Sabtu, 4 April 2020
11 Sha‘ban 1441 H
Home / Ekbis / Geliat Ekonomi Halal di Negara Minoritas Muslim, Indonesia di Mana?
FOTO I Dok. pexels.com
Sejumlah negara yang jumlah umat Muslimnya minoritas, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri berebut kue ekonomi halal global.

Sharianews.com, Berdasarkan data dari Global Islamic Economy Reports, perkembangan ekonomi halal global pada tahun 2020 akan mencapai 3,1 milyar dolar AS. Besarnya potensi tersebut, menjadi acuan bagi negara-negara di luar Organisation of Islamic Cooperation (OIC/OKI) untuk ikut membidik pasar halal dunia.

Sejumlah negara yang jumlah umat Muslimnya minoritas, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri berebut kue ekonomi halal global. Brazil misalnya, negara yang terletak di Benua Amerika tersebut, sudah mengklaim diri sebagai eksportir unggas halal terbesar ke Timur Tengah. Tetangga Indonesia, Australia juga tak luput membidik potensi tersebut dengan mem-branding dirinya sebagai negara pemasok daging halal ke Timur Tengah.

Meski sedang berusaha memerangi wabah virus corona yang membuat pertumbuhan ekonominya terpuruk, negeri tirai bambu, China pun tak mau ketinggalan. China mengklaim pasar halal domestiknya tumbuh 10 persen per tahun. Demikian pula dengan Hongkong, negara kota ini membidik sektor industri halal dengan memperbanyak restoran halal, menambah menu makanan halal, dan penyediaan fasilitas ibadah/musala bagi traveler Muslim.

Jika Anda pernah mengunjungi Thailand, tentu Anda merasakan betul mudahnya mencari makanan halal di Bangkok. Negara yang selama ini menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah bangsa Eropa, telah menargetkan diri untuk menjadi produsen makanan halal terbesar dunia.

Label halal dengan mudah ditemukan. Di sejumlah restoran dan di pusat-pusat perbelanjaan makanan halal mudah dijumpai. Thailand bukanlah negara dengan jumlah populasi Muslim yang besar. Negara tersebut hanya memiliki sekitar lima persen warga Muslim dari total penduduknya. Bahkan, Thailand sendiri memiliki visi untuk menjadi dapur halal dunia.

Demikian pula dengan Korea Selatan, negara ini mengampanyekan diri menjadi tujuan utama wisata halal dunia. Data dari Korea Tourism Organisation (KTO), Korea Selatan gencar melakukan promosi pariwisata halal terutama wisata kuliner halal melalui video-video yang menampilkan sejumlah restoran halal di negaranya. Tak lupa, Korea Selatan juga kerap menginformasikan logo halal di sejumlah restoran bagi traveler Muslim. Selain itu, Korea Selatan juga meningkatkan fasilitas ibadah/musala bagi umat Muslim.

Sedangkan tetangganya, Jepang, juga tak mau kalah. Negeri matahari terbit ini mengusung visi, industri halal menjadi tulung punggung ekonomi Jepang tahun 2020. Berdasarkan data dari Japan National Tourism Organisation (JNTO), Jepang juga tengah mengembangkan sektor pariwisata halal ramah melalui penyediaan fasilitas ibadah bagi traveler Muslim, oleh-oleh, dan kuliner halal.

Dalam peta ekonomi halal global, di mana posisi Indonesia? Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, peran Indonesia terhadap ekonomi halal global sedikit terlambat. Indonesia baru membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) pada 27 Juli 2017 melalui peraturan presiden no 91 tahun 2016.

Menurut perkembangan ekonomi syariah global yang dikeluarkan KNKS, Indonesia menduduki 10 besar industri halal dalam bidang pariwisata halal, busana Muslim, dan keuangan syariah. Laporan itu menyebutkan peluang yang terbuka untuk meraih pertumbuhan secara signifikan. Sejumlah sektor yang difokuskan pada laporan ini adalah makanan halal, keuangan Islam, produk halal, fashion, wisata ramah Muslim, serta media dan rekreasi bertema Islami. (*)

Achi Hartoyo