Sharianews | Fikih Jual-Beli
Kamis, 18 Oktober 2018 / 08 Ṣafar 1440

Fikih Jual-Beli

Jumat, 28 September 2018 15:09
Fikih Jual-Beli
Foto: Shabbir.in

Rukun dan syarat jual-beli harus terlebih dulu terpenuhi, sebelum masuk pada bab rela sama rela.

Secara bahasa jual-beli atau perdagangan dalam istilah fikih disebut al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, atau menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Secara etimologi, jual-beli adalah proses tukar-menukar barang dengan barang. Kata al-bai’ yang artinya jual-beli termasuk kata bermakna ganda yang berseberangan, seperti halnya kata syira’, baik penjual maupun pembeli dinamakan bai’un dan bayyi’un, musytarin dan syarin yang mengandung arti menjual sekaligus membeli atau jual-beli. Firman Allah dalam surah Al-Jumu’ah ayat 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diketahui bahwa jual-beli berasal dari kata jual dan beli. Kata jual artinya akad yang mengalihkan hak milik atas suatu barang dari pihak lama (penjual) kepada pihak baru (pembeli). Sedangkan kata beli artinya suatu persetujuan saling mengikat antara penjual dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga barang yang telah dijual.

Sedangkan secara istilah, terdapat beberapa definisi jual-beli yang dikemukakan para ulama fikih. Sayyid Sabiq mendefinisikan jual-beli dengan:

مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى سَبِيْلِ التَّرَاضِى, اَوْ نَقْلُ مِلْكٍ بِعِوَضٍ عَلَى الْوَجْهِ الْمَأْذُوْنِ فِيْه

Jual-beli adalah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan”.

Definisi lain dikemukakan oleh ulama Hanafiyah yang dikutip oleh Wahbah az-Zuhaili, jual-beli adalah:

مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَال عَلَى وَجْهِ مَخْصُوْصٍ, أَوْ مُبَادَلَةُ شَيْءٍ مَرْغُوْبٍ فِيْهِ بِمِثْلٍ عَلَى وَجْهٍ مُقَيَّدٍ مَخْصُوْصٍ

“Saling tukar-menukar harta dengan harta melalui cara tertentu atau menukar sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu”.

Definisi lain dikemukakan oleh Ibnu Qudamah (salah seorang ulama Makkiyah) yang dikutip oleh Wahbah Zuhaili, jual-beli adalah:

تَمْلِيْكًا وَتَمَلُّكً مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ     

“Saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan kepemilikkan”.

Dengan demikian bisa disimpulkan secara sederhana bahwa jual-beli adalah pertukaran antara harta dengan objek pertukaran berupa barang atau manfaat yang dijalankan sesuai prinsip syariat Islam dalam transaksi.

Dasar Hukum Jual-Beli

Dalil Alquran

Dasar hukum diperbolehkannya seseorang melaksanakan jula-beli adalah sebagai berikut:

Surah Al-Baqarah ayat 275:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

Alquran Surah An-Nisa ayat 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa [4]: 29)

Allah Swt. melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian dari mereka atas sebagian yang lain dengan cara yang batil, yakni melalui usaha yang tidak diakui oleh syariat, seperti dengan cara riba dan judi serta cara-cara lainnya yang termasuk ke dalam kategori tersebut dengan menggunakan berbagai macam tipuan dan pengelabuan. Hal ini menegaskan betapa pentingnya mencari nafkah dengan cara berdagang (jual-beli) yang memenuhi rukun dan syaratnya, kemudian dilengkapi dengan kerelaan antarpihak yang terlibat.

Dalil Hadits

Hadits Nabi Muhammad SAW:

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: (عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

“Dari Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya: Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda: "Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur (bersih)." (HR. al-Bazzar), Hadits shahih menurut Imam Hakim.

Hadits tersebut mengungkap bahwa pekerjaan yang hasilnya bisa dimiliki sebagai sumber penghasilan yang layak, halal dan baik dipergunakan untuk pemenuhan nafkah adalah pekerjaan seseorang yang dari tangannya sendiri, dari keringatnya sendiri, serta jual-beli yang tidak ada khianat, menghindari kecurangan dan kezhaliman. Secara sederhana, maksud mabrur dalam hadis di atas adalah jual-beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.

Ijma’

Ulama telah bersepakat bahwa jual-beli dan penekunannya sudah berlaku (dibenarkan) sejak zaman Rasulullah SAW hingga hari ini. Dengan demikian, jual-beli merupakan suatu perbuatan yang dibenarkan oleh agama dan tentu saja dengan dasar jual-beli yang tidak menyimpang dari aturan-aturan Islam. Pelanggaran-pelanggaran pada jual-beli akan terlihat ketika rukun dan syaratnya tidak terpenuhi atau ketika ada beberapa skema jual-beli yang merupakan hiilah (kamuflase) dari transaksi riba.

Rukun Jual-Beli

Rukun jual-beli menurut Hanafiah adalah ijab dan qabul yang menunjukkan sikap saling tukar-menukar, atau saling memberi. Atau dengan redaksi yang lain, ijab-qabul adalah perbuatan yang menunjukan kesediaan kedua pihak untuk menyerahkan milik masing-masing kepada pihak lain, dengan menggunakan perkataan atau perbuatan.

Jumhur ulama’ sepakat bahwa rukun jual-beli meliputi empat hal, yaitu:

  • Ada orang yang berakad atau al-muta’aqidain (penjual dan pembeli).
  • Sighat(ijab dan kabul), yaitu transaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak;
  • Ma’qudalaih(benda atau barang), yaitu sesuatu yang menjadi objek jual-
  • Ada nilai tukar pengganti barang.

Rukun dan syarat jual-beli ini harus terlebih dulu terpenuhi, sebelum masuk pada bab rela sama rela. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena ada sebagian kalangan menganggap bahwa transasi jual-beli itu dengan rela sama rela saja sudah cukup.

Syarat Jual-Beli

Adapun syarat-syarat jual-beli sesuai dengan rukun jual-beli yang dikemukakan oleh jumhur ulama adalah sebagai berikut:

Syarat orang yang berakad

  1. Berakal

Berakal dan mumayyiz (dapat membedakan), sehingga bisa membedakan dan menghasilkan kesamaan pendapat dengan pemikiran yang telah sempurna akalnya. Seperti Firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 5.

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. (QS. An-Nisa [4]: 5)

Berdasarkan ayat tersebut, jumhur ulama berpendapar bahwa orang yang melakukan jual-beli harus baligh dan berakal. Oleh sebab itu, jual-beli yang dilakukan oleh anak kecil yang belum sempurna akalnya dan orang gila itu hukumnya tidak sah, sekalipun mendapat izin dari walinya.

     2. Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Artinya, seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus sabagai pembeli.

Syarat Shighah

  1. Maksud shighah harus jelas dan bisa dipahami. Spesifikasi objek jual-beli manfaat yang dimaksud harus jelas, rinci, bisa dimengerti oleh pelaku akad.
  2. Ada kesesuaian antara ijab dan kabul. Ijab dan kabul harus sesuai dengan maksud dan tujuan akad. Hal ini untuk menghindari transaksi jual-beli yang gharar.
  3. Ijab dan kabul dilakukan berturut-turut, sehingga langsung bisa diketahui maksud dan tujuan akad.
  4. Keinginan melakukan akad pada saat itu. Pihak-pihak yang berakad memang memiliki keinginan berakad pada saat transaksi terjadi. Pihak yang bertransaksi tidak boleh dalam kondisi terpaksa atau tidak sadar.

Syarat Ma’qud ‘Alaih

Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan adalah sebagai berikut:

  1. Barang itu ada atau tidak ada di tempat tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu.
  2. Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat.
  3. Barang yang dijual harus milik penjual.
  4. Boleh diserahkan saat akad berlangsung atau pada waktu yang disepakati bersama ketika transaksi berlangsung.
  5. Barang dapat diketahui oleh penjual dan pembeli.

Syarat nilai tukar (harga)

  1. Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
  2. Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum, seperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar dikemudian (berutang) maka waktu pembayarannya harus jelas.
  3. Apabila jual-beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang, maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara’, seperti babi dan khamr, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara’. Begitu juga dengan objek jual-beli jasa, jasa yang diperjualbelikan juga tidak boleh jasa-jasa yang diharamkan syariat Islam, seperti jasa pelacuran, jasa kurir narkoba, dan sejenisnya. (*)
Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin


KOMENTAR

Login untuk komentar