Rabu, 3 Maret 2021
20 Rajab 1442 H
Home / Keuangan / Green Sukuk, Sukuk Penyelamat Lingkungan
FOTO I Dok. Sukuk.com
Alasan mengapa green sukuk lebih diutamakan, karena dianggap memiliki potensi ganda dalam mengintegrasikan pendanaan dari beragam latar belakang investor, dibandingkan instrumen syariah lainnya.

Sharianews.com, Jakarta. Dunia sedang mengalami perkembangan pada tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya: mulai dari cadangan energi dan sumber daya yang kian sulit didapat, risiko perubahan iklim, hingga dampak yang berlanjut pada ketersediaan lapangan kerja yang sangat minim. Sementara eksplosi penduduk usia produktif beserta kebutuhannya tidak menunjukkan penyusutan berarti.  

Menurut catatan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) secara global efek perubahan iklim akan semakin tinggi dan mengakibatkan biaya pemulihan jauh lebih besar. Perkiraaannya antara dua sampai tiga kali lipat pada 2030 kelak, sehingga dibutuhkan alokasi dana yang besar untuk menghadapinya. Diperkirakan pada 2030, dunia membutuhkan infrastruktur senilai 90 triliun dolar AS.

Menurut ulasan State of the Global Islamic Economy Report 2018/19 oleh Thomson Reuters, Dubai the Capital of Islamic Economiy dan DinardStandard, banyak pihak yang mendorong pembiayaan ekonomi syariah lewat green sukuk  atau ‘sukuk ramah lingkungan’ untuk membantu menutupi kebutuhan tersebut.   

Alasan mengapa green sukuk lebih diutamakan, karena dianggap memiliki potensi ganda dalam mengintegrasikan pendanaan dari beragam latar belakang investor, dibandingkan instrumen syariah lainnya.

Menurut hasil penelitian Comittee for Economic and Commercial Cooperation of the Organization of Islamic Cooperation (COMCEC) 2018 lalu, instrumen sukuk ramah lingkungan diperkirakan akan melonjak dan memiliki prospek yang lebih cerah serta mampu mendongkrak struktur dan elemen pasar sukuk dunia

Bukti peningkatan instrumen green sukuk tersebut bisa dilihat dari meningkatnya obligasi syariah yang diterbitkan belakangan ini. Misalnya, pada Juli 2017 perusahaan Malaysia, Tadau Energy Sdn. Bhd, menerbitkan 59 juta dolar AS untuk desain pembiayaan pembangkit listrik tenaga surya berkekuatan 50 megawatt di daerah Sabah.

Tiga bulan kemudian, Quantum Solar Park Malaysia Sdn. Bhd. merilis sukuk ramah lingkungan terbesar di dunia dari jalur korporasi yang dialokasikan untuk tujuan serupa di Kedah, Melaka, dan Terengganu senilai 236 juta dolar AS.

Di penghujung tahun 2017, Sarawak Hidro Sdn. Bhd. yang sudah sepenuhnya dimiliki pemerintah lokal meluncurkan 2.5 juta ringgit Malaysia guna membangun proyek pembangkit listrik tenaga air. Berikutnya pemerintah pusat Malaysia dengan mengeluarkan green sukuk negara sebesar 466 juta dolar AS melalui PNB Merdeka Ventures Sdn. Bhd.

Momentum surat utang hijau syariah itu bertambah menarik ketika tahun berikutnya diterbitkan oleh UiTM Solar Power Sdn. Bhd., anak perseroan milik Universiti Teknologi Mara, pada April 2018 lalu dengan jumlah yang nilainya mencapai 240 juta ringgit Malaysia.

Meski belum sematang Malaysia dalam mempaktikkan struktur ekonomi Islam, Indonesia juga telah banyak menerbitkan obligasi syariah. Begitu pula dengan perilisan green sukuk, pada Maret 2018 pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan menerbitkan sukuk hijau yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang mempublikasikan sukuk ramah lingkungan.

Jumlahnya pun tidak main-main, bahkan terbesar di dunia yakni totalnya mncapai 1,25 miliar dolar AS. Anggaran sebesar itu tidak mengherankan karena menurut estimasi kebutuhan perbaikan lingkungan akibat perubahan iklim di seluruh wilayah Indonesia dari 2015 sampai 2020, setelah dihitung mencapai 80 miliar dolar AS.

Di luar Malaysia dan Indonesia, banyak negara yang sudah menggunakan instrumen sukuk. Oman, misalnya, dengan Mazoon Electricity Company pada November 2017 silam sukses menjual 500 juta dolar menggunakan struktur ijarah bertenor panjang 10 tahun. Dananya untuk  mendukung kemudahan transmisi dan distribusi jaringan listrik.

Gelombang investasi bernuansa lingkungan berlanjut ke negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) lainnya serta wilayah regional Timur Tengah dan Afrika Utara (the Middle East and North Africa/MENA). Menurut rancana, green sukuknantinya akan diujicobakan di Turki dan selanjutnya direplikasi oleh negara-negara OKI yang terlebih dahulu dimulai pada negara-negara di wilayah MENA.

Menjanjikannya Green Sukuk di Eropa

Sudah 30 tahun praktik keuangan syariah menginjakkan perannya di benua Eropa, terutama perbankan syariah. Kini mereka juga mengincar sukuk lingkungan. Inggris, Luksemburg, dan Turki, misalnya menganggap sukuk hijau memiliki prospek cerah di masa yang akan datang, meskipun saat ini masih dalam tahap uji coba.

Dari temuan penelitian Deloitte Touche Tohmatsu bersama dengan International Shari’ah Research Academy for Islamic Finance (ISRA) tahun lalu terungkap bahwa prediksi tersebut bukan tanpa alasan. Di Inggris dan Luksemburg, para lulusan sarjana ekonomi syariah mengajak agar penerbitan sukuk disesuaikan dengan agenda pengembangan yang ramah lingkungan,

Rekomendasi tersebut direspon dengan baik dan ditindaklanjuti. Pihak pemerintah dan swasta di kedua negara, kini tengah bersemangat mengupayakan langkah stategis. Antara lain, memasukkan sistem finansial teknologi ke dalam perilisan green sukuk. @ 

Reporter: Emha Editor: Achi Hartoyo