Sharianews | Go-Pay Kok Haram
Kamis, 18 Oktober 2018 / 08 Ṣafar 1440

Go-Pay Kok Haram

Selasa, 4 September 2018 10:09
Go-Pay Kok Haram
-

Jual beli uang elektronik bisa menggunakan akad titipan yang tidak digunakan, titipan yang digunakan, jual beli manfaat, dan jual beli pesanan manfaat spesifik.

Jual beli uang elektronik bisa menggunakan akad titipan yang tidak digunakan, titipan yang digunakan, jual beli manfaat, dan jual beli pesanan manfaat spesifik.

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Ada Ustadz yang nenyatakan bahwa instrumen Go Pay pada Go Jek adalah haram karena transaksinya adalah Pinjaman dengan ada diskon yang diperjanjikan. Gimana menurut Ustadz?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Karim, tinggal di Jakarta.

Jawaban:

Saudara Karim yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi keuangan di Lembaga Keuangan Syariah saja. Amin.

Mohon maaf, saya tidak akan membahas secara khusus tentang produk tertentu dari perusahaan tertentu. Saya hanya ingin menyampaikan rumus Syariah dari penggunaan uang elektronik atau alat pembayaran online. Rumus ini berlaku untuk semua bentuk transaksi berbasis e-Money, Payment Point Online Banking (PPOB), alat pembayaran elektronik dan sejenisnya.

Tashowwur Akad

Sebelumnya, saya ingin menyamakan persepsi terkait alur dan bentuk (tashowwur) akad yang dimaksud, agar akurat dalam memberikan solusi dan simpulan.

Ada banyak kemungkinan jenis transaksi yang terjadi pada instrumen alat pembayaran elektronik. Namun saya hanya fokus pada transaksi antara pengguna dengan penerbit alat pembayaran elektronik. Di sinilah letak dugaan transaksi Riba terjadi.

Transaksi yang dimaksud dalam bahasan ini adalah ketika konsumen (pengguna alat pembayaran elektronik) menyetorkan dana sebagai pengisian atau top up saldo, dimana dana ini akan dipergunakan oleh konsumen untuk melakukan jual beli barang/manfaat secara online.

Menurut saya, ada dua alternatif akad yang bisa dipergunakan dalam transaksi alat pembayaran elektronik antara pengguna dan penerbit, yakni akad titipan dan akad jual beli. Kedua jenis akad ini bisa dipilih salah satu oleh pihak yang bertransaksi.

Akad Titipan

Jika akadnya titipan, maka ada dua kemungkinan, yakni titipan dana yang dananya tidak dipergunakan oleh penerima titipan dan tiripan dana yang dananya dipergunakan oleh penerima titipan.

Jika akadnya adalah titipan yang tidak dipergunakan oleh penerima titipan, maka ini bukan akad pinjaman. Dengan demikian, halal hukumnya jika ada syarat manfaat atau janji hadiah atau janji diskon bagi si pemberi titipan. Skema ini tidak menabrak larangan Riba pada Pinjaman.

Jika akadnya adalah titipan yang dipergunakan oleh penerima titipan, maka terjadi tahawwul aqd (pengalihan akad) dari akad titipan menjadi akad pinjaman, sehingga berlaku hukum pinjaman (qardh).

Akad ini tidak ada masalah jika tidak ada syarat manfaat bagi pemberi titipan. Jika ada syarat berupa hadiah atau bonus atau manfaat sejenisnya bagi pemberi titipan, maka terjadilah Riba, sebagaimana yang dinyatakan dalam Kitab I'anah ath Thalibin Juz 3 halaman 53:

واما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

Adapun (jika ada) pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pemberi pinjaman, maka (akad ini) fasid (rusak), berdasarkan Hadits "setiap pinjaman yang mengalirkan manfaat adalah Riba."

Akad Jual Beli

Jual beli pertama terjadi ketika konsumen beli semacam pulsa saldo uang elektronik (top up saldo) yang nantinya saldo tersebut bisa dipergunakan untuk transaksi.

Setelah saldo dibeli, berikutnya adalah transaksi Jual Beli Pesanan Manfaat Spesifik. Jual beli pesanan ini tentu ada pembayaran terlebih dulu. Saldo harus mencukupi.

Kebolehan transaksi ini tidak perlu dalil. Namun, Kitab Fathul Qarib halaman 30 menegaskan bahwa salah satu jenis jual beli yang diperbolehkan adalah

بيع شيئ موصوف في ذمة فجائز اذا وجدت الصفة على ما وصف به

Jual beli sesuatu (bisa berupa barang atau manfaat barang atau manfaat perbuatan) yang spesifikasinya sudah ditentukan dan penyerahannya nanti atau dalam tanggungan. Skema ini hukumnya boleh ketika barang atau manfaat yang dipesan bisa diwujudkan sesuai spesifikasi pesanan.

Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa jual beli uang elektronik bisa menggunakan akad titipan yang tidak digunakan, titipan yang digunakan, jual beli manfaat, jual beli pesanan manfaat spesifik.

Jika ingin menjanjikan hadiah atau diskon, gunakan skema titipan yang tidak digunakan atau jual beli manfaat (top up saldo) yang dilanjut dengan jual beli pesanan manfaat spesifik (ijarah maushufah fi dzimmah). (*)

 

ShariaCorner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin 

 



KOMENTAR

Login untuk komentar