Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Global / Filipina Bangun Pusat Laboratorium Khusus Industri Halal
FOTO | Dok. food.detik.com
Filipia memulai langkah strategisnya membangun industri halal dengan membangun laboratorium khusus untuk pengembangan industri halal.

Sharianews.com, Jakarta. Pemerintah Filipina mulai tertarik dengan industri halal. Mereka pun memulai langkah strategisnya dengan sesegera mungkin akan membangun pusat laboratorium halal sebagai pendukung Departemen Sains dan Teknologi (The Department of Science and Technology/DOST) untuk memeriksa dan mengawasi produsen serta produknya agar sesuai dengan standar syariah.

Hal ini merupakan wujud intruksi otoritas Filipina langsung kepada DOST agar ikut terlibat meningkatkan dan mempromosikan komoditas halal di negaranya melalui berbagai inisiatif penelitian ilmiah. Di saat yang sama, langkah ini juga disambut baik oleh berbagai kalangan, khususnya oleh DOST sendiri.

“Kami mendukung seluruh Program Halal yang dipimpin Departemen Perdagangan dan Industri Filipina (The Department of Trade and Industry). DOST (diintruksikan) mengurus penyediaan fasilitas dan layanan uji laboratorium untuk memastikan bahwa makanan atau produk tersebut bebas dari komponen yang dilarang Islam, seperti babi dan alkohol,”ujar Sekretaris DOST, Fortunato T. De La Peña, dalam pesan teksnya pada Business Mirror.

DOST sekarang telah memiliki tiga laboratorium operasional yang telah menghabiskan biaya USD 37 juta untuk pengujiandan verifikasi beragam produk halal mulai dari makanan, kosmetik, obat-obatan, dan lain-lain. Namun, kata De La Peña, sampai saat ini pihaknya belum mempunyai bangunan khusus untuk penelitian tersebut.

“Selain itu, kami juga telah melatih staf teknis untuk mengerjakan proyek R&D [penelitian dan pengembangan] sebagai upaya pengembangan produk baru,”imbuh De La Peña.

Untuk perusahaan global

Direktur Regional DOST Dr Zenaida P. Hadji Raof-Laidan menambahkan, laboratorium yang dipimpinnya itu tidak hanya untuk membantu melayaniusaha mikro, kecil dan menengah serta perusahaan besar lokal dan nasional, tetapi juga bagifirmadi luar negaranya yang tertarik mengembangkan industri halal.

“Perusahaan-perusahaan asing sudah menghubungi kami, menanyakan apakah mereka juga dapat dibantu oleh kami. Untuk menunjang hal ini, kami masih membutuhkan banyak dana” ungkapnya.

Oleh karenanya, terang Laidan, lembaga penelitiannya berencana mengajukan kebutuhan penelitian tambahan kepada pemerintahsupaya dimasukkan dalam proposal anggaran untuk tahun 2019 mendatang. Bukan cuma itu, pihaknya juga akan mencoba meminta bantuan entitas lain dari negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Desain logo halal

Sebagai informasi, sejak lama pemerintah Filipina sebenarnya telah mengembangkan industri halal. Namun, usaha serius dari negara yang saat ini dijuluki ‘lumbung padi Asia Tenggara’ itu dinilai baru tampak saat meluncurkan logo halal pada tahun 2015 untuk menopang DOST agar lisensinya diakui oleh dunia internasional.

“Setidaknya, logo halal sebagai bukti suatu produk telah disertifikasi oleh kami, sekarang telah diakui di 57 negara anggota OKI, dan juga telah telah dipercaya oleh lembaga standar halal yang berbasis di Turki, yakni The Standards and Metrology Institute for the Islamic Countries(SMIIC),” tandas Laidan.

Adanya bentuk pengakuan ini, menurut Laidan karena segel mutu halal yang telah dibuat pihaknya juga mengadopsi dari logo yang telah didesain dan digunakan oleh negara-negara tersebut. (*)

Reporter: Emha S. Asror Editor: Ahmad Kholil