gugus Tugas Optimalisasi Dana ZISWAF untuk Penanganan COVID-19 sangat relevan dengan tujuan KKNT, sehingga IPB, terutama Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB menawarkan program ini melalui kerjasama dengan Divisi Dana Sosial IPB, LAZ al-Hurriyyah, serta BAZNAS. Secara spesifik, program ini bertujuan:

  1. Melatih kepekaan sosial dan membangun jiwa sosial yang kuat
  2. Membangun karakter sebagai inisiator perubahan
  3. Melatih mengorganisasikan potensi di masyarakat (minimal pada level RT/RW)
  4. Mendorong penguatan penokohan sejak muda

Sementara itu, teknis pelaksanaan dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Menginisiasi satuan pelaksana ZIS (surat keterangan BAZNAS). Tidak mesti mahasiswa tersebut yang menjadi ketua, tetapi harus mempunyai peran sebagai motor satuan pelaksana.
  2. Menyiapkan mendesain rencana program:
    1. Pengumpulan ZIS
    2. Penyaluran ZIS
  1. Berkoordinasi dengan BAZNAS/LAZ Kab/Kota setempat.
  2. Berkoordinasi dengan masjid setempat: di wilayah yang sudah memiliki UPZ masjid, maka dapat menjadikan satuan pelaksana sebagai bagian dari UPZ Mesjid. Apabila belum menjadi UPZ, maka masjid tersebut didorong menjadi UPZ BAZNAS Kab/Kota setempat.

Demikian pelaksanaan KKNT LPPM-IPB yang berlangsung sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dan mengasah softskill mahasiswa untuk lebih engage dengan masyarakat, meskipun di masa pandemi pelaksanaan KKNT lebih didominasi dengan metode virtual kombinasi off-line, dengan, tentu saja, memperhatikan prosedur kesehatan.

Oleh : Laily Dwi Arsyianti

Tags: